
Hari istimewa yang Viona dan Roger tunggu akhirnya datang juga.
Keduanya telah sepakat menentukan tanggal bahagia mereka.
Namun sebelum hari H tiba, Roger beserta rombongan keluarga menyambangi kediaman Om Tama di bilangan Ibukota bagian barat.
Viona sendiri telah memberitahukan keluarga Om dan Tantenya itu, perihal pernikahannya yang kedua.
Mereka sangat antusias dan tak sabar menanti hari besar Viona Roger bersanding di pelaminan.
Untuk melewati tahap itu, keluarga Roger melakukan kunjungan silaturahmi ke kediaman keluarga Viona terlebih dahulu. Hanya untuk basa-basi perkenalan antar anggota keluarga sesuai tradisi saja.
Seperti biasa, Christian menjadi leader bagi adik-adiknya.
Ia mewakili adiknya menyerahkan mahar seserahan untuk pernikahan yang akan di gelar tiga minggu kemudian.
Tentu saja membuat keluarga besar Viona bahagia. Dan ramai decak kagum para tetangga dan kerabat yang ikut hadir di acara lamaran itu.
Viona Yuliana, janda beranak satu itu benar-benar sangat beruntung. Dipersunting oleh pria bujangan, tampan dan ternyata juga bukan orang sembarangan. Bahkan serahannya pun bukan kaleng-kaleng.
__ADS_1
Status janda dan pernah menikah itu tak menjadikan Roger surut niat bulatnya menikahi Viona dengan pesta besar-besaran.
Viona menangis haru, melihat kesungguhan Roger yang tak main-main. Membuat hatinya berdebar bahagia.
Tiga minggu kemudian, mereka akan mengucap janji suci sehidup semati, seiya sekata. Bersumpah setia selamanya. Hingga maut yang akan memisahkan mereka.
Para saudara, kerabat dan sahabat ikut senang melihat kebahagiaan keduanya yang terpancar dari aura wajah cerah Viona juga Roger.
Salah satu kerabat itu adalah Herdilan dan juga Tasya Jessica.
Tasya sesekali mengusap bulir airmatanya. Senang, haru namun juga ada sedikit sedih di hati. Mengenang kebahagiaan putra tunggalnya dahulu bersama wanita yang kini berdiri di samping sang ponakan.
Takdir membawa mereka terus saling bertautan.
Tuhan Maha Berkehendak.
Viona terlihat sangat cantik. Wajahnya berseri. Senyuman mengembang dengan sumringah. Sangat terlihat ketulusannya yang menerima cinta Roger sepenuh hati.
Herdilan hanya bisa menatap Roger dan Viona dari kejauhan. Sengaja ia mengambil tempat paling belakang agar kehadirannya tak disadari orang lain.
Dzakki mendatanginya.
"Papi... kenapa Papi duduk di sini? Ayo kesana, duduk di depan dekat Ayah dan Mami!" tanya sang putra.
"Papi di sini saja ya? Papi tak mau mengganggu kebahagiaan Mami dan Ayah, Nak! Tapi Papi senang, mereka berdua akhirnya bisa bersama. Juga kita, Dzakki dan Papi. Bisa sama-sama tinggal kapanpun Dzakki mau."
Dzakki menggelayut di lengan Papinya. Tersenyum sembari mengangguk senang. Bocah itu memang belum mengerti banyak hal. Belum tahu dengan jelas kegundahan hati Herdilan yang kini sedih karena tak bisa lagi mendamba Viona.
Hari bahagia Viona adalah hari duka bagi Herdilan.
__ADS_1
Ternyata pembalasan dendam yang paling hebat dari istri pertamanya itu adalah senyuman kebahagiaan Viona di hari bahagianya ini.
Herdilan nyaris susah bernafas.
Bibirnya seperti kelu dan lidahnya kaku.
Walau ia bersikap senormal mungkin dengan segaris senyum di bibir, namun hatinya tak dapat ia bohongi. Delan masih mendamba Viona. Masih sering mengkhayal kalau suatu hari nanti mereka bisa bersama lagi.
"Ikhlaskanlah Viona bahagia, Lan!"
Herdilan tersentak kaget. Matanya meredup mendapati tepukan tangan sang kakak tiri yang ternyata memperhatikannya dari tadi.
"Aku turut bahagia, Mas! Selalu kudoakan Viona dan mas Roger bahagia selamanya!"
"Aamiin..."
"Mas..., aku hanya malu pada diriku sendiri. Sewaktu statusku masih menjadi suami dari Viona, aku tidak bisa menjaga kebahagiaannya. Aku justru menyakitinya dengan sangat jahat!"
"Kuharap kamu bisa mengambil pelajaran untuk hidupmu kedepannya. Jangan sedih, masa depanmu masih panjang! Semangatlah, adikku!"
Herdilan terharu. Kakak tirinya benar-benar sangat baik hatinya. Tidak seperti dirinya yang masih seringkali labil dan kadang masih punya fikiran jelek.
"Mas...! Maaf kalau tiba-tiba aku menghilang pulang lebih dulu dan tanpa pamit pada Viona juga mas Roger. Bukan aku benci melihat mereka bahagia, tapi aku takut kehadiranku di lihat banyak orang. Yang akhirnya malah merusak hari bahagia mereka."
Christian mengangguk. Ia mengerti maksud ucapan adik tirinya itu. Secara batin, Herdilan pasti sangat sedih melihat mantan istri pertamanya berdiri di depan sana. Tersenyum bahagia menuju hari pernikahan mereka.
"Mas Chris, aku duluan ya!? Titip Mama, tolong katakan pada Mama kalau aku pulang lebih dulu!"
"Iya. Jangan khawatir, Mamamu akan kuantar nanti pulang sampai rumah! Dan kau... jangan terlalu banyak fikiran!"
Herdilan mengangguk pelan. Berjalan lemas perlahan menjauhi rumah Om Tama, menyusuri jalanan trotoar ibukota.
__ADS_1
...❤❤❤BERSAMBUNG❤❤❤...