
"Dzakki!"
Viona baru saja hendak memangku putranya yang terlelap di jok depan mobil yang dikendarai Roger. Namun Roger segera menghalaunya.
Ia menggendong sendiri Dzakki dengan wajah datar dan masam.
"Dzakki... kehujanan?" tanya Viona tergagap.
"Bukan kehujanan. Tapi memang sengaja menerobos hujan!"
Viona mengekor Roger. Membukakan pintu kamar untuk dia masuk sembari menggendong Dzakki yang tertidur.
Roger berusaha menahan emosinya. Ia hanya berkali-kali menghela nafas pendeknya. Bersabar adalah jalan ninjanya saat ini.
Tangannya menaruh tubuh bocah imut itu ke atas kasur busa. Lalu matanya beralih tepat ke bola mata Viona.
Bagaikan sinar laser yang menyakitkan menembus mata dan hati Viona.
Kini Roger memegang pangkal lengan Viona, lalu menariknya keluar kamar.
"Sakit!" lirih Viona menahan nyeri.
"Sakit? Kau sakit hanya kuseret beberapa meter saja?"
Viona tak mengerti perkataan Roger. Baru datang tapi sudah buat masalah. Begitu fikir Viona.
"Bagaimana sakitnya putraku menunggumu menjemputnya, sedangkan teman-temannya yang lain sudah pulang dengan para orangtua mereka. Itu sebabnya Dzakki menerobos hujan!" omel Roger membuat Viona menunduk. Mengakui kesalahannya dalam hati karena keadaan membuat semua jadi tidak sesuai rencana.
"Hujan deras. Motor Cemen mogok!"
"Alasan! T*hi kucing!!!"
Viona menelan salivanya.
"Kau bilang, kau sangat menyayangi Dzakki. Kau bilang, tak bisa hidup tanpa Dzakki. Kau bilang, Dzakki segalanya bagimu. Tapi ternyata semua hanya omong kosong bagimu! Mana ucapanmu yang sok benar itu! Mana?!... Baru karena hujan deras saja, kau sampai telat menjemputnya!"
"Aku sudah menghubungi gurunya di sekolah!"
__ADS_1
"Menghubungi guru bukan berarti lepas tanggung jawabmu sebagai ibu!!!" teriak Roger membuat Viona memejamkan mata sebentar sambil menggigit bibir bawahnya.
Ia hanya diam menerima amarah Roger padanya.
"Kau bisa bayangkan Dzakki yang ketakutan sendirian di sekolah? Sampai akhirnya dia memutuskan untuk pulang sekolah sendirian dengan menerobos hujan! Apa kau tak pikirkan itu? Bagaimana kalau Dzakki kenapa-napa di jalan? Jatuh terpeleset atau terbawa arus air hujan yang deras hingga masuk selokan? Hah?!?!"
Viona menunduk makin dalam. Perlahan air matanya menetes. Terbayang akan keadaan Dzakki yang tadi kehujanan pulang. Dan rasa bersalah semakin menggelayuti hati Viona.
"Pikir pakai otak! Jangan dengan perasaan dan keegoisanmu saja! Pikir, nih pikir!!!"
Roger mengetuk-ngetuk kepala Viona, kesal. Hingga tanpa sadar bertindak agak brutal.
"Kau pindah ke tempat ini, apakah Dzakki menerima kenyataan? Kau membawanya tanpa tanya pendapatnya, apakah putraku kau kira senang hatinya?... Tidak!!! Dzakki terluka karena tindakanmu yang sembrono!"
Viona semakin dalam menunduk. Tangisannya pecah dalam kebisuan.
"Bullshiiit ketika kau bilang sayang anak! Bullshiiit ketika kau katakan semua yang kau lakukan demi Dzakki!!! T*i kucing!!!"
Viona jatuh terduduk dengan kepala tertunduk.
