
"Bu Viona, Ibu Tasya kemarin mengamuk. Bahkan sampai harus diikat di ranjang tidurnya karena hampir mencelakakan orang lain juga dirinya sendiri!" laporan perawat Anna membuatku terhenyak.
Padahal aku baru saja masuk dan duduk di kursi kerjaku belum satu menit pun.
Aku segera bergegas menemui Mama Tasya di bangsalnya.
Dengan wajah panik, kulihat dirinya yang terbaring di atas ranjang besi. Dengan tubuh terikat tali.
Matanya masih terpejam dan bibirnya terkatup rapat.
Mama... Bukankah kemarin-kemarin kamu sudah sehat? Bahkan kita sudah bisa berbincang santai sambil menikmati makan siang setiap minggunya.
Mama Tasya... Lekaslah sembuh, Ma! Bahkan Kak Christian berencana membawa Mama pulang ke rumahnya. Dan kita juga sudah mulai mendiskusikan, Mama bisa ikut aku jika Mama mau.
Aku hanya bisa bergumam dalam hati.
Terkejut melihat kondisinya kembali seperti di awal lagi.
Hhh...
Tiba-tiba mata Mama terbuka.
"Viona..."
"Iya, Ma! Ini Viona!..."
Kupegang jemarinya yang terlihat mulai keriput.
"Viona, Sayang! Maafkan Mama!" katanya dengan rembesan air mata di pipi.
"Mama... Viona sudah maafkan Mama, sejak dulu! Lupakan masa lalu. Mari kita memohon ampunan pada Allah Ta'ala saja, Ma!"
"Viona! Delan... sudah keluar dari penjara!"
Deg.
Jantungku seolah berhenti berdetak.
"Mama tahu darimana?" tanyaku penasaran dan sedikit was was.
Karena setahuku Delan divonis penjara lima tahun.
"Delan kemarin kemari!"
Deg deg deg deg
Deg deg deg deg
Jantungku berdenyut kencang.
__ADS_1
Pantas Mama kembali oleng. Ternyata ini sebabnya.
"Delan tahu kalau Mama di sini?"
"Iya. Hik hik hiks...! Dan Mama juga bilang padanya, kalau Viona yang merawat Mama selama ini! Dia juga, memberikanmu setangkai bunga! Itu...! Katanya, hari ini hari ulangtahun pernikahan kalian!"
Hampir meledak jantungku.
Lemas lututku, berurai air mataku.
Mama menunjuk ke arah meja nakasnya. Setangkai bunga mawar merah tergeletak di sana.
"Dia... sekarang ada dimana, Ma?" tanyaku gemetar.
"Delan bilang, dia akan bekerja keras. Dan akan membawa kita kembali bersamanya. Dia... ingin sekali bertemu dengan putranya, Viona!"
"Tak kan pernah kuperlihatkan wajah putraku pada Herdilan, Ma! Maaf... Aku tidak bisa memaafkan semua kesalahannya! Maaf..."
Seketika aku lupa pada jati diriku yang seorang medis. Aku konselor yang seharusnya memotivasi Mama Tasya dengan segenap rasa positif dari jiwa.
Tapi aku justru membuatnya kembali histeris berteriak-teriak dan menangis. Raungannya sampai menggema di lorong rumah sakit. Dan aku justru pergi berlari meninggalkannya sendiri dengan deraian air mata.
Mataku berkabut dan berkaca-kaca.
Dadaku terasa sesak serta sulit bernafas.
Hanya bisa terduduk dipinggiran taman rumah sakit. Sendirian. Tak ada yang menemani juga menghibur hatiku yang galau. Sampai...
Dokter Diandra memanggil namaku.
Segera kususut butiran yang jatuh dari kelopaknya. Tak ingin terlihat sedang sedih. Dan tak ingin keadaanku diketahui oleh dokter itu.
"Boleh aku ikut duduk?"
