PEMBALASAN DENDAM ISTRI PERTAMA (I Don'T Love You Anymore)

PEMBALASAN DENDAM ISTRI PERTAMA (I Don'T Love You Anymore)
BAB 66 Masih POV Delan


__ADS_3

Aku hanya bisa menangis dalam diam di bawah kucuran shower air hangat kamar mandiku.


Tok tok tok


Tok tok tok


"Maaaas... Koq mandinya lama banget!"


Terdengar suara Lady mengetuk pintunya berkali-kali.


Ini sudah pukul tujuh malam. Dan aku belum mendapat kabar kepastian di mana Viona kini berada. Bagaimana bisa aku setenang ini?


Hanya hatiku sendiri dan Tuhan yang tahu, kegalauan yang kini sedang melanda.


Aku mencintai Viona dengan semua kelebihan dan kekurangan yang ada pada dirinya. Aku juga mencintai dia yang mau menerimaku apa adanya. Bahkan setahun berumah tangga, tak pernah sekalipun ia menekan menanyakan apapun yang sekiranya aku tak mau ceritakan. Bahkan rahasia operasi plastik wajahku dimasa SMP, dia pun tak tahu.


Aku keluar kamar mandi, setelah merasa menggigil juga berlama-lama di dalam sana meskipun dengan air hangat bertemperatur 37 derajat Celcius.


Lady mengajakku bercengkerama, responku hanya senyum mengangguk. Itu-itu saja. Bahkan Lady mengajakku bercinta. Dan untuk pertama kalinya aku menolak himpitan tubuhnya yang molek.


Entah kenapa. Aku tak punya gairah sama sekali. Padahal dengan sangat cueknya, istri keduaku itu membiarkan tubuh mulusnya yang polos hanya menjadi lalapan mataku.


"Mas, kenapa? Tumben? Kamu sakit ya? Koq, engga' 'bangun'?"

__ADS_1


Aku tersenyum mengangguk. Entah mengapa. Di mata ini kini Lady seperti seonggok daging terbalut kulit putih yang bening saja. Seperti tak merangs*ng nafs* untukku me'makan'nya seperti biasa.


Padahal perutnya pun masih bagus. Belum terlihat buncit, layaknya perempuan hamil tiga bulan. Apa memang karena masih tiga bulan?


"Lady! Perutmu masih belum membesar! Bagaimana... kalau kita gugurkan saja bayi ini?"


Entah mengapa, aku dengan sangat entengnya mengeluarkan kalimat itu. Yang membuat Lady cemberut marah padaku.


"Jadi... sedari tadi kamu memikirkan banyak hal termasuk ingin menggugurkan bayi yang ada dalam rahimku ini, Mas?"


Aku diam tak menjawab.


"Kamu masih mikirin si Viona itu? Iya khan? Mas? Kenapa diam? Jawab, Mas!"


"Iya! Dia itu istriku, Lady!" jawabku akhirnya dengan ketus.


Shiit! Mama! Untuk apa Mama menceritakan semua kisahku pada perempuan ini? Haish! Hhh...


Aku diam. Itu lebih baik daripada berdebat mulut dengan Lady Navisha. Membikin otakku tambah panas saja.


Lady menangis. Terisak dipembaringan kami dalam keadaan tak berpakaian. Sesekali selimutnya tersingkap membuat separuh tubuhnya terlihat olehku.


Aku harus berfikir normal juga. Kalau kubiarkan Lady terus seperti ini, tubuhnya bisa sakit karena masuk angin.

__ADS_1


Aku mengambil gaun tidurnya yang sedikit agak tebal.


"Lady... pakai bajumu! Nanti kamu masuk angin!"


Perempuan itu hanya menangis dengan tubuh tertelungkup. Membuatku perlahan luluh, mengusap-usap punggungnya pelan.


"Sayang... pakai dulu pakaianmu! Ayolah, kasihan bayi kita kedinginan!"


"Maaas..." Lady bangun dan langsung memelukku. Menangis keras di dadaku sambil memukul-mukul bahu ini.


"Aku hanya ingin cinta dan kasih sayang, Mas! Hik hik hiks... apa itu salah? Aku ingin di sayang semua orang! Aku ingin di cintai olehmu juga Mama! Aku tak peduli statusku meskipun aku hanya di jadikan yang kedua. Tak apa-apa, Mas! Tapi hargailah perasaanku juga! Kamu memikirkan Viona terus, itu sama artinya tak menghargai perasaanku! Huaaa hik hik hiks," tangisan Lady membuatku mengurai rambut coklatnya yang panjang.


"Kamu sadar pada apa yang kamu ucapkan, sayang? Kamu... ah, sudahlah," percuma kujelaskan juga kalau sesungguhnya ialah yang telah 'mengurung' hati dan diri ini bersamanya. Bukan Viona. Dan dialah yang selalu ingin menguasaiku sepenuhnya, bukan Viona sang istri pertama.


Kini aku semakin memahami, betapa sulitnya berpoligami. Selain harus menanggung semua permasalahan dengan fikiran jernih dan dewasa, aku sebagai kepala keluarga tentunya dituntut untuk 'adil dan merata' pada semua istriku.


Haruskah aku memceritakan persoalan pernikahan keduaku ini pada Papa Bambang? Papa lebih faham soal ini. Aku harus segera berbicara empat mata dengan Papa, meskipun konsekuensinya papa pasti akan marah karena aku sengaja menyembunyikan 'aib'ku ini dari semua orang termasuk Papa. Hanya Mama saja yang tahu.


Aku membiarkan Lady membuaiku dengan gerakan gemulainya memancing birah* ini.


Kelemahan lelaki, pasti kalah oleh rayuan manis wanita.


Alhasil... Lady kembali menguasai diri ini lagi.

__ADS_1


Memang benar, itu adalah kelebihannya. Tidak seperti Viona, istri pertamaku yang tak pernah mau memulai lebih dulu. Dan aku akui, aku kalah menahan nafs*. Kuakui, aku tipis iman.


...❤❤❤BERSAMBUNG❤❤❤...


__ADS_2