PEMBALASAN DENDAM ISTRI PERTAMA (I Don'T Love You Anymore)

PEMBALASAN DENDAM ISTRI PERTAMA (I Don'T Love You Anymore)
BAB 8 Kedai Ayam Geprek Tante Widya


__ADS_3

"Viona?"


"Eh... kak Firman?"



Memerah wajahku seketika. Ternyata pembeli ayam geprek tanteku salah satunya adalah kakak tingkat kelasku, kak Firman.


Senyuman khasnya selalu menghiasi wajahnya. Membuatku nyaris oleng lupa kalau saat ini posisiku sedang menjadi pelayan gerai ayam geprek tanteku.


"Mau beli berapa porsi, Kak?" tanyaku grogi.


"Hm... empat porsi ya, Vi! Tapi yang satunya original tanpa cabe alias ayam goreng biasa."


"Oke. Ditunggu ya kak!?" jawabku tak lupa senyum semanis mungkin. Disini statusku adalah penjual. Jadi harus seramah mungkin dan ibu juga tante tidak akan curiga kalau aku sedang tebar pesona pada kak Firman.


Dengan bantuan Mbak Tri, asisten tante Widya aku berhasil mengemas pesanan kak Firman.


"Tiga ayam geprek, satu ayam goreng. Totalnya lima puluh lima ribu rupiah, Kak! Ini minuman bonus karena belanja lebih dari tiga porsi!" kataku dengan lancar karena sudah sering membantu tante menjadi kasir.


Kak Firman menyodorkan selembar uang kertas lima puluh ribuan. Aku dengan cekatan memberi uang kembalian.


"Terima kasih, pedagangnya ramah sekali. Suka deh sama pelayanannya, juga senyum manisnya!"

__ADS_1


Aku termangu. Diam sesaat seperti kena hipnotis kata-kata kak Firman yang lebih mirip gombalan, bukan pujian.



Seketika aku tersenyum lebar. Lalu setengah berteriak mengucapkan terima kasih atas kedatangannya di gerai ayam geprek sang tante.


Senang rasanya tak terkira. Bahkan jantung ini berdetak sangat kencangnya walaupun rasanya malu juga karena ketahuan sedang kerja part time di gerai tante Widya.


Keesokan harinya lebih menggembirakan lagi.


Kak Firman menungguku di depan kelasku. Dia ada di antara Delan juga Ira. Membuatku dengan gugup menyapa.


"Ada apa ini, pagi-pagi sudah pada datang? Hiks... apa aku yang datangnya kesiangan ya?" candaku pada Ira yang mendapatkan balasan digeplak gadis itu dengan buku paketnya.


"Eh dodol! Lo dagang geprek ga bilang-bilang lo ya? Kirim tester napa ke gue? Ajak traktir makan di gerainya gitu? Hadeeeuh... punya temen pelitnya naudzubillah!"


Siapa yang bocorin rahasiaku? Hiks... mungkinkah kak Firman? Secara kemarin sore kak Firman belanja ayam geprek di kedai tanteku.


"Punya tante gue, itu! Bantuin cuma pas luang aja!" jawabku pelan membuat kak Firman tertawa.


"Maaf ya, Vi! Aku promosi ayam geprekmu! Rasanya mantul! Rencana nanti siang kami mau kesana. Viona mau bareng?"


Ugh.

__ADS_1


Kutelan saliva karena hatinya benar-benar tampan, setampan wajahnya.


Aku mengangguk, sementara Ira masih tetap meledekku sembari mencubiti lenganku.


"Duuuh seneng tuh, kak Firman terlihat ada rasa sama elo!"


"Ish, si Ira mah... masa' iya! Jangan bikin gosip ga bener lo! Gue jitak makin lebar jenong lo!"


"Idih! Emang kenyataan khan! Bukan gosip juga. Itu dia sampe nungguin elo datang tuh tadi pagi. Kak Firman emang ramah. Tapi tadi itu keramahannya sama elo keknya berkali lipat deh! Kayak... ada udang di balik gorengan!"


Aku tertawa mendengar perkataan Ira. Ada bangga tapi juga tak berani ge'er ketinggian. Bisa jadi ya memang kak Firman suka sekali ayam geprek dagangan tanteku. Bukan karena tertarik padaku.


Kelas terlihat seperti biasa. Pak Roland dosen Ekonomi Mikro selalu menjadi pembicara yang santui dengan volume suara yang lunak membuat ngantuk hampir seluruh penghuni kelas.


Bahkan beberapa murid terlihat benar-benar tertidur pulas di atas mejanya membuatku menyembunyikan tawa kecil di balik punggung tanganku melihat sekeliling ruang kelas.


Dan tanpa sadar, mataku bertemu dengan kedua bola mata Delan yang ternyata tengah tersenyum memperhatikanku.


Haish, tuh bocah! Ngapain sih senyum-senyum liatin aku sampai segitunya! hatiku sedikit kebat-kebit juga.


Mataku kembali memandang ke arah pak Roland. Menelan salivaku sambil memicingkan mata, kalau aku kurang suka tampilan si Delan yang rambut gondrong agak keriting itu.


Seolah kembali teringat masa lalu. Teringat anak kecil berambut keriting yang pernah membuatku masuk rumah sakit karena lidahku di gigit keong ketika membeli hewan itu di pasar tradisional dekat rumah lamaku.

__ADS_1


Hadeh! Kenapa harus rendevous masa lalu yang menyebalkan.


...❤❤❤BERSAMBUNG❤❤❤...


__ADS_2