
Empat puluh hari usia Dzakki. Waktu berlalu terasa lambat sekali. Bahkan langkah detik jam dinding bergerak terasa berat dan penat. Seperti langkah hidupku yang kini sendiri tanpa 'cinta' kak Jo lagi.
Sebuah lagu dangdut lawas yang Kenken putar di dalam kamarnya, tanpa sengaja menggelitik telingaku. Liriknya, musiknya... terdengar sangat pas untuk hatiku.
Aku lupa pada niatku memasak air panas isi termos untuk susu formula bayiku.
Roger melarangku menggunakan air panas dari dispenser karena merasa kurang bagus untuk tumbuh kembang kesehatan Dzakki katanya.
Demi Dzakki, aku mengalah menuruti kata Roger.
Dan kebetulan kamar Kenken agak menjolok dekat dengan dapur kotor rumah kak Jo.
Sedari dulu aku kurang suka musik dangdut. Tapi mendengarkan lirik lagu yang sedang berkumandang dari dalam kamar Kenken membuatku tanpa sadar berjongkok di depannya demi untuk mendengarkan dan menangkap feelnya dihatiku.
"Kalau sudah tiada, baru terasa. Bahwa kehadirannya sungguh berharga. Sungguh berat aku rasa, kehilangan dia. Sungguh berat aku rasa, hidup tanpa dia. Kalau sudah tiada, baru terasa. Bahwa kehadirannya sungguh berharga."
"Kutahu rumus dunia, semua harus berpisah. Tetapi kumohon, tangguhkan tangguhkanlah! Bukan aku mengingkari, apa yang harus terjadi. Tetapi kumohon, kuatkan kuatkanlah!"
Aku meneteskan air mata. Hatiku sangat bergetar mendengarkan lirik lagu yang mendalam.
"Hik hik hiks...!"
"Eh? Nona Viona?"
Kenken yang keluar dari kamarnya terkejut melihatku tengah berjongkok di depan pintu kamarnya sambil terisak.
Aku yang malu karena ter-gep asisten pribadi almarhum Jonathan yang setia itu segera bangkit. Cepat-cepat kususut air mata di pipi.
Roger yang tiba-tiba datang hanya memperhatikan raut wajahku yang memerah.
Pria itu selalu tidak suka jika aku menumpahkan airmata meski hanya setetes. Dan dia pasti akan marah besar membentakku untuk diam.
Sebelum aku tahu kalau Roger memiliki hati lembut, jujur aku benci padanya.
Namun semenjak mata ini melihat dengan mata kepala sendiri dirinya menangis terisak setelah memarahiku habis-habisan tempo hari, membuatku perlahan berusaha memahaminya.
__ADS_1
Aku harus bisa berdamai dengan keadaan.
Notaris dan pihak pengacara almarhum kak Jo banyak memberiku pesan. Bahkan ada pesan tertulis juga untukku dan Dzakki. Bahwasanya kami dilarang pergi dari rumah ini.
Seluruh usaha yang dibangun kak Jo, diurus sepenuhnya oleh Roger dibantu Fika serta Christian. Separuh hartanya bahkan diwariskan padaku juga Dzakki, membuatku terkejut setengah mati.
Itu sebabnya, aku harus menuruti amanat yang kak Jo beri.
Bahkan yang mencengangkan adalah tingkah Roger. Karena menambah nama perusahaan kak Jo dengan ada nama 'Boy' ditengahnya. Padahal bayiku masih sangat kecil dan belum mengerti urusan perusahaan.
Kak Christian juga tak banyak memberi larangan. Justru ia memberiku dan Roger kebebasan dalam urusan perusahaan kak Jo karena dia sendiri sudah sangat sibuk dengan usaha tradingnya yang makin pesat.
Hari ini aku ingin sekali menyambangi makam Ayah dan Ibu. Sudah dua bulan lebih tak berkunjung menziarahi kubur mereka. Aku kangen, ingin berkeluh kesah. Bercerita tentang hidupku yang penuh suka juga duka.
"Mau kemana?" tanya Roger. Seperti biasa, pria itu menatapnya sinis. Ia mengambil Dzakki dari gendonganku, membuat aku meradang.
"Aku mau ziarah ke makam Ayah Ibuku!" jawabku ketus.
"Jangan bawa Boy!" larangnya membuatku menarik leher kaos yang dipakainya.
"Itu hanyalah makam. Dan di dalamnya hanyalah tulang belulang!"
Bug.
Kutinju pangkal lengan atasnya keras. Tapi aku terhenyak. Tersadar kalau putraku ada digendongannya kini.
Enak sekali dia bicara begitu pada Ayah dan Ibuku! Dasar psikopat!
"Hei! Kamu berani pukul aku? Ucapanku ga salah khan?... Ayah Ibumu tidak ada di dalam makam itu. Di dalam makam itu hanyalah tulang belulang saja. Mereka sudah bahagia di sisi-Nya. Mereka sudah hidup tenang di alam baka!"
"Hik hik hiks..."
Memang benar ucapannya. Tapi mengapa ucapannya terdengar sangat menyakitkan hati? Hik hik hiks...
Kuraih kembali bayiku dalam gendongannya.
__ADS_1
"Please... jangan begini pada Boy! Nanti dia sakit badan kalau dioper sana-sini!"
Aku terhenyak. Terdiam sesaat pada ucapannya.
Lagi-lagi dia berkata benar!
"Aku yang gendong Boy! Aku ikut ke pemakaman!"
"Ga usah! Ga perlu! Aku bisa berdua sama Dzakki saja!"
"Nanti kau lepas kontrol! Menangis meraung-raung meratap di atas kuburan. Dan tak pedulikan nyamuk-nyamuk nakal menghisap darah putraku!"
"Ada Kenken!"
"Aku ikut! Aku yang gendong Boy! Kalau kau melarangku, Boy juga kularang kau bawa!"
Haish!!! Ancamannya membuatku tak bisa berbuat apa-apa.
Terpaksa, aku mengikuti aturannya. Aturan si Roger pria psikopat itu.
Hhh...
Entah mengapa, dari tiga bersaudara putra-putri kak Tania... hanya dia yang bertemperamen jauh berbeda. Mungkin dia lebih condong memiliki gen Papa-nya yakni Papa Bambang ketimbang Kak Chris dan Fika.
Christian pria gentlemen. Begitu juga Fika. Mirip putri-putri kerajaan yang anggun mempesona.
Sifat mereka lembut, kalem dan tidak urakan seperti Roger Gibran Suherman.
Aku yang mengandung dan melahirkan Dzakki, tapi dia yang memiliki sepenuh hati. Rasanya aku seperti hidup dalam kungkungan.
Tapi aku senang, putraku tidak kekurangan kasih sayang. Semula kupikir hanya kak Jo seorang yang sayang Dzakki. Ternyata... Tuhan mengirimkan orang lain lagi yang bisa dijadikan sosok Ayah untuk buah hatiku. Meski sang Ayah kandungnya kini entah dimana. Aku tak tahu di mana Herdilan berada. Dan tak peduli juga pada keadaannya. Karena itu pilihan hidupnya sendiri.
Baik buruk jalan hidup seseorang, bukankah berawal dari pilihannya sendiri, bukan?
Kita manusia. Hanya bisa berencana. Tapi Tuhan Yang Maha Mengatur segalanya.
__ADS_1
...❤❤❤BERSAMBUNG❤❤❤...