PEMBALASAN DENDAM ISTRI PERTAMA (I Don'T Love You Anymore)

PEMBALASAN DENDAM ISTRI PERTAMA (I Don'T Love You Anymore)
BAB 85 SEMUA TERASA MENYENANGKAN BERSAMA JONATHAN LORDESS


__ADS_3

Seperti benar-benar pasanganku saja, kak Jo mengurusku dengan sangat baik di kala mengalami mual dan muntah akibat dari mabuk kehamilan yang kualami atau di sebut juga emesis gravidarum.


Kak Jo memberiku pijatan lembut di bahu belakangku setelah membalurnya dengan minyak kayu putih. Lalu air putih hangat guna menetralisir kerongkongan yang terasa pahit setelah mual muntah.


"Sebaiknya kita tidur satu ruangan saja ya, Vi? Khawatir kamu muntah-muntah malam hari, pusing sakit kepala sendirian. Gimana? Gak papa khan kalau aku menemanimu di kamar ini?"


Jujur aku gugup sendiri mendengar ucapan kak Jo. Biar bagaimanapun dia laki-laki. Usia dewasa dan pernah menikah.


Pastinya juga memiliki hasrat naluri laki-laki layaknya melihat wanita. Agak ragu dan nervous tuk jawab 'iya'.


Tapi kak Jo pernah menemaniku semalaman sewaktu pingsan cukup lama setelah terjun bebas ke dalam sungai beberapa waktu lalu. Bahkan kak Jo juga yang membawaku kerumahnya bersama bang Kenken bawahannya. Mungkin juga tubuh ini sudah ia pegang dan gendong saat itu. Hhh...


Akhirnya aku mengangguk.


"Jangan khawatir, aku bisa tidur di sofa, Vi!"


"Hehehe... kakak sepertinya bisa baca isi hati Viona!" tukasku malu-malu kucing.


"Aku ini sudah berumur nyaris dua kali lipat dari umurku. Otomatis asam garam, pahit manisnya kehidupan sudah cukup banyak kurasakan. Aku tahu, kamu takut terjadi sesuatu seperti di film atau novel-novel percintaan. Iya khan?"


Aku tertawa, malu sendiri.


"Hari ini aku agak ga enak perut, Kak! Kalau kakak mau keluar,... ga apa koq aku sendiri di losmen! Nanti kalau sudah lebih sehat, aku pasti japri atau telepon kakak!"


"Ga apa, Vi! Aku juga hari ini stay di rumah saja. Istirahat sehari tak apa khan?! Baca novel, dengerin musik... sama juga termasuk healing!"


Aku mengangguk. Suka juga pada pemikiran kak Jo yang santai.


Mengobrol santai banyak hal, mulai dari film, lagu kesukaan, bacaan novel bahkan hingga kisah masa lalu tanpa sadar membuat kami semakin dekat dan akrab.


Aku yang duduk di atas ranjang kayu, sementara kak Jo duduk di atas sofa. Kami tertawa bersama, kadang serius kadang bercanda. Benar-benar mengalir lancar tanpa hambatan.


__ADS_1


Usia dewasa membuat kak Jo bisa mengikuti alur obrolan menjadi menyenangkan. Bahkan ia mampu membuatku nyaris melupakan kesakitan hatiku untuk sesaat.


"Hei pujaan hati, apa kabarmu. Kuharap kau baik-baik saja. Pujaan hati, andai kau tahu. Kusangat mencintai dirimu..."


"Ish lagu jadul Kangen Band!"


Aku tertawa terkikik. Kukira kak Jo lebih menyukai lagu-lagu badas ternyata... band-band favoritnya rata-rata lokal semua. Bahkan nyaris semua lagu Kangen Band, Wali sampai Band-Band Indie kak Jo hafal.


Kami tertawa bersama, bernyanyi berdua tak pedulikan suara kami yang tak enak di dengar. Semua lagu kami babat habis lewat aplikasi smartphonenya yang di bluetooth ke music player.


Benar-benar hari yang menyenangkan, meskipun hanya nyanyi-nyanyi di losmen. Tapi senyuman tak lepas dari bibir kami masing-masing.



Hingga tiba-tiba,


Tok tok tok


Tok tok tok


Kak Jonathan membukakan pintu kamar.


"Ayo, Vi... Segera berkemas! Kenken sudah menjemput kita!"


"Berkemas?"


"Ya. Kita otewe kembali pulang ke Ibukota!"


"Baru juga dua hari di sini?"


"Hehehe... Kita pending ke Borobudur dan Prambanannya! Aku ga mau kenapa-napa dengan calon bayi yang ada dalam kandunganmu. Yuk, pulang!"


Aku terhenyak. Kak Jo mengurusku dengan sangat telaten. Kini bahkan ranselku yang isinya sudah berantakan di atas meja dekat ranjang pun, beliau yang merapikan.

__ADS_1


Mas Kenken mengangkat ranselku dan kak Jo lebih dulu. Memasukkannya segera ke dalam bagasi. Sementara kak Jo dengan setia menungguku keluar dari kamar mandi, untuk mengganti pakaian.


"Sudah?" tanyanya lembut, langsung mengambil paperbag yang berisi pakaian gantiku yang tadi di pakai.


Tangannya merangkul bahu kecilku dengan sigap.


"Kakak..."


"Hehehe...! Biarkan aku merawatmu, Viona! Izinkan aku menjadi pria berbahagia walaupun itu kamuflase saja! Boleh ya?"


Aku tersenyum menunduk.


Sejujurnya sikapnya yang sedikit berlebihan itu kupandang justru sangatlah manis.


Kak Jo bukan saudaraku, juga bukan suamiku. Tapi sikapnya memanjakan dan merawatku terlihat begitu tulus hingga melting hati ini.


Aku yang sedari muda dulu selalu menjaga jarak dengan para pria, terlebih yang sama sekali tak memiliki hubungan apapun denganku. Pasti respon sok akra**b mereka itu kupandang sebelah mata. Mereka hanyalah berusaha mendekat. Tapi balasanku, langsung menjauh dan tak merespon perhatian mereka.


Berbeda sekali dengan kak Jo. Ia tak mengungkapkan kata-kata cinta yang manis bak pujangga. Tapi perlakuan tulusnya itu membuatku tak bisa menolak apalagi menjauhi kak Jo.


Aku nyaman bersamanya. Walau tiada status apapun. Atau mungkin perasaan ini layaknya adik ke kakak, begitu sebaliknya.


Kendaraan yang di bawa mas Kenken ternyata sudah dimodif sebelumnya untuk membuatku nyaman duduk manis selama sembilan-sepuluh jam.


Ada kasur busa yang sangat empuk dan nyaman di kursi belakang. Aku bisa rebahan pula jika pegal-pegal. Kak Jo benar-benar membuatku terharu.


"Tidurlah! Istirahat yang nyaman!" kata kak Jo. Meski seperti 'perintah' namun justru terdengar manis karena jemarinya yang besar tapi lembut itu mengelus-elus dahiku pelan. Membuat mata ini mengantuk.


"Lambatkan lajunya, Ken!" ujar kak Jo dengan suara lebih pelan.


Dan seketika aku terlelap tidur mengarungi alam mimpi.


...❤❤❤BERSAMBUNG❤❤❤...

__ADS_1


__ADS_2