PEMBALASAN DENDAM ISTRI PERTAMA (I Don'T Love You Anymore)

PEMBALASAN DENDAM ISTRI PERTAMA (I Don'T Love You Anymore)
BAB 181 MASIH POV HERDILAN "Menemui Mama Tasya"


__ADS_3

Menjadi kernet bis hingga pukul delapan malam adalah pekerjaan yang sangat melelahkan.


Ini kali pertamanya aku bekerja dengan sangat keras dan banting tulang. Tapi aku puas, meski hasil yang kudapatkan sangatlah minim.


Mendapat gaji sebesar lima puluh ribu dari bang Togar. Rasanya baru kali ini aku benar-benar menghargai uang.


Mampir sebentar ke supermarket untuk membeli bingkisan snack, lalu kembali ke pondok kayu pukul sembilan kurang.


Ini adalah perpisahan yang dramatis bagiku. Menuliskan dua kata "SELAMAT TINGGAL" lewat bingkisan ulang tahun. Dan berdoa dalam hati, semoga Dzakki jadi anak pintar. Yang baik dan dibanggakan kedua orang tuanya.


Anak itu masih sangat kecil. Semoga dia hidup bahagia di masa depannya. Itu doa tulusku pada anak itu.


Pukul sembilan malam aku benar-benar keluar dari pondok kayu. Berjalan lari menyusuri jalan yang telah sepi.


Mencoba menanyakan kembali kepada orang-orang yang pernah dekat tentang keberadaan Mamaku.


Tujuan pertamaku adalah Christian.


Biar bagaimanapun dia adalah kakakku. Meski kami hanyalah saudara tiri, tapi dalam tubuh kami mengalir darah yang sama. Yakni darah Papa Bambang.


Aku juga ingin melihat reaksinya mengetahui kalau aku sudah keluar dari penjara.


Bajaj yang kutumpangi meminta bayaran 25 ribu rupiah ketika sampai di perumahan elit Harmoni.


"Tadi katanya dua puluh!" protesku kesal.


"Ini lebih jauh dari yang saya kira, Mas!" kata supir bajaj membela diri.


Mau tak mau aku memberinya uang segitu. Setelah aku kerja jadi kernet, kini kutahu...susahnya mencari duit itu bagi kaum marginal atau kaum rendahan.


Uang lima ribu rupiah pun sangat berharga. Karena susah mencarinya.


Ting tong


Ting tong


Bel pagar rumah kak Chris kutekan dua kali.


Ini sudah pukul sepuluh malam. Semoga kedatanganku tak mengganggu istirahat malamnya.


Seorang pria paruh baya muncul kepalanya di balik pintu garasi.


"Cari siapa?"


"Mas Christiannya ada, Pak! Tolong sampaikan, saya Herdilan adiknya. Ingin ketemu!" seruku membuat bapak itu mendongak. Matanya menelitiku dari atas rambut hingga bawah kaki. Ia kembali menutup pintu seraya masuk lagi.


Hadeh... Biasa aja kali, Pak liatnya! batinku dalam hati.


Tak lama kemudian pintu pagar dibuka lebar.


"Silakan, Mas! Tuan Chris menunggu di dalam!" katanya dengan lebih sopan dan senyum malu.


Syukurlah! Kukira kak Chris akan mengusirku dari rumahnya.


Aku terhenyak, sepasang anak berdiri di depan pintu menatapku. Mereka yang dulu masih bayi, kini telah tumbuh menjadi anak-anak yang manis.

__ADS_1



"Om temannya Papa ya?" tanya yang perempuan.


"I-iya!" jawabku gugup. Mataku berkaca-kaca. Aku sangat senang melihat kedua anak kak Chris tumbuh dewasa. Pasti anakku juga ada di rumah ini! Terakhir kudengar kabar om Jo, Viona ada bersamanya.


"Masuk Om!" ajak anak yang laki-laki. Bahkan menuntun jemariku yang basah dan dingin.


Kak Chris berdiri di ruang tamunya. Ternyata, ia sedang menungguku.


....


....


Mata kami hanya bisa saling bertatapan. Mulutku gemetar tapi tak dapat mengucapkan kata-kata. Hanya diam dengan pandangan lekat menatap wajah kakak tiriku itu.


Kak Chris pun sama. Kami membeku untuk waktu yang sangat lama. Hanya mata kami yang bicara. Dari hati ke hati, dengan penuh kesadaran diri dan saling meminta maaf atas semua yang terjadi.


"Mas..."


"Sudahlah, Delan! Lupakan semua yang telah terjadi. Lupakanlah!" katanya membuatku salit pada kedewasaannya.


Dia memang tidak menerimaku secara gamblang. Dia tak memeluk tubuhku. Aku tahu, kami berdua canggung. Tapi bisa kurasakan dari tatapannya yang teduh, kalau kak Chris telah makin bijaksana.



"Dari kapan kau keluar?" tanyanya lembut setelah mempersilakanku duduk.


"Sudah beberapa hari yang lalu, Mas!"


