
Aku hanya bisa menarik nafas panjang, ketika Mutia menceritakan kisah hidupnya hingga bersama Christian.
Ternyata cukup pelik juga.
Aku yang merasa, kalau kusah hidupkulah yang paling tragis ini ternyata masih jauh lebih beruntung daripada Mutia.
Mutia Permata Melody. Gadis keturunan Jawa asli nan cantik jelita itu membuatku ikut meneteskan airmata.
Paras cantiknya adalah bonus yang Tuhan beri. Namun tak serta merta ia bahagia hatinya.
Sedari kecil, hidup serba kekurangan dengan dibesarkan oleh seorang Bapak yang sakit-sakitan bersama kedua adiknya.
Mutia kecil, sejak Sekolah Dasar sudah pintar mencari uang. Tentunya untuk menambah biaya hidup mereka yang serba kekurangan.
Bapaknya mengidap penyakit tuberkulosis akut. Ibunya yang selalu merasa hidupnya tak pernah senang pun pada akhirnya menyerah.
Ia meminta cerai dan meninggalkan ketiga anaknya pada sang suami karena ingin pergi bekerja ke luar negeri.
Saat itu Mutia berusia sepuluh tahun. Adiknya Wildan delapan tahun dan Annisa baru lima tahun. Masa yang sangat berat saat itu bagi Mutia.
Mutia sering membawa dagangan sambil sekolah. Berharap teman-temannya jajan membeli dagangan yang ia ambil dari tetangga dan dibayar setelah pulang sekolah.
Tetapi dunia begitu kasar pada Mutia. Banyak teman-temannya yang jahil dan hanya membayar separuh dari makanan yang diambil. Mutia seringkali merugi.
Bukannya untung, ia malah sering buntung. Karena harus membayar dengan uang jajanannya yang sangat sedikit. Dan itupun masih kurang banyak untuk setoran ke ibu tetangga pemilik dagangan asli.
Tak jarang Mutia menangis sendirian karena bingung dengan keadaan. Adiknya Wildan sampai tak mau pergi sekolah karena sepatunya sudah koyak.
__ADS_1
Bapak terlalu miskin untuk dimintai uang. Bahkan Bapak harus rutin berobat ke Puskesmas terdekat demi memperpanjang hidupnya, mengurangi rasa sakit dadanya hingga bisa kembali bekerja mencari uang.
Mutia semakin dewasa dengan keadaan. Dia matang sebelum waktunya. Memutar otak agar bisa sekolah dan dapat hidup layak seperti anak-anak lain. Meski dirinya serba kekurangan.
Wildan sang adik benar-benar putus sekolah. Tak mau lagi kesekolah karena sering dibully teman-temannya.
Membuat Mutia semakin sedih dan semakin dalam berjuang demi mengangkat derajat serta taraf hidupnya dimasa depan.
Ketika SMP Mutia sampai meminta pekerjaan di kantin sekolah agar bisa bekerja paruh waktu dengan membantu melayani para siswa yang jajan di kantin. Dan mencuci piring serta beres-beres setelah jam sekolah usai.
Ia lakoni semua itu sampai tahun ketiga menuntut ilmu di sana.
Hingga ada seorang guru baik hati yang memperhatikannya setiap hari. Ibu Nunik namanya, kata Mutia.
Beliau akhirnya menjadikan Mutia anak angkat dan menyekolahkannya sampai ke jenjang berikutnya.
Meski jadi anak angkat bu Nunik, Mutia tetap tinggal bersama Bapak dan kedua adiknya. Bu Nunik hanya menjadi wali dari Mutia dalam urusan biaya sekolah saja. Karena beliau serta suami hanyalah seorang guru dan juga memiliki dua orang anak yang masih SD.
Bersyukur sekali Mutia atas kebaikan bu Nunik dan suami.
Tamat SMA, atas bantuan bu Nunik pula... Akhirnya Mutia bisa melanjutkan kuliah jurusan public relation. Berharap bisa masuk dunia pekerjaan dengan mudah dan gaji yang memuaskan sebagai seorang PR nantinya.
Sedari SMA Mutia yang tumbuh menjadi gadis yang cantik jelita seringkali mengikuti lomba dan ajang pencarian bakat. Tentunya untuk menambah pundi-pundi uang agar adik-adiknya bisa mengikuti sekolah kejar paket dan untuk biaya berobat bapak juga.
Mutia di masa remaja, bahkan pernah menjadi finalis Abang-None. Namun hanya mendapatkan predikat terfavorit kala itu. Akan tetapi cukup membuatnya berbangga hati.
Bahkan di ajang itulah ia mengenal cinta pertamanya. Firman Setiawan.
__ADS_1
Firman yang seusia dengannya. Bahkan memiliki kisah hidup yang nyaris sama dengan Mutia membuat hubungan pertemanan mereka menjadi dekat. Bedanya, Firman anak bungsu sedangkan Mutia sulung.
Berawal dari pertemanan, saling curhat soal kehidupan dan orang yang sedang diincar. Mereka berdua semakin dekat satu sama lain.
Bahkan Firman seringkali menceritakan isi hatinya yang menyukaiku sejak pertama kali bertemu pada Mutia, membuat wajahku jadi bersemu.
Mutia menceritakan semua. Semuanya.
Bahkan kisahnya kenapa putuskan tali pertunangan dengan Firman dan menikah dengan Christian.
Mutia menangis sesegukan di dalam kamarku yang luas di rumah almarhum Kak Jo.
Hingga tiba-tiba...
Terdengar tangisan Dzakki membuat Mutia terhenyak dengan dua bola mata membulat. *S*epertinya ia teringat si kembar!
"Vi...! Aku mau pergi sebentar! Titip Boy, ya!"
Aku tersenyum sembari bangkit dari duduk. Menyambut buah hatiku yang menangis keras dalam pelukan Roger.
"Maaf, sayang! Ayah harus pergi dulu. Ini urgent. Ada rapat rektor dan para dosen! Maaf, Boy! Janji! Ayah akan cepat pulang sebelum pukul enam! Oke?"
Roger membuat Mutia membatu. Mematung diam memperhatikan kelakuan manisnya pada putraku semata wayang.
Mungkin ia bingung melihat adik iparnya yang biasanya dingin dan pendiam menjadi 'hot daddy' bagi Dzakki!
...❤❤❤BERSAMBUNG❤❤❤...
__ADS_1