
Herdilan kembali memasukkan ponselnya kedalam kantong celana. Lalu berusaha mengejar Viona yang berlarian mengejar gulungan riak ombak.
"Sayang, tunggu mas mu ini!" teriaknya dengan suara dibuat manja.
"Hahaha... sini, Mas!"
Keduanya berlarian dengan tertawa lepas.
Cinta yang membingungkan kini untuk mereka berdua. Karena Viona sampai saat ini masih merasa, Herdilan adalah suaminya yang paling sempurna. Padahal...
"Mas, lihat! Ada anak penyu!"
"Wah, iya Vi! Mereka sepertinya akan beranjak ke lepas pantai untuk menemui sanak famili dan orangtua mereka kembali."
"Iya. Senangnya ya? Kumpul bersama keluarga!"
"Iya..."
Keduanya terpaku memandang barisan anak-anak penyu yang rapi berjalan di hamparan pasir putih menuju riak ombak yang datang menghampiri tepian pantai.
"Mas..."
"Ya?"
"Kamu pasti sedih ya, kita tak lagi serumah sama Mama Tasya?"
"Hm... Sekarang gak gitu, Vi!"
"Mama suka ngomongin aku gak? Maksudku... aku ini menantu yang tidak bisa beliau andalkan!"
"Tidak tuh! Mama itu ya begitu, Vi sifatnya. Maklumin aja ya? Maafin mama juga kalau sifat kekanakannya kadang membuatmu susah."
"Bukan begitu, Mas! Mama orang yang baik. Sama seperti ibuku!"
"Tidak sama, Viona! Ibumu benar-benar ibu sejati yang sangat mengerti anaknya sendiri. Sedangkan Mama... Entahlah! Sejak aku kecil, ya begitu itu sifatnya! Kadang susah ditebak maunya apa. Susah dikendalikan juga! Aku sih sudah terbiasa dengan sifat Mamaku! Kamu yang sabar ya, dalam menghadapi Mama!"
Viona tersenyum.
Viona! Andaikan kamu tahu... kini aku seperti Papaku. Papa Bambang! Aku... telah mengucap janji suci dengan perempuan lain, yaitu sahabatmu sendiri. Hhh...
Aku sendiri tak faham akan jalan hidupku yang tiba-tiba seperti ini. Aku... yang dulu sangat membenci Papa karena sikap diamnya yang tak bisa mengambil keputusan dengan menikahi mamaku juga sedangkan ia terikat pernikahan dengan wanita lain juga.
Dulu aku begitu marah pada Papa. Amat teramat sangat marah. Tapi kini... Justru aku menjalani kehidupan yang sama dengan Papa
Apakah ini karma?
Herdilan sangat ingin membuat Viona istri pilihannya bahagia. Tapi apa mau dikata. Ada perempuan lain yang hadir dan ternyata kini sedang mengandung darah dagingnya.
Mamanya, yang semula begitu murka dan mengutuk perbuatannya dengan Lady yang terpergok itu kini hanya bisa pasrah. Justru seolah menjadi benteng dengan menikahi keduanya diam-diam tanpa sepengetahuan Viona serta menampung Lady di istana besarnya.
Hidup macam apa kini yang harus Herdilan jalani.
Apakah permainan cinta ini akan segera berakhir? Ataukah... ia akan seperti Papanya bertahun-tahun menjadi pembohong bagi keluarganya sendiri.
Herdilan memijit pelipisnya yang terasa sakit.
Lalu ia teringat pada pesan yang masuk tadi di hapenya.
Segera tangannya sigap mengambil handphone serta menghapus pesan "NYONYA KEDUA" serta panggilan telepon dari "NYONYA KEDUA" itu.
Ufh... Aman!
Malam bersama Viona dihotel membuat Herdilan senang.
__ADS_1
Sejak sore tadi menghapus pesan Lady, Ia sengaja mematikan ponselnya. Berharap tak ada 'gangguan' yang memicu kecurigaan Viona kalau kemaren sesungguhnya ia telah menikahi Lady Navisha di rumah paman artis talentnya itu.
Dan ia masih pusing belum bisa memutuskan langkah selanjutnya untuk karier Lady alias Jelita Lara selanjutnya.
Apakah akan menutupi kehidupan artis baru itu dengan menjadikan simpanannya dan siap mendanai biaya hidup Lady sepenuhnya, atau... membiarkan Lady sementara waktu berkembang dengan kariernya sampai perutnya terlihat buncit dan jadi gossip para netizen.
Delan hanya bisa menutupi wajah dengan kedua telapak tangannya. Bingung.
Mama Tasya memberi pandangan, jika Lady ingin mempertahankan anak yang dalam kandungan, maka mereka harus bisa menekan rasa. Harus mampu menjadi pribadi kuat, tahan bantingan kiri kanan seperti beliau dahulu.
