PEMBALASAN DENDAM ISTRI PERTAMA (I Don'T Love You Anymore)

PEMBALASAN DENDAM ISTRI PERTAMA (I Don'T Love You Anymore)
SESSION 2 ORANG BAIK PASTI DAPAT BANTUAN


__ADS_3

Suasana di desa santri membuat kedua pasangan suami istri itu semakin dekat satu sama lain.


Viona banyak belajar dari Mutia, sang kakak ipar.


Seperti saat ini, mereka berdua sedang sibuk di dapur bilik Nyai, istri dari pengurus pesantren.


Dapur yang sangat sederhana. Dengan kompor tungku yang kayu sebagai bahan bakarnya.


Viona terbiasa menggunakan kompor gas bahkan sedari ia kecil. Tak pernah ikut kegiatan camping ataupun hiking. Sehingga tak bisa menyalakan api di dapur Nyai.


Berbeda dengan Mutia, yang sewaktu kecil lahir dan pernah tinggal di desa.


Setidaknya Mutia memiliki pengalaman menggunakan tungku kompor kayu bakar.



Benar-benar keadaan yang tak pernah Viona bayangkan. Tapi kini ia merasakan masa-masa sulit seperti saat ini.


Meski begitu, ternyata rasa yang didapat sebanding dengan hasilnya. Memasak memakai tungku membuat Viona semakin tebal rasa syukurnya pada Allah Ta'ala.


Makanan sederhana yang kini mereka santap rasanya bahkan berkali-kali nikmat karena proses.


Kerja keras ternyata benar, tidak menghianati hasil.


Roger juga Christian mendapatkan lagi suatu pengalaman. Cara bertahan hidup ditengah keterbatasan. Dimana uang tidak terlalu menjadi sangat berharga. Karena desa tempat mereka tinggal kini tidak terlalu berpusat pada lembaran nominal mata uang rupiah saja.


Kayu bakar harus mereka cari dahulu ditepian hutan kecil, sayur-mayur harus mereka petik sebelum menjadi sebuah masakan. Bahkan beras yang akan mereka tanak, harus lebih dulu padinya mereka tumbuk.


Proses yang lama dan panjang. Penuh perjuangan serta kerja keras yang memerlukan tenaga banyak serta usaha bersama dengan gotong royong bahu membahu.


Hingga terhidanglah, makanan beragam yang sederhana tapi nikmatnya luar biasa.


Chris merenung. Ia kini seperti melihat warna indah lain dari aura wajah-wajah mereka. Warna emas yang sangat luar biasa cantiknya membuat ia tak henti-henti bersyukur pada Tuhan.


Hidupnya terasa luar biasa. Dan Chris hanya bisa sujud syukur selalu pada Illahi Robbi.





...○○○○○○○...


Sementara di tempat yang berbeda,


Ciko yang melihat berita online negaranya hari ini sangat terkejut. Wajah sahabatnya dengan keluarga terpampang besar di layar hapenya.

__ADS_1


"Herdilan? Herdilan Firlando!!!" pekiknya mengenali wajah salah satu klan Bambang Suherman.


Ciko memang telah mengenal Herdilan sejak usia mereka masih belasan. Saat itu, kelas satu SMU. Sekitar umur 16 tahun.


Herdilan, teman satu kelasnya yang selalu menutupi separuh wajahnya dengan masker kesehatan. Duduk di depan, sebangku dengannya karena terlambat datang dihari pertama sekolah.


Semua kursi telah terisi. Kecuali kursi yang ada di depan meja guru. Akhirnya, ia dan Herdilan memutuskan duduk di kursi itu.


Di awal banyak guru menegur anak itu yang memakai masker setiap hari di kelas meski sedang mengikuti pelajaran.


Ciko mengira Herdilan sedang sakit. Karena selain menutupi separuh wajahnya, ia juga nyaris tak pernah bicara. Hanya anggukan atau gelengan kepala yang jadi jawaban setiap kali di tanya. Hingga Ciko sempat menyangka ia tunarungu.


Tapi setelah sebulan kemudian, baru anak itu membuka maskernya. Dan terlihat wajah tampannya.


Namun tetap saja meskipun Herdilan tampan menawan, penampilannya selalu kucel. Rambutnya seperti tak pernah ia sisir. Nampak kusut dengan keriting ikal yang jadi merusak pemandangan indahnya.


Ternyata ia juga anak normal seperti yang lainnya. Tidak memiliki kelebihan seperti perkiraannya diawal.


Mereka mulai kenal dekat, walaupun tak terlalu dekat. Herdilan memang sosok yang tertutup. Hingga suatu ketika Ciko tak bisa menahan sedih saat sang Ayah yang jatuh sakit dan ia harus membantu Ibunya mencari nafkah setelah pulang sekolah.


Tanpa sadar Delan berhasil membuatnya bercerita panjang lebar tentang hidupnya yang miskin. Ciko bercerita semuanya, mengalir begitu saja seolah Herdilan adalah sahabat lamanya.


