
Aku kesal. Dzakki dikabarkan main ke rumah temannya dan tak mau pulang.
Kucoba bi Tini yang kini kupanggil 'Wawa' itu untuk mencari Dzakki agar bisa kudengar suaranya dan bisa kunasehati untuk ikut pulang Wawa-Wawa'nya.
Namun tiba-tiba justru Ayah dari temannya Dzakki yang berbicara padaku. Semakin membuatku tambah kesal.
...[Viona? Viona Yuliana? Kamu Viona, konselor di RSJ itu khan? Saya dokter Diandra, Vi!]...
Dokter Diandra? Dokter psikiatri ditempat yang sama dengan aku bekerja?
"Dokter Diandra?"
...[Iya. Ini saya! Dzakki itu putranya Viona?]...
"Iya, Dok! Maaf... Ya ampun, saya tidak tahu kalau ayahnya teman Dzakki itu adalah dokter Diandra! Maaf..."
...[Putra saya,... suka sekali bermain dengan Dzakki. Hari ini mereka bertemu, dan... hhh... saya tidak bisa mengendalikan putra saya Dirga untuk melepas Dzakki pulang, Viona! Maaf... Dirga...berkebutuhan khusus. Agak sulit untuk membuatnya mengerti. Dan saya baru akan berangkat kerja ini! Boleh ya, Dzakki main di rumah saya hari ini? Please... Viona!]...
Aku hanya bisa menelan saliva. Tersenyum kecut dan mengangguk seraya bilang iya.
Mau bagaimana lagi? Ternyata putranya Dokter Diandra itu temannya Dzakki.
Akhirnya, Bi Tini menutup sambungan teleponnya. Dan aku kembali sibuk dengan keyboard komputer mengetik serta memasukkan data-data penting pasien RSJ satu persatu.
Pukul dua belas siang. Jam istirahat tiba. Dan aku seperti biasa berjalan meninggalkan ruangan menuju kantin rumah sakit.
Suasana agak lengang. Membuatku bisa duduk diteras kantin dengan suasana yang asri menyenangkan.
Pepohonan tumbuh subur dan dedaunan rindangnya membuat suara gemerisik karena angin yang menerba.
Seporsi ketoprak dan segelas teh hangat tawar jadi pilihanku makan siang.
Tanpa sadar aku tersenyum sendiri. Malu mengingat kata-kataku ditelepon tadi.
__ADS_1
Hm... Pasti dokter Diandra akan menemuiku tak lama lagi. Hhh... Putranya ternyata teman putraku.
Aku memeriksa hapeku. Ada beberapa pesan masuk yang belum sempat kubaca. Salah satunya dari Ira.
Segera kuhubungi sahabat rasa saudaraku yang ada di Kalimantan sana.
Ira sedang berbahagia. Ia tengah mengandung anak pertamanya dan Leon memperlakukannya dengan sangat manis katanya.
Hhh...
Seketika aku teringat kak Jo. Langsung kupejamkan mata dan membaca surat Al-Fatihah di dalam hati untuk kak Jo tercinta.
Hhh... Andai kak Jo masih hidup. Aku tidak akan menjadi konselor seperti sekarang ini.
Mungkin aku hanya akan jadi ibu rumah tangga saja. Mengurus Dzakki dan juga dia. Dan pastinya kehidupan kami akan sangat bahagia.
Tapi...
Apa mau dikata.
Tuhan lebih sayang kak Jo. Meskipun dipanggilnya dengan cara yang menyakitkan. Dan... semua adalah pembelajaran bagi hidupku kedepannya.
Papa Bambang, Lady, Mama Tasya dan juga Herdilan,... semua mendapat porsi yang menurut Tuhan adalah terbaik.
Aku... hanyalah salah satu hamba-Nya. Yang cuma bisa berdoa, berdoa dan berusaha. Semua kembali pada Kehendak Tuhan Yang Maha Kuasa.
Seperti Lady,... andaikan dia masih hidup. Mungkin permusuhannya denganku akan tetap berlanjut sampai saat ini. Baik dia masih dengan Delan ataupun tidak.
Tapi Tuhan telah mengambilnya, juga dengan cara yang tragis. Sama seperti papa Bambang juga. Pilihan jalan mereka salah. Atau memang begitu tulisan takdir Tuhan untuk mereka. Lantas takdir untukku, entahlah! Hhh...
Herdilan... sampai saat ini aku tak pernah bertemu dengannya lagi. Meski hampir setiap hari aku menyambangi Mama Tasya di kamar bangsalnya di rumah sakit ini, tak pernah sekalipun aku melihat Delan menjenguk sang Mama.
Apakah orang itu masih dalam penjara? Karena kudengar dulu dari cerita dokter Diandra, kalau Herdilan masuk penjara dan divonis mendekam untuk beberapa tahun.
__ADS_1
Memang itu lebih baik. Untuk sementara aku lebih aman dan damai, mengurus mama Tasya hingga sembuh tanpa adanya campur tangan Herdilan.
Kemungkinan besar pria bejat itu akan rusuh dan mengganggu hidupku lagi. Untuk itu, aku sudah mengambil keputusan, akan pindah dan stay di Kuta Bali setelah wisudaku beberapa bulan lagi ini.
Aku akan tenang, menjauh dari Delan dan Mama Tasya. Setelah perlahan melihat kesembuhan mantan mertuaku dan semoga menjadi ladang ibadahku dikemudian hari.
Aku hanya ingin hidup tenang dengan Dzakki, putraku.
Walaupun Tuhan tak lagi memberiku jodoh, tapi setidaknya...ada Dzakki bersamaku.
Bersyukur Tuhan memberiku putra laki-laki. Karena jika perempuan, aku tetap harus mencari Delan... untuk wali nikahnya suatu hari nanti. Tapi putraku laki-laki. Dan Dzakki tak perlu susah-susah mencari ayah bejatnya.
Karena di kertas Akta Kelahirannya, nama kak Jo-lah yang tertera. Meski itu pembohongan publik dan dosa hukumnya karena aku melakukan penipuan terang-terangan.
Aku hanya ingin Dzakki bahagia. Itu saja keinginanku.
Semoga Tuhan memberiku kebahagiaan lewat Dzakki dan kehidupannya nanti. Dzakki sehat, panjang umur, sukses, dan juga bahagia memiliki keluarga utuh nantinya. Aku sudah sangat puas.
Tak ada lagi keinginan lain, selain itu.
"Selamat siang, Viona!"
Aku terkejut hampir melonjak karena kaget.
"Dokter...! Haduh, hampir copot jantungku!"
"Kenapa makan sambil melamun? Hehehe... Maaf ya, aku membuat Viona jantungan! Boleh kutemani?"
"Silakan dok!"
"Sebentar, aku pesan makanan dulu ya?" ujarnya sambil berlalu pergi. Meninggalkan aku yang menghela nafas lega. Tersadar dari lamunan masa lalu dan masa depan
...❤❤❤BERSAMBUNG❤❤❤...
__ADS_1