Pilih anak, konsekuensinya karier keartisan meredup. Atau setidaknya, menghilang dulu sejenak. Sekitar setahun dua tahun untuk menyembunyikan kehamilan pastinya. Baru setelah itu kembali berkarya jika masih ada yang mau memakai jasanya.
Hhh...
Herdilan menghela nafas panjang.
Istrinya terlihat asyik berbincang dengan Ira, teman mereka. Ia merasa cukup terbantu dengan adanya Ira, yang selalu intens mengajak ngobrol Viona. Jadi di kala senggangnya Delan bisa curi-curi waktu untuk chattingan dengan Lady Navisha.
[P]
[P]
[P]
...
[Sudah makan beb?]
Tring.
...[Sudah, Mas! Bareng Mama Tasya! Hari ini Mama pesan kepala ikan kakap, lho! Sedapnya]...
[Hiks. Jahad, ga bagi-bagi]
...[Kamu tuh yang jahat! Kita yang nikah kenapa bulan madunya sama Viona?]...
...[Ish kejam]...
[Maaf]
...[Tiada maaf bagimu! ...(ya beby cayang ya... Papi kita cuekin)]...
[Hm... Papi dicuekin nih]
...[BOMAT]...
Herdilan nampak tersenyum membaca chattan istri keduanya.
Matanya menatap ke arah Viona serta Ira yang tengah asyik dalam satu obrolan seru juga, hingga mereka terlihat tertawa terbahak-bahak.
Herdilan kembali fokus ke layar ponsel miliknya.
[๐๐๐]
...[Apa tuh maksudnya]...
[Kangen ciuman hotmu, Beb]
...[Ish... Bisa-bisanya menipuku dengan ucapan mesra, padahal kamu lagi asyik bermesraan sama Viona]...
[Viona sedang ngobrol dengan Ira]
...[Kasian... dicuekin! Coba kalau kamu ada sama aku. Kukasih ciuman paling mesra sedunia]...
__ADS_1
[Iya kah?]
...[Kasihan kasihan kasihan]...
Herdilan kembali tersipu.
Chattan Lady membuat hatinya menghangat menahan rindu. Terbayang bibir sensual istri mudanya yang kini ada dibalik layar kaca ponselnya.
...[Nih, aku lagi pake baju 'haram']...
[Hiks. Mau]
...[Sini dong. Berani ga pulang sekarang demi bertemu aku?]...
[Tempat kami terpencil, Sayang! Lusa kami pulang! Jangan lupa siapkan diri untuk men-servisku ya, Beb! Hehehe]
...[GA JANJI]...
[Ish]
...[Kecuali... kamu janji bawa aku honeymoon ke Raja Ampat]...
[Woke. Ke surga pun aku mau]
...[Ulala... gombalnya]...
[Hehehe... Bobo, Beb! Ira sudah mau masuk kamarnya. Bye... Jangan balas lagi. Aku matikan ponsel ya๐โ]
Klik.
Herdilan dengan semakin pintarnya mematikan telepon selulernya setelah menghapus bersih semua chattannya bersama Lady Navisha.
Otak buaya! (Umpatan author)
Ira melambaikan tangannya pada Herdilan. Ia memberi kode kalau akan segera pergi keluar kamar pasutri tersebut karena hari sudah malam.
"Sudah ngobrolnya?" tanya Delan pada istrinya.
Viona mengangguk. Jemari lentiknya menggapai tangan Herdilan yang hendak meraih sesuatu yang tampak menonjol di bagian atas depan Viona.
"Ish... Nakal ya!?" kata Viona seraya tersenyum manis.
"Yang... Anu yuk!?"
"Anu apa?"
"Anu-anu!"
"Hihihi... bukan ani-ani ya?"
"Bukan! Pingin ono-ono, Yang! Kangen..."
Viona tertawa lepas. Ia membiarkan tangan suaminya merayap, bergerilya menjajah seluruh bagian depan tubuhnya.
Hanya sesekali bibirnya mengeluarkan des*han lirih tanpa bisa ia kendalikan karena permainan tangan sang suami.
Bulan merah jambu di luar bumi Lombok jadi saksi pergumulan suami istri itu di kamar hotel sewaan mereka yang mahal.
Sesekali terdengar decitan ranjang kayu yang menambah kesyahduan mereka bercinta.
Sementara di belahan bumi yang lain, terlihat sesosok perempuan tengah terbaring dalam posisi menyamping. Dengan ditemani usapan lembut jemari seorang pria yang bertelanjang dada.
__ADS_1
Sesekali keduanya juga terdengar cekikikan karena bercerita yang sangat lucu menurut mereka.
...โคโคโคBERSAMBUNGโคโคโค...