"Jangan menangis! Kau pikir dengan kau banjir airmata lalu aku jadi iba melihatmu? Tidak, Viona!!! Aku jijik melihat tingkahmu yang terus menerus menyakiti Dzakki tanpa kau sadari!"
Dzakki berdiri di depan pintu kamar. Ternyata bocah imut itu terbangun dari tidurnya karena mendengar teriakan amarah Roger pada Viona.
Seketika Roger menghampiri Dzakki.
Tapi Dzakki mendorong Roger.
"Ayah jahat! Ayah tak pernah tanya Mami, kenapa Mami mengajakku pergi. Tapi malah sekarang marah-marah sama Mami!" protes Dzakki membuat Roger melemah amarahnya.
"Boy,... maafkan Ayah! Maaf... bukan maksud Ayah untuk memarahi Mami seperti yang dipikirkan Dzakki. Bukan!"
Dzakki mundur beberapa langkah.
"Mami sendirian. Mami kesepian. Mami butuh teman."
"Iya, Dzakki...! Ayah... mengerti keadaan yang tak mengenakkan ini."
__ADS_1
Roger berusaha meraih jemari imut sang putra. Ia merasa sangat bersalah pada Dzakki. Dan batinnya sangat takut melihat Dzakki yang tiba-tiba justru tidak senang melihatnya memaki sang Mami.
Kini justru kedua bola mata Roger memancarkan cahaya redup. Beriak dan nyaris pecah jatuh tetesannya.
"Dzakki..., sini Nak! Sini peluk Ayah!"
Dzakki berdiri dengan tangan menutupi kedua wajahnya.
Membuat Roger menangis memeluk tubuh Dzakki erat. Dan Viona pun histeris melihat kesakitan sang putra.
Disitulah Viona baru merasakan, betapa hati Dzakki sakit parah meski tak berdarah.
Viona baru menyadari, kalau keputusan yang diambilnya sepihak untuk pindah segera dari ibukota adalah keputusan yang salah.
Ia bangkit, mendekat kepada Dzakki yang dipeluk Roger. Viona ikut masuk kedalam pelukan kedua pria yang begitu ia sayangi itu.
Tangis Dzakki barulah pecah.
"Hik hik hiks... Dzakki kangen Ayah! Dzakki rindu Mami!!! Dzakki inginkan kalian berdua! Tapi kalian seperti ingin Dzakki pergi dari hidup kalian!!!"
"Tidak, tidak Sayang! Tidak seperti itu! Hik hik hiks..." Viona menangis. Sesalnya menggunung pada dirinya sendiri yang tak pernah bisa dewasa dalam mengambil sikap.
Dia kini berumur 31 tahun. Sarjana Managemen sekaligus Sarjana Psikologi. Dia belajar banyak ilmu psikologis. Mempelajari pola prilaku dan pikiran individu serta mencari solusi dari beragam masalah kompleks yang dialami manusia.
Tapi dia lupa, kalau putranya juga seorang manusia.
Meski Dzakki masih kecil, tapi Dzakki berhak mendapatkan kebahagiaan yang nyata.
Berhak mendapat kesempatan yang sama seperti dirinya dalam mengungkapkan keinginan dan harapan.
Jangan remehkan anak kecil. Karena justru anak kecil adalah individu yang peka', rentan terluka dan kecewa mentalnya serta rawan akan segala hal kekerasan baik fisik juga psikisnya.
Viona menangis menyesali semua yang ia lakukan.
Benar Roger bilang, ia adalah pribadi yang egois. Yang hanya memikirkan dirinya sendiri. Yang hanya mementingkan kebahagiaan sendiri. Dzakki hanyalah tameng saja. Sayang pada Dzakki hanya alasan yang dibuat-buat. Tapi sebenarnya justru Viona menginginkan kebahagiaannya sendiri dengan mengorbankan perasaan sang putra.
Hhh...
__ADS_1
Viona telah sadar kini, kalau ia telah salah kaprah.
...❤❤❤BERSAMBUNG❤❤❤ ...