
Treeet... treeet... treeet
Treeet... treeet... treeet
Aku terbangun dari tidur siangku. Ini masih di rumah kontrakan. Dan aku memang menutup kedai miniku yang berjualan di teras rumah. Demi menjaga kesehatanku juga, agar tak terlalu capek.
Ira menelpon.
"Hallo, ya Ra? Kenapa, Ra? A-apa???"
Seketika tubuhku lemas. Tangan ini bergetar hingga handphone yang kupegang lepas dari genggaman.
Kak Firman meninggal dunia pukul empat sore tadi.
Kak Firman meninggal dunia? Kak Firman???
Seperti mimpi mendengar kabar berita dari Ira Lupita.
Mimpi yang sangat buruk, hingga cukup lama aku hanya mematung bengong di atas ranjang tidur.
Benarkah kak Firman meninggal dunia? Bukankah kemarin siang kakak kandungnya bilang kondisinya sudah lebih baik? Bukankah kak Firman hanya tinggal menunggu siuman dari komanya saja?
Aku menelpon kak Jo. Mengabarinya kalau aku akan pergi ta'ziah ke kediaman kak Firman bersama Ira.
Kak Jo mengiyakan. Ia minta maaf karena posisinya yang jauh dari Ibukota membuatnya tak bisa mengantarkan kak Firman ketempat peristirahatan terakhir. Namun, ia berpesan agar aku menjaga kesehatanku juga. Demi calon jagoannya katanya.
Ira menjemputku dan kami segera ke rumah Firman menunggu jenazahnya datang dari rumah sakit.
Pemakamannya dilakukan esok hari, di kampung halaman kedua orang tuanya, Pemalang.
Aku benar-benar tak percaya, kalau kak Firman telah tiada.
Airmataku dan Ira menetes tiada henti. Beberapa bulan terakhir ini kami sangat akrab. Bahkan intens menchat satu sama lain. Saling support, saling dukung dan memberi motivasi untuk kehidupan kami agar lebih baik lagi.
Aku pun... apalagi.
Kak Firman bahkan sampai akhirpun selalu tetap yang terbaik di hati ini.
Masih teringat semua perkataannya. Masih terngiang tawanya yang renyah. Masih terbayang senyumannya yang manis.
Kak Firman Setiawan. Sahabat sekaligus saudara yang menyenangkan hingga akhir hayatnya.
Malam sebelum jenazahnya di bawa ke Pemalang nanti, kami masih berkumpul dengan beberapa teman kampus dan teman sejawatnya kak Firman. Mengaji surat yassin bersama menjadi kegiatan wajib, mengantarkan almarhum ketempat yang lebih indah di sisi Allah Ta'ala.
Dengan derai airmata, aku dan Ira membaca surat yassin. Pukul tujuh malam, masih stand bye di rumah duka.
Satu yang jadi pusat perhatianku. Sepasang suami istri yang duduk agak pojok.
Kak Mutia dan kak Christian!
Kak Mutia Permata Melody. Berkerudung brukat warna hitam. Memakai kacamata hitam pula. Tapi aku perhatikan, isak tangisnya tetap terlihat meskipun kacamata hitamnya menutupi.
__ADS_1
Disebelahnya ada sang Suami. Duduk bersila dengan tenang sembari sesekali memberikan tissue kepada sang Istri.
Kak Mutia, terlihat begitu shock sekali! Apakah ia menyesali perbuatannya dulu pada kak Firman? Yang memutuskan hubungan pertunangan sebelah pihak tanpa perasaan, lalu menikah dengan kak Christian Suherman...karena lebih sukses dan kaya raya?
Hhh...
Dug.
Ira menyenggol tanganku.
"Itu, mantan kak Firman juga ada di situ!" gumam Ira berbisik pelan.
"Iya!"
"Ngapain dia datang? Bikin panas suasana!" oceh Ira kesal setelah menutup buku yassin yang tadi dibacanya.
"Sstt..."
Treeet... treeet... treeet...
Kak Jonathan menelpon.
"Iya, Kak? Vi masih di rumah duka. Iya, iya. Vio pulang sekarang. Ini baru selesai mengaji, Kak!"
Klik.
"Siapa? Jonathan? Apa katanya?"
"Hehehe...! Ya udah, pamit pulang yuk! Teman-teman yang lain juga sudah pulang satu persatu!" tukas Ira kujawab dengan anggukan.