Ia sedang ada dititik terendah karena lelahnya pada derita ujian yang sedang Tuhan berikan.


Disitulah Herdilan juga menceritakan jati dirinya. Yang seorang anak dari mantan artis yang menikah sebagai istri kedua. Dan Papanya ternyata bukan orang biasa.


Herdilan membantu perekonomiannya lewat uang jajannya yang banyak.


Saat itu ia memang tidak membantu sepenuhnya, karena Ciko juga menolak tawaran Herdilan untuk menjadikan Papanya sebagai orang tua asuh baginya.


Tapi sumbangsih Delan dan bantuan motivasi serta uang jajannya setiap hari pada Ciko selalu ia ingat bahkan sampai hari ini.


Uang SPPnya yang menunggak beberapa bulan, ternyata diam-diam telah Herdilan bayar.


Sehingga Ciko bisa belajar dengan tenang, tanpa harus bingung dan pusing memikirkan uang bayaran sekolah.


Satu hal yang semakin mengeratkan hubungan pertemanan mereka adalah hobi menggambar dan melukis.


Ciko dan Herdilan akhirnya mengikuti satu komunitas pecinta grafiti, mural dan kaligrafi.


Dari kegiatan-kegiatan itulah keduanya bisa menemukan satu kenyamanan dalam suatu pertemanan tanpa harus mengetahui jati diri dan masalah satu sama lain. Hingga keduanya semakin akrab hingga tahun ketiga bersekolah.


Setelah tamat, Ciko mengambil kesempatan bekerja ke negeri jiran walaupun hanya sebagai pekerja pabrikan.


Sejak saat itu mereka lost contac. Dan kembali bertemu tahun lalu dengan cerita Herdilan perihal status dirinya yang seorang duda beranak satu.


Hingga Ciko mengajaknya kembali bergabung dalam usaha yang kini ia bangun berkat mimpi-mimpi mereka dimasa lalu.

__ADS_1


Treeet... treeet... treeet...


"Hallo, Rihana?"


...[Abang Ciko! Abang tengok berita besar dari Ibukota?]...


"Ya, Rihana!"


...[Apa itu benar berita bang Herdi?]...


"Doakan saja, Herdilan kuat menjalani cobaan ini, Ri!"


...[Ponselnya tak aktif. Ri tak bisa hubungi bang Herdilan, Bang!]...


"Ya, Ri! Aku pun sama. Bahkan dua nomor pribadinya Herdilan kini tak fungsi dan sulit kuhubungi! Hhh..."


Rihana menelpon Ciko. Memastikan kalau berita yang kini jadi viral di Indonesia adalah benar berita Herdilan, orang yang dikenalnya.


Rihana sangat prihatin. Ia sama sekali tidak percaya pada semua cerita diberita itu.


Herdilan tidak seperti yang mereka ceritakan.


Herdilan yang ia kenal tidak sebrutal itu. Bahkan pria dewasa itu memiliki moralitas yang tinggi hingga dirinya aman terjaga meski sempat waswas juga.


Semua berita terlalu dibesar-besarkan sepertinya.


Dan Rihana berniat membantu Herdilan agar segera keluar dari gosip serta tuduhan yang menyakitkan.


Ia sengaja membuat podcash untuk mengumpulkan teman-teman yang mendukung Herdilan dan keluarganya.


Rihana cukup mengenal Herdilan, meski hanya sebentar saja. Tapi Rihana meyakini pribadi pria dewasa yang baik hati itu, tidak dibuat-buat ataupun hanya sebagai tameng pencitraan.


Masa lalunya yang kelam, yang pernah menikah kemudian gagal karena adanya pelakor/orang ketiga. Itu memang langkah yang salah. Hingga harus masuk penjara karena memiliki masalah menghilangkan nyawa orang tanpa perencanaan pembunuhan. Semua orang bisa mengalami fase seperti yang Herdilan rasakan.


Rihana mencoba membangun animo masyarakat lewat podcash yang ia buat. Tentang seseorang yang salah dalam melangkah, bukan berarti harus salah terus kedepannya. Dan tentang orang yang pernah salah, haruskah terus menerus dituduh melakukan kesalahan.


Responnya cukup menggembirakan. Walau baru beberapa jam saja, ternyata banyak orang yang mampir dan mengomentari postingannya di media sosial.


Meski fifty-fifty pendapatnya, namun ternyata Rihana bisa melihat sendiri betapa banyak orang yang mendukung keluarga Herdilan juga.


Bahkan ada banyak teman-teman keluarga Herdilan yang memberikan kesaksian kalau Herdilan dan keluarganya tidak seburuk itu moralitasnya.


Pemberitaan itu hanyalah dari beberapa pihak saja yang memang sedang berusaha menyerang dan mencari keuntungan dengan menghancurkan mental serta kekuatan fisik keluarga Herdilan.



...❤❤❤BERSAMBUNG❤❤❤...

__ADS_1


__ADS_2