
Aku pulang ke rumah kak Jo. Seperti biasa,... dimanja oleh masakan enak bibi Tini dan perhatian ekstra kak Jonathan pastinya. Membuatku semakin betah dan nyaman tinggal di rumah besar yang cukup tersembunyi itu.
"Mulai sekarang, Viona tidak boleh keluar rumah!" ujar kak Jo membuatku sedikit meradang.
"Kenapa, Kak?"
"Sudah mau sembilan bulan, lihat kakimu sudah mulai terlihat bengkak-bengkak! Viona harus stay disini, biar bi Tini yang urus."
"Kakak salah. Justru kata dokter Lena kalau sudah memasuki usia kehamilan sembilan bulan, Vi harus sering jalan. Agar mudah proses persalinannya nanti!"
"Ish? Kapan Lena bilang begitu?" tanya Jo tak mau kalah.
"Aku khan sering DM-an via instagram!"
Kak Jonathan hanya tersenyum tipis. Aku justru yang tertawa lebar karena berhasil membuatnya seperti orang yang kalah.
"Hehehe...! Aku pulang dulu, Kak! Harus bebenah dulu juga di rumah kontrakan. Maaf, ya? Kalau sudah masuk sembilan bulan baru Vi akan kesini dan tinggal di rumah ini. Ya?"
"Dengar Viona! Sekarang suasana kehidupan mantan suami dan mantan mertuamu sedang memanas. Bukan maksudku mengekangmu! Tapi khawatir bocah labil itu akan mengusik kehidupanmu lagi ketika ia dalam keadaan yang sekarang ini!"
Aku termenung. Perkataan kak Jo ada benarnya. Dan aku wajib waspada dari si Herdilan juga.
Setidaknya untuk saat ini memang aku aman di rumah kontrakan. Tapi, entah untuk seminggu kemudian.
Herdilan saat ini pasti sedang marah besar. Mama masuk penjara, istrinya melaporkannya, kini sang Papa juga terkena kasus besar.
Hhh...
...๐๐๐๐๐๐...
In Frame "Kesedihan Itu Datang Lagi"
Hari Senin, cuaca tak secerah hari Minggu kemarin.
Viona telah kembali pulang dari menginap di rumah Jonathan selama dua hari.
Jo juga kembali sibuk dengan rutinitasnya sebagai pengusaha traveling, pengusaha pariwisata, dan pengusaha lain sebagainya yang ia geluti.
Jo bisa berhari-hari bahkan berminggu-minggu tidak pulang ke rumah. Sibuk mengurusi bisnisnya yang ada di mana-mana.
Sementara itu di rumah sakit tempat Firman di rawat, keadaannya masih tetap mengkhawatirkan.
Firman masih koma, hanya bergantung dengan alat-alat kedokteran yang menempel di seluruh tubuhnya.
Hari ketiga Firman dirawat, Mutia datang di antar suaminya. Mereka benar-benar pasangan yang solid kini. Meski ada kisah sedih sebelumnya diantara keduanya.
Christian bukanlah pria kasar yang tidak memahami kegundahan batin istrinya.
Mutia Permata Melody adalah perempuan yang ia nikahi setelah kejadian tragis di malam pelantikannya di sebuah hotel bintang lima sebagai CEO Perusahaan Trading-nya saat itu.
Hhh...
__ADS_1
Kejadian dimana Mutia, salah satu pengisi acara di malam pesta untuknya telah diculik dan disekap para manusia gila. Mutia dicekoki minuman perangsang.
Christian yang kebetulan melihat gelagat tak wajar dua orang pria yang membawa seorang perempuan dalam kondisi setengah sadar dalam satu lift gedung jadi curiga.
Christian diam-diam mengikuti mereka. Mengintai di lantai berapa mereka stay.
Ternyata... Mutia hampir menjadi korban pemerkosaan para pria hidung belang yang berotak mesum berfikiran binatang.
Untunglah Christian yang juga seorang sabeum olahraga bela diri taekwondo segera menggagalkan peristiwa getir itu.
Kedua pemuda jahat itu kocar-kacir terkena gebukan dan hantaman tangan kosong Christian. Tinggal-lah Mutia yang kini setengah sadar di salah satu kamar hotel itu.
Namun kondisi Mutia yang sudah terkontaminasi oleh obat perangsang menjadi sangat berbeda. Ia membuka seluruh pakaiannya. Membuat wajah Christian memanas seketika.
Mutia yang dalam kondisi fly itu memeluk tubuh Christian erat. Bibirnya mengeluh panas dan ucapannya ngawur dipenuhi des*han yang membuat Christian bingung.
Sebagai lelaki normal berusia 29 tahun kala itu, melihat dan mendapatkan dorongan rangsangan yang dahsyat dari seorang perempuan muda cantik adalah suatu ujian maha besar baginya.
Christian juga kasihan melihat perempuan itu terus-terusan menggelepar memintanya melakukan sesuatu yang bisa membantu turun kembali hawa panas dalam tubuhnya itu.
Dan... malam itu, malam dimana Christian menggagahi Mutia.