Ternyata mereka masih hidup rukun dan damai! Aku salut juga. Pernikahan yang sempat kurutuk itu rupanya membawa berkah bagi keluarga kakak tiriku ini.



Mutia Permata Melody, makin cantik. Ia menatapku tajam. Membuatku menunduk malu.


Firman... andaikan kau masih hidup!


Aku teringat kak Firman. Sempat menghantuiku hingga membuatku mengakui kejahatanku menghilangkan nyawanya tanpa sengaja dan mendapat hukuman kurungan penjara lima tahun. Membuatku kini lebih bisa menilai kenyataan di balik semua fakta.


Aku mulai belajar akan arti kehidupan yang sesungguhnya.


Seperti kakakku ini, meski pernikahannya salah dimata orang termasuk penglihatanku. Namun jalan yang dipilihnya adalah jalan lurus dan jalan kebaikan. Tuhan rupanya menerima doa serta pengharapan Kak Chris dan Mutia. Hingga kehidupan rumah tangga mereka berjalan baik, pada akhirnya.


"Makanlah dulu, Lan!"


Aku termangu. Kakakku menarik tanganku. Mengajaknya masuk ke ruang tengah rumahnya. Dan Mutia istrinya telah menghidangkan makan malam untukku.


Sejujurnya tadi aku sudah makan nasi rames dari bang Tigor. Tapi demi menghormati kebaikan kakakku dan istrinya, aku duduk di depan meja makannya. Makan malam yang sangat nikmat dengan beberapa butir air mata menetes karena malu dan haru.


Malu pada kelakuanku yang bejat. Malu pada tabiatku yang jahat. Juga pemikiranku yang laknat.


Selalu berfikir buruk dan buruk. Tak ada sedikitpun kebaikan hati ini. Sebersih dan seputih hati kak Christian yang Mamanya seorang bidadari. Berbeda denganku. Karena Mamaku seorang setan.


"Delan...! Kau pasti ingin tahu keberadaan Mamamu!"

__ADS_1


"Iya, Mas!"


"Mamamu masih ada di RSJ. Kau bisa jenguk besok. Tapi ada satu syarat yang kuajukan!"


"Syarat? Apa?"


"Jangan lagi mengungkit masa lalu. Terutama soal Viona dan juga Jelita Lara. Karena Mamamu sudah berangsur-angsur sembuh!"


Aku makin terhenyak pada kebaikan kak Christian.


Hanya lelehan airmata serta ucapan terima kasih disela isak tangis keharuanku dipundaknya yang kokoh dan lebar.


Aku semakin malu.


"Tidurlah malam ini disini! Besok baru temui Mamamu! Aku sudah memberitahukan kedatanganmu pada Dokter yang merawat tante Tasya!"


Makin bercucuran airmataku. Tak bisa lagi berkata apa-apa.


Istrinya tak berkata sepatahpun. Hanya berlalu masuk kamar menina-bobokan putra-putri mereka.


Dan malam ini aku tidur di kamar tamunya yang mewah dengan ranjang tidur yang empuk. Membuatku tidur dengan sangat lelapnya.


..........


Mama menatapku tak percaya. Matanya perlahan basah. Ia menghambur kepelukanku. Mengusap-usap tubuhku yang terlihat kurus.


"Herdilan Firlando-ku tersayang!" katanya membuatku sangat senang.


Terakhir kali aku menyambangi Mama, Mama sangat shock hingga mentalnya ambruk.


Tapi kini, keadaannya terlihat sangat baik sekali. Tasbeh berwarna putih tulang, menjadi gelang ditangannya.


"Mama! Mama...!"


Aku memeluknya erat. Mencium punggung lengannya berkali-kali. Kami tersenyum meski banjir airmata.


"Aku akan menjemput Mama! Aku ingin kita tinggal bersama. Tapi nanti, Ma! Setelah aku kerja. Doakan aku ya, Ma? Semoga mas Chris mau berbaik hati memberiku pekerjaan, ya Ma!?"


"Delan! Berterima kasihlah banyak-banyak pada Christian! Dia yang membiayai hidup Mama selama ini. Belajarlah dari dia. Belajar banyak semua kebaikannya!"


"Iya, Ma! Aku sadar, jalan hidup kita yang lalu sangatlah buruk. Pemikiran kita dimasa lalu tidaklah baik. Tuhan tidak menyukai tingkah kita yang dulu!"


Mama menggenggam erat kedua tanganku. Dikecupnya beberapa kali hingga tiba-tiba... mata ini menangkap sesosok tubuh mungil, tinggi semampai di halaman rumah sakit.


Viona! Ya... Itu Viona!


Aku segera beranjak. Ingin mengejar perempuan yang pernah ada di hati ini, bahkan sampai saat ini.


"Delan mau kemana?" teriak Mama kaget melihatku berlari.


"Sebentar, Ma! Nanti aku kembali!" jawabku juga setengah teriak.


Aku ingin menemui Viona, Istri pertamaku.


...❤❤❤BERSAMBUNG❤❤❤...

__ADS_1


__ADS_2