Aku mengangguk, lalu mengangguk. Menggeser pelan posisi dudukku agar ada tempat leluasa untuk dokter Diandra.
Tiba-tiba... dokter Diandra memeluk tubuhku.
Bibirnya terkatup, tak bersuara. Tak ada kata-kata apapun yang terlontar. Tapi jari jemarinya menekan pundakku dengan lembut sekali.
Seolah ada perasaan yang ingin ia bagi. Perasaan pengertiannya tentang nasib diri ini.
"Maaf... Aku menguping tadi, sewaktu kamu ada di ruangan ibu Tasya Jessica!"
Ternyata dia mengetahui nasib tragisku yang miris.
"Jangan khawatir! Penjagaan sekarang diperketat. Herdilan tidak akan bisa menyakitimu, Viona!"
__ADS_1
Deg deg deg deg
Deg deg deg deg
Aku teringat putraku. Dzakki Boy Julian.
Segera kulepaskan pelukannya. Lalu berlari setelah berteriak, "Aku harus menjemput Dzakki!"
Dzakki tidak boleh sampai diketahui keberadaannya oleh Delan! Tidak! Jangan sampai!
Please... please Tuhan! Jangan Kau pertemukan Delan dengan Dzakki!
Aku berlari ke ruanganku. Mengambil handphoneku lalu menelpon Bi Tini.
"Kakak! Kakak kau dimana? Dzakki sekolah kah hari ini? Tolong kakak tunggu Dzakki di sekolah! Please... please... Jangan tinggalkan Dzakki meski sekejap! Tolong bilang Kak Ken juga! Herdilan ternyata sudah keluar dari penjara!" pekikku gugup dan cemas sendiri.
Dokter Diandra mendatangi ruanganku.
Menarik telapak tanganku sambil berusaha menenangkanku.
"Viona, Viona... Tenanglah! Tenangkan dirimu! Tarik nafas panjang... Dzakki aman. Dzakki ada di sekolah dan sedang belajar di kelasnya! Tenanglah!"
"Tidak! Aku tidak bisa tenang! Dzakki adalah nyawaku, Dok! Tidak boleh terjadi sesuatu pada putraku. Tidak boleh!!!"
Aku gugup, panik. Gusar dan gundah gulana. Dada ini terasa panas hingga membuat merah wajahku.
"Aku sudah hubungi Christian juga! Dia dan istrinya akan menjemput Dzakki serta membawanya ke rumah mereka! Tenangkan dirimu, Viona! Kamu tidak sendirian! Please... Jangan buat dirimu jatuh, kali ini! Kamu kuat, Viona!"
"Hik hik hiks... Aku takut, Dok! Aku takut terjadi sesuatu pada anakku! Aku bisa mati jika Dzakki-ku tersakiti! Apalagi mama Tasya bilang, Delan akan kembali dan ingin membawa putraku pergi!"
Grep.
Lagi-lagi dokter Diandra menenangkanku dalam pelukannya.
Tuhan... Maafkan aku yang lemah ini, Tuhan!
"Tenanglah! Tenangkan hatimu, Viona! Aku akan selalu ada bersamamu. Menjaga Dzakki dari hal-hal buruk. Dzakki akan aman! Jangan khawatir!"
Hhh... Hanya tangisan kesedihan kini yang merajai hati ini. Tak sanggup rasanya jika harus kehilangan lagi orang-orang yang sangat kusayangi. Tidak! Jangan Tuhan, kumohon! Jangan ambil Dzakki dari hidupku! Please...
Aku tersadar. Lalu segera melepaskan pelukan dokter Diandra.
Aku tidak boleh lemah! Terlebih terlihat rapuh dihadapan pria ini, hingga dengan mudah menangis dipelukannya! Tidak! Tidak boleh!!!
"Maaf, Dok! Saya mau izin pulang setengah hari ke bagian perso! Permisi!"
__ADS_1
...❤❤❤BERSAMBUNG❤❤❤...