PEMBALASAN DENDAM ISTRI PERTAMA (I Don'T Love You Anymore)

PEMBALASAN DENDAM ISTRI PERTAMA (I Don'T Love You Anymore)
BAB 222 IN FRAME "Dzakki Sedih, Ayah Roger Kembali Ke Surabaya"


__ADS_3

"Jangan lupa diminum obatnya, Yang!"


"Aku sudah sembuh, Yang! Terlalu sering minum obat kimia juga tak baik bagi kesehatan!"


"Tapi demam kamu bisa kembali datang, Sayang!"


"Itu karena kemarin aku hujan-hujanan, jadi kena virus auto imunku. Jangan khawatir, Sayang! Sering-seringlah menelpon aku. Aku pasti akan sehat selalu sampai kita ketemu lagi tiga minggu kedepan!"


"Dasar, ish...kamu tuh ya! Hehehe..."


Dzakki hanya diam memperhatikan perdebatan manis Ayah dan Maminya.


Raut wajahnya terlihat sendu. Dzakki sedih, Ayahnya akan kembali ke Surabaya.


Roger menggendong tubuh Dzakki yang semakin besar.


"Kenapa Dzakki sedih? Hm?"


"Ayah! Dzakki ingin kita tinggal bersama!" jawabnya pelan.


"Pasti, Sayang! Dua bulan lagi kita akan tinggal bersama. Dzakki bisa tidur sama Ayah juga Mami! Kita bisa tidur satu kamar, dua bulan lagi! Sabar ya, Nak!?"


Roger memang telah berjanji, akan mengucap janji suci setelah masa kontrak kerjanya di Surabaya berakhir.


Viona sendiri menyetujui. Meski belum bisa memastikan, dimana mereka akan menikah nanti.


Kini dia harus bertahan menunggu Roger.


Tapi entah mengapa, perasaannya juga kian resah. Rasa rindunya mulai merebak, padahal sang kekasih hati belum beranjak pergi.


"Cepat kembali!" pintanya membuat Roger tertawa ikut galau.


"Haduh, anak sama Mami kompak ini. Jangan bikin hati Ayah tertinggal di sini semua! Nanti kerjaan Ayah bisa kacau, Sayang!"


Roger mencium pipi Dzakki. Ia juga mengusap poni Viona lembut.


"Baik-baik ya kesayanganku! Ayah akan kembali menemui kalian! Pastilah! Ayah titipkan separuh nafas Ayah pada Dzakki! Jaga Mami baik-baik. Jadi anak yang penurut ya Sayang!?"


Dzakki diam. Sorot matanya mengandung kesedihan.


"Andai Ayah bisa melepas pekerjaan Ayah. Tapi tidak bisa. Ayah sudah teken kontrak sampai akhir bulan Juni. Please, Sayang! Ayah pun tak ingin meninggalkan kalian!"




__ADS_1


Ini adalah pelukan perpisahan pertama mereka yang mengharukan. Bulan-bulan yang lalu tidak seperti ini.


Dan Viona juga tidak meratapi kepergian Roger pergi kembali untuk tugasnya di Surabaya.


"Hati-hati di jalan, ya? Jangan lupa doa!" pesan Viona membuat Roger kembali memeluk tubuh wanita yang kini telah ia serahkan seluruh cinta dan kasihnya itu.


"Bye, Sayang!"


"Bye... bye Ayah!"


Roger tersenyum tipis. Dzakki dan Viona masih menatapnya di gerbang depan villa. Seolah tak mau melepaskan kepulangannya ke Surabaya.


Tuhan Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang! Kumohon jaga mereka selalu. Lindungi mereka selalu! Aamiin...


.............


Hari berlalu seperti suram kembali.


Bahkan semangat Dzakki untuk pergi sekolah pun semakin turun drastis.


Walau setiap malam ia masih menerima panggilan video dari Ayah tercinta, namun tak serta merta membuatnya bergairah dalam urusan sekolah.


Ternyata... Dzakki mengalami pembullyian di sekolahnya. Yang membuatnya enggan masuk sekolah.


Meski masih Taman Kanak-Kanak, ternyata ada juga pembullyan disana. Itu terjadi karena Dzakki masuk sekolah pertengahan tahun. Sehingga dianggap sebagai murid baru yang wajib diplonco dan dikerjai oleh murid yang lebih dulu ada.


"Tidak ada!"


"Bohong kamu! Sini tasmu!"


Dzakki sebenarnya anak yang pemberani. Ia juga memiliki dasar-dasar bela diri. Namun ia memilih untuk diam dan membiarkan para temannya senang membullynya.


Seperti saat ini.


Ia digeledah oleh empat anak laki-laki. Mereka mencari uang jajan Dzakki yang sengaja ia simpan di dalam kaos kaki.


"Dasar anak bodoh! Mana uang jajanmu?" tanya seseorang seraya mendorongnya sampai mundur mengenai dinding kelas.


Dzakki lagi-lagi menggeleng.


"Kamu yang anak bodoh! Kamu terlalu banyak jajan, jadi bodoh! Bukan Dzakki yang bodoh!"


"Apa kamu bilang?"


"Sudah, ikat saja tangannya di kursi itu, Xian!"


"Iya betul tuh! Anak songong ini harus dikasih pelajaran!"

__ADS_1


"Yang memberi pelajaran itu miss Eliza, bukannya kalian! Memangnya kalian guru?" tukas Dzakki semakin membuat mereka marah dan merangsek tubuh Dzakki.


Kali ini Dzakki tak tinggal diam.


Ia melawan dengan kekuatan tenaga dalamnya hingga ke-empat teman lelakinya itu berjatuhan.


Tapi salah seorang dari mereka mengeluarkan mistar besinya yang berukuran 30 centimeter itu.


"Hei, jangan pakai senjata. Tidak boleh curang!" teriak Dzakki kesal.


"Sama penggaris pun kau takut! Dasar banci!"


"Siapa banci? Kalian! Karena mainnya keroyokan!"


Tubuh Dzakki mereka pegangi hingga si pemegang penggaris yang tubuhnya lebih besar dari Dzakki berhasil melukai pelipisnya.


Tentu saja Dzakki jadi kalap dan memukul mereka satu persatu sampai jatuh.


"Kyaa... dia bisa silat!" pekik yang satunya nyaris menangis menahan nyeri di wajahnya.


Tapi ternyata seorang yang bertubuh tambun itu mengeluarkan sesuatu...


Pisau cutter!!!


Dan...


Sreeet


Ia menorehkannya tepat di urat nadi Dzakki yang fokus pada satu anak yang hendak menyerangnya dari belakang.


Darah segar muncrat dan mengucur banyak.


"Xian!! Kenapa kamu pakai cutter betulan?"


"Lariii... Lariii!!!" teriak yang satunya lagi ketakutan. Diikuti ketiga temannya yang lain.


Tinggal kini Dzakki seorang diri dengan tangan berlumuran darah.


Dakki mencoba menekan atas nadinya yang terluka. Berlarian menyusuri lorong sekolah menuju ruang guru.


"Madam Auroraa!!! Tolong!!!"


Dzakki berteriak meminta tolong. Beberapa temannya bergaduh melihat darah berceceran dari pergelangan tangan Dzakki.


"Ya Tuhan!!!"


Madam Aurora berteriak histeris. Tak lama kemudian Dzakki jatuh pingsan. Bocah itu dibawa oleh para guru segera ke rumah sakit.

__ADS_1


__ADS_2