Aku dan Ira pamit pulang pada keluarga kakaknya kak Firman yang mengurus semua.
Kami juga mohon maaf, tak bisa mengantar kak Firman ke Pemalang. Ke tempat peristirahatan yang terakhirnya. Karena lokasinya yang jauh.
Dengan memesan taksi online, aku dan Ira pulang berlainan arah. Tapi aku mengatakan pada Ira, agar lusa jika ia off kerja segera menghubungiku dan ia boleh main ke rumah kak Jo.
Tentu saja mata Ira membulat tak percaya.
"Yang bener, lo Vi? Gue boleh main ke rumah kak Jo? Boleh nemuin lo disana?"
Aku mengangguk.
Aku memang sudah meminta izin kak Jo untuk mengajak Ira sowan ke rumahnya. Ada banyak yang ingin kuceritakan. Supaya lega pula hatiku karena menanggung beban berat ini.
Ira sudah kuanggap saudara. Rasanya jahat jika aku terus-terusan menutupi masalahku dengan kak Jo. Setidaknya Ira tidak akan salah faham nantinya.
Kami berjanji, lusa bertemu lagi.
..............
"Ira! Nyasar ga?"
__ADS_1
"Hei, Viona! Hehehe... ga lah!"
"Ayo masuk!"
Aku mendapati Ira di gerbang rumah kak Jo setelah dua hari yang kami janjikan.
Aku memang telah pindah ke rumah kak Jo sejak kemarin, dari rumah kontrakan. Secara seminggu lagi kandunganku masuk usia sembilan bulan. Berarti hari persalinan itu akan segera tiba.
"Pemilik rumahnya ada?" bisik Ira. Sepertinya ia gugup, karena telapak tangannya basah dan dingin.
Aku tertawa kecil sambil menggeleng.
"Sudah lima hari gak pulang!"
"Hadeeuh... pengusaha koq mirip bang toyib ya?!"
Kami tertawa bersama sembari melangkah masuk ke dalam rumah yang terlihat kecil dari luar namun megah dan besar di dalamnya.
"Keren ya rumahnya! Walau masih lebih keren rumah miss Tasya Jessica! Eh... kudengar kabar burung, pihak kepolisian sudah menyita aset-aset berharga Tasya Jessica dan pak Bambang juga ya?"
"Iya kah?... Proses masih terus berlanjut sepertinya ya?"
"Feelingku itu miss Tasya bakal cukup lama mendekam. Kasusnya berlapis ya, Vi? Kasus pencucian uang Bambang Suherman juga sebagai istri mudanya!"
"No comment ah aku! Takut salah, Ra!"
"Aku juga tahu dari berita online! Hhh... Ngomongin berita online aku jadi pingin nangis. Inget kak Firman!"
Aku hanya bisa menelan saliva. Mengenang kembali wajah tampan yang luar biasa itu.
"Aku ga percaya kalau umurnya begitu pendek, Vi! Bahkan dia belum pernah merasakan bahagia, menikah! Hik hik hiks..."
"Kebahagiaan kak Firman kini ada di sisi Allah Ta'ala pastinya, Ra!"
Hhh...
Bi Tini menyambut kami dengan sapaan khasnya yang manis.
"Nona, kata Tuan Jo kalian bisa pakai gazebo untuk jamuan teman istimewa Nona Vio! Saya sudah siapkan semuanya di sana!" ucap Bi Tini membuat Ira ternganga.
"Gokil! Nasib lo mujur selalu ya? Lepas dari si Delan, dapat Om-nya dan lo jadi cinderella juga di rumah ini!" pekiknya tak percaya ketika kaki ini melangkah masuk ruang taman mini rumahnya kak Jonathan.
Aku hanya tersenyum sembari geleng-geleng kepala melihat tingkah Ira yang berlebihan.
"Lo koq bisa seberuntung ini sih, Vi?" tanyanya bercanda.
Aku hanya mendengus sengau. Lalu tertawa lagi melihat Ira yang langsung memetik buah anggur dari pohonnya yang menggantung di atas gazebo bambu.
"Lo mau jadi gue? Hamil, jadi janda? Ga jelas kehidupan gue kayak gimana?"
"Hehehe... Ya ga segitunya juga kali, Vi! Woles lah, Vi! Jangan nge-gas! Hihihi..."
__ADS_1
...❤❤❤BERSAMBUNG❤❤❤...