PEMBALASAN DENDAM ISTRI PERTAMA (I Don'T Love You Anymore)

PEMBALASAN DENDAM ISTRI PERTAMA (I Don'T Love You Anymore)
BAB 72 Sogokan Yang Oke


__ADS_3

Treet... treet... treet...


Papa Mertua is calling.


Ternyata prediksi kak Jo benar. Kalau sebentar lagi Papa Bambang pasti menghubungiku.


"Hallo, iya Pa?"


...[Kamu sudah pulang, Vi?]...


"Sudah, Pa! Vi sekarang ada di jalan!"


...[Sama siapa? Apa kamu di antar Jonathan?]...


"Sendiri, Pa! Viona mau ke rumah yang di Selatan. Rumah pemberian Papa! Tadinya mau ke kantor mas Delan, tapi kayaknya mas Delan akhir bulan. Sibuk. Vi takutnya ganggu!"


...[Vi... Bisa kita ketemu sebentar?]...


"Boleh. Dimana, Pa?"


...[Bisa tunggu Papa di jalan Gatot? Dekat kantor kerja Papa? Viona naik apa? Sekarang posisi dimana?]...


"Naik taksi online, Pa! Sekarang posisi di jalan Kebon Sirih. Oke, Viona minta pak sopirnya untuk ke arah Gatot! Iya, Pa!


...[Oke, papa tunggu Viona! Hati-hati di jalan ya!?]...


"Iya. Baik, Pa!"


...Klik...


Hm... Ada apa ya, Papa Bambang mengajakku ketemuan? Mungkinkah supaya aku tutup mulut soal perihal yang baru saja kuketahui?


Aku tersenyum dalam hati. Sedikit gugup juga karena ini pertama kali bagiku berhadapan face to face berhadapan sendirian hanya berdua papa Bambang.

__ADS_1


Seperti yang di sepakati, Aku menyambangi kantor Papa dari suamiku. Terlihat beliau berdiri disamping mobilnya di pinggir jalan. Seolah sangat tersirat sekali kalau beliau memang menungguku.


Mobil fortunernya membawa kami kesuatu tempat. Sebuah resto keluarga yang sangat elegan dan cozy tempatnya.


"Makan dulu, ya?" ajaknya membuatku mengangguk.


Dua piring steak lada hitam, dan jus buah menjadi pilihan Papa Bambang setelah aku mengikuti apa saja pesanannya.


"Kamu kenal Jonathan Lordess dimana?"


Aku menatap wajah papa mertua dengan seksama. Lagi-lagi ucapan kak Jo terbukti. Beliau pasti mulai menyelidik. Tapi satu hal yang harus aku perhatikan. Hati-hati dalam menjawab, karena beliau bukan orang sembarangan yang tidak punya pemikat. Yang ucapan katanya mampu membuat aku terbelit kata-kataku sendiri nanti.


Ternyata para petinggi atau pejabat itu tidak sembarangan!


"Kakak Jo adalah penolong Viona ketika pingsan tempo hari di jalan raya, Pa!" jawabku dengan perlahan. Aku juga harus hati-hati karena sepertinya Mama Tasya juga belum bercerita perihal kehamilanku pada beliau.


"Kamu pingsan di jalan?" tanyanya.


Benar saja, rupanya beliau belum tahu kejadiannya dan istrinya belum bertemu dia lagi rupanya.


"Oh iya, wah... selamat ya, Vi! Tasya dan Delan pasti senang sekali ya?!"


Mereka senang, Pa! Tapi tak sesenang ketika selingkuhan anakmu hamil dan memberi mereka kabar bahagia itu sebelum aku.


Aku tersenyum tipis. Mengangguk mengiyakan.


"Vi... Apa tadi kamu gak ngomong sesuatu apapun itu pada Jo dan Tania?"


"Maksud Papa?"


"Tania adalah istri sah Papa. Jo adalah adik kandung Tania. Dan..."


"Pa...! Itu bukan urusan Viona. Maaf, sekiranya Papa khawatir kalau aku akan berbicara asal begitu? Aku... tak akan sembarangan buka mulut. Juga pada suamiku sendiri, Mas Delan!"

__ADS_1


Papa Bambang menunduk sebentar. Lalu melanjutkan perkataannya.


"Herdilan belum tahu istri pertama Papa! Dia tidak tahu, kalau Mama tirinya adalah tantenya sendiri. Karena Tania juga tidak mengetahui itu."


"Maksudnya... Ibu Tania tadi...adalah tantenya mas Delan?"


"Tania dan Tasya adalah saudara sepupu. Saya menikahi sepupunya Tania, Tasya sebagai istri kedua. Lalu istri ketiga saya adalah seorang guru SMP Fika, yakni Katliya. Janda beranak tiga!"


Wow...! Papa Mertuaku menceritakan kisah rumah tangganya padaku! Hahaha... sepertinya memang sedang mencoba membuatku mengerti dirinya dan tak berkoar-koar pada anak juga istri keduanya.


"Papa bisa menyatukan tiga istri, hehehe itu hebat!" pujiku agak ekstrim.


"Hehehe... apanya yang hebat, Vi!? Papa justru selalu berusaha menjaga kestabilan untuk semuanya. Terlebih untuk kenyamanan hidup putra-putri Papa selanjutnya."


Begitukah? Tapi memang ada benarnya. Kenyamanan hidup putra-putri, agar berada tepat di tempatnya. Dikiranya memiliki putra lain dari perempuan yang lain tak kan bikin hati istri pertama kalang kabut? Aku, contoh nyatanya, Pa! Anakmu dari Mama Tasya kini mengikuti jejakmu. Menikah lagi tanpa sepengetahuanku, sama sepertimu dalam hal mengelabui mama Tania. Hhh...


Aku menelan saliva. Emosiku sedikit menaik setelah berfikir jauh dan berfikir lagi.


Ternyata kini Delan sedang meneruskan warisan sifat dan tabiatmu, Pa! Benar-benar anakmu dan mama Tasya! Dan kau tahu,... istri keduamu itu juga kini lebih pro pada istri kedua putramu. Karena sama-sama berstatus istri kedua!


Hhh...


"Kemana kita setelah ini, Pa?" tanyaku pada beliau. Aku agak bingung kemana lagi di bawanya dengan mobil fortune yang adalah mobil dinasnya.


"Ke showroom dulu ya!?"


Showroom? Showroom buat apa???


Ternyata, showroom mobil.


"Pilih kendaraan mobil yang kamu mau, Vi! Papa mau memberi hadiah atas kehamilanmu!"


Wow... Ck ck ck! Keren juga pria paruh baya ini. Menyuapku dengan langsung memilih mobil mana yang kumau. Pantas saja, Mama Tasya tergila-gila dan rela jadi istri keduanya. Ternyata royal juga orangnya. Hm... Jangan-jangan seperti ini juga si Herdilan memberikan kenikmatan pada si Lady Gagak.

__ADS_1


...❤❤❤BERSAMBUNG❤❤❤...


__ADS_2