Gadis berusia 23 tahun, tunangan dari Firman Setiawan.
Christian yang memang baru saja menyandang status jomblo, habis putus dari pacarnya beberapa minggu itu tak ingin lepas dari tanggung jawab. Ia menunggu gadis yang semalam menyerahkan jiwa raganya itu dijaganya hingga sadar. Setelah Mutia sadar, Christian mengajaknya berbicara serius soal kejadian semalam. Intinya ia bersedia menikah dengan Mutia jika memang Mutia menginginkan pertanggungjawabannya.
Saat itu Mutia marah besar.
Firman adalah kekasih pertamanya. Dengan Firman, Mutia sudah mendapatkan apa yang ia idamkan. Pacar yang tampan, baik hati dan pengertian. Bahkan Firman benar-benar menjaganya. Pemuda itu tak pernah ingin merusak kesucian Mutia hingga penghulu nanti men-sah-kan keduanya di pelaminan.
Meski Christian seorang CEO muda yang kaya raya tajir melintir,... ia tidak pernah sedikitpun tertarik dan melepaskan Firman.
Ternyata... Takdir berkata lain.
Mutia hamil. Mutia bingung.
Benih Christian telah tertanam di rahimnya.
Mutia menutupi semuanya dari Firman. Bahkan kalau ia nyaris jadi korban pemerkosaan orang-orang jahanam.
Akhirnya... Mutia, dengan sangat berat hati memutuskan hubungannya dengan Firman yang sudah dua tahun mereka jalani.
Mutia tahu, ia sangat jahat pada Firman. Ia merasa dirinya telah begitu kotor hingga diam-diam mengandung benih pria lain di rahimnya.
Mutia menerima lamaran Christian pada akhirnya, demi menutupi aib kalau ia tengah mengandung. Hingga di usia pernikahan mereka yang baru enam bulan, Mutia melahirkan sepasang bayi kembar hasil dari benih Christian.
Hingga kini, Firman masih tetap nomor satu di hatinya. Christian yang paling tahu itu. Dan tak pernah sekalipun menekan Mutia dengan alasan kini mereka adalah suami istri yang sah dimata agama dan negara.
............
Mutia memandangi wajah Firman yang putih pucat. Pria yang pernah mengisi hari-harinya selama dua tahun lebih itu hanya terbaring lemah tak sadarkan diri.
__ADS_1
Air mata Mutia mengalir terus menerus.
Jemari lentiknya menggenggam erat tangan yang dulu selalu setia menemaninya dalam suka maupun duka itu.
"Firman... bangunlah! Sadarlah, Man!... Hik hik hiks...!"
Bibirnya bergetar mengucapkan banyak pengharapan. Christian masih setia menemaninya. Sang Suami berdiri di belakang kursi plastik yang Mutia duduki.
"Firman...! Ayo sadar! Kembalilah sehat seperti sedia kala. Aku, masih selalu melihatmu dari kejauhan. Masih mendoakanmu semoga mendapat jodoh yang terbaik yang menerimamu apa adanya! Firman...! Hik hik hiks... Aku minta maaf! Aku, telah membuatmu terluka selalu! Maaf..., maaf, Firman! Kumohon maafkanlah aku! Aku tidak bisa menemanimu sampai akhir! Aku... Aku ini perempuan yang jahat!"
Air mata Mutia jatuh bahkan hingga menetesi punggung lengan Firman.
Tiba-tiba...
"Fi Firman! Mas, Firman sadar!!!"
Christian segera berlari menuju tempat dokter jaga. Memberitahu kalau pasien bernama Firman telah siuman.
Firman kemudian di periksa dokter dan para nakes yang mengelilinginya. Cek up sana sini, Firman pun di lepaskan dari alat bantu pernafasannya.
"Mutia!..."
"Aku ada di sini, Man!"
"Mutia..."
"Aku... aku minta maaf atas semua kejahatan yang telah kulakukan padamu, Man! Hik hik hiks..."
"Jangan menangis, Mutia! Aku, sudah tahu... yang sesungguhnya. Itu sebabnya, aku menjadi orang media. Untuk... menyelidiki, kenapa... kamu berubah!"
"Hik hik hiks... Firman!"
"Kamu tetaplah kekasih hatiku yang setia."
"Firman..."
"Aku..., bangga...padamu!... Mas... Chris,... aku... titip Mutia! Tolong ja jaga...dia!"
Tiba-tiba...
Denyut jantung Firman melemah. Alat pacu yang masih terpasang di dadanya itu terdeteksi mengkhawatirkan.
"Dokter!!!" teriak Christian keras.
"Aku... sudah bahagia, melihatmu bahagia Mutia! Aku... baha...gi...a!"
"Firmaaan!!!"
Mutia memekik kencang. Tangisannya pecah seketika. Tubuh Firman perlahan mengendur. Urat nadinya tak lagi berdenyut menandai kehidupannya di dunia telah usai.
Firman... telah meninggal dunia. Dengan senyuman manisnya yang masih tipis tersisa.
__ADS_1
...โคโคโคBERSAMBUNGโคโคโค...