
"Viona! Apa benar kamu mengajukan surat pengunduran diri dari pekerjaanmu pada bagian pesonalia?"
Aku mengangguk, mengiyakan pertanyaan dokter Diandra.
"Kenapa?"
"Hanya saya rasa sudah saatnya saya keluar dari pekerjaan ini!"
"Bukankah kamu suka pekerjaan ini? Kamu pernah bilang, ini pasionmu!"
"Tapi bukan berarti harus stuck di rumah sakit ini, Dok! Hehehe..., maaf jika saya mengecewakan Dokter Diandra yang telah merekomendasikan pada pihak rumah sakit."
"Hhh..."
Helaan nafasnya membuatku menunduk diam.
"Pasti karena kejadian yang menimpa ibu Tasya kemarin lusa itu ya?"
Aku menatap dokter Diandra. Tersenyum tipis tak ada niatan menjawab pertanyaannya.
"Kalau kamu melepas pekerjaan ini, lantas apakah ada rencana lain? Maaf kalau saya terkesan terlalu ikut campur pada urusan Viona!"
"Saya mau selesaikan dulu kuliah saya. Baru setelah itu kembali fight melanjutkan kerja, Dok!"
"Hm... begitu ya!?"
Lagi-lagi hanya senyuman kecil saja yang jadi jawabanku.
Untuk saat ini aku tak mau salah berkomentar. Terlalu banyak netizen juga haters diluar sana yang khawatir jadi orang pintar mengguruiku agar lebih baik lagi. Hhh... Beginilah nasib jadi janda muda yang punya banyak masalah!
"Jadi ini hari terakhirmu kerja, Viona?"
"Begitulah kira-kira, Dok! Saya secara pribadi mengucapkan banyak terima kasih atas kebaikan dokter dan juga bantuannya selama ini. Tanpa support juga dukungan dokter Diandra, saya tidak bisa bekerja dengan baik."
__ADS_1
"Kamu beneran yakin mau resign?"
"Hehehe...! Nanti sore pukul empat, saya sudah pesan tempat di kantin rumah sakit. Saya ada niatan mentraktir teman-teman nakes makan bakso mas Rudy! Dokter bisa gabung sama-sama nanti. Sebagai rasa syukur saya, karena bisa kenal teman-teman semua di rumah sakit ini!"
"Jam empat ya?"
"Iya. Semoga Dokter berkenan hadir!"
"Baiklah, nanti saya sempatkan ikut acaranya Viona!"
............
Tekadku sudah bulat. Resign atau berhenti dari pekerjaanku sebagai seorang konsuling di RSJ.
Aku akan membenahi hidupku. Lulus kuliah, membawa putraku pergi, pindah ke luar pulau.
Memulai hidup baru dengan bekal uangku sendiri yang kupunya dari hasil jual butik, rumah, mobil yang kusimpan di tabungan berjangka.
Tapi kalau bukan, ya... berarti bukan rezeki.
Treeet... treeet... treeet
Kak Christian menelponku. Pasti dokter Diandra yang mengabarinya soal surat resign-ku.
...[Hallo, assalamualaikum Viona!]...
"Waalaikumsalam, Kak Chris! Apa kabar?"
...[Baik, Vi! Bisakah setelah pulang kerja kita ketemuan?]...
"Jam berapa, Kak? Viona masih ada janji sama teman-teman kalau jam empat!"
...[Kamu bisanya kapan?]...
__ADS_1
"Hari ini pukul tujuh, Vi juga harus ke kampus sebentar. Cap lima jari, Kak!"
...[Oiya. Wisudamu minggu depan ya?]...
"Dua minggu kurang, Kak! Jadi Viona masih agak sibuk. Tapi besok Vi bisa main ke rumah kak Chris, koq! Mau ketemuan juga sama kak Mutia dan Fika!"
...[Oh...ya sudah! Besok saja kita ketemuannya di rumah. Ya udah, sampai ketemu nanti ya Viona. Assalamualaikum]...
"Waalaikumsalam!"
Klik.
Aku menghela nafas pendek. Aku merasa dada agak sesak. Semua orang menyayangkan keputusan resign yang kuambil.
Sebetulnya aku pun tak ingin melakukan itu. Tapi apa daya, keadaan memaksaku untuk segera pergi dari ibukota.
Delan sudah bebas dari penjara. Cepat atau lambat pasti akan mencari Dzakki putraku. Dan aku tak ingin pertemuan mereka jadi kenyataan.
Aku bingung. Gugup serta cemas. Jika memikirkan pertemuan Delan dan Dzakki nanti.
Apakah aku salah, jika memiliki kekhawatiran yang berlebihan seperti ini?
Apa aku juga terlalu lebay jika terlalu cemas hanya karena Herdilan telah bebas dan mencariku juga Dzakki?
Bagaimana seharusnya aku?
Tenang?
Diam?
Dan santai dengan hati *go with the flow?
...❤❤❤*BERSAMBUNG❤❤❤...
__ADS_1