PEMBALASAN DENDAM ISTRI PERTAMA (I Don'T Love You Anymore)

PEMBALASAN DENDAM ISTRI PERTAMA (I Don'T Love You Anymore)
SESSION 2 WAKTU TERASA LAMBAT BERGULIR


__ADS_3

Masih menceritakan keseharian Herdilan. Waktu terasa lambat bergulir.


Detik-detik seperti langkah pengemis tua renta yang terseret tertatih-tatih. Berat sekali.


Delapan bulan lagi, bukan waktu yang sebentar.


Dan Herdilan berusaha memaksimalkan kehidupannya di negri orang.


Seenak-enaknya ia dirantau, tetap saja fikirannya tertuju pada negaranya tercinta.


Sesekali ia menyambung silaturahim via telepon dengan saudara-saudaranya. Christian dan juga Roger.


Sesekali pula ia juga video callan dengan putra semata wayangnya, Dzakki Boy Julian.



...[Papiii! Dzakki sudah lulus TK!]...


"Alhamdulillah...! Selamat ya, Dzakki! Sekarang Dzakki mau masuk Sekolah Dasar ya?" kata Herdilan dengan kebanggaan luar biasa.


...[Iya. Umur Dzakki sudah enam tahun lebih. Kata Mami sebenarnya belum bisa masuk SD tahun ini. Tapi nilai raport Dzakki bagus, Pi! Jadi kepsek SD mengizinkan Dzakki daftar tahun ini juga!]...


Herdilan benar-benar bahagia.


Senyumannya tampak lebar dan tak lepas dari bibir. Wajah putra tercinta semakin tampan dan terpancar kedewasaan yang membuatnya semakin bahagia.


"Dzakki mau Papi kirimin apa, Nak? Nanti Papi cari dan belikan di hari libur."


...[Dzakki cuma mau Papi cepat pulang. Hehehe...! Dzakki kangen Papi]...


Raut wajah Herdilan seketika berubah. Mengharu biru perasaannya, mendengar ucapan polos sang bocah yang sangat tulus.


Andaikan ia tak malu, nyaris jatuh airmata karena rasa yang beragam bergejolak di jiwa.


"Doakan Papi segera pulang ya, Nak! Tujuh bulan lagi kita ketemu, Dzakki!"


...[Yeaay...!]...


Senang rasanya melihat Dzakki berjingkrak gembira.


...[Papi, papi...! Anti Fika mau nikah enam bulan lagi sama Papanya abang Dirga!]...


"Waah?!? Iyakah? Akhirnya Dzakki jadi sodaraan sama abang Dirga ya?"


...[Iya. Papi..., Mami juga sudah hamil dua bulan! Dzakki mau sunat nanti kalau Papi pulang. Dzakki bakalan punya adik!]...


Herdilan benar-benar terpana mendengar celoteh sang buah hati.


Pancaran mata Dzakki terlihat berbinar indah meski hanya lewat ponsel. Herdilan terpesona. Anaknya sedang sangat gembira.


"Syukurlah! Papi pulang nanti Dzakki sunat!"


...[Papi, sudah dulu ya VC nya. Dzakki mau ngaji dulu! Ustad Syam sudah datang! Bye, Papi. Assalamualaikum]...


"Waalaikumsalam, Nak!"


Herdilan hanya bisa menatap gambar diri sang putra kebanggaan yang kini telah tumbuh dewasa.


Wajahnya, perpaduan dirinya dengan Viona.


Meskipun banyak orang menilai kalau Dzakki lebih mirip Roger, kakak tirinya. Tapi bagi Delan, Dzakki adalah gambaran dirinya di masa kanak-kanak. Sangat persis.

__ADS_1


Tok tok tok


Ciko mengetuk jendela kamarnya.


Hari ini memang hari libur. Bersyukur sekali Herdilan, karena perusahaan tempatnya bekerja memberi waktu dua hari libur selama seminggu.


Walaupun jam kerja mereka tidak fleksibel dan tak sesuai jadwal. Namun hari Sabtu dan Minggu adalah hari kemerdekaan bagi Herdilan untuk bermalas-malasan.


"Keluar yuk?"


"Kemana?"


"Menara kembar! Nongki ngopi lah, bro! Hari ini pembukaan cafe Seruni tempat project mural kita seminggu lalu. Cari gratisan! Lumayanlah! Jom..."


Herdilan merenung sejenak. Ia ingat PR sekaligus owner cafe memberi kabar kalau mereka mengizinkan ia dan Ciko sowan mengunjungi launching gunting pita cafe mereka dengan undangan VVIP sebagai tamu istimewa.


"Tunggu, Cik! Ganti kostum dulu!"


"Jiaaah ha ha ha, gaya lo! Janganlah dandan terlalu keren! Malu lah I nih berdiri samping awak!"


"Hahaha...! Cari baju yang agak bagusan dikit. Macam orang susah za kita ni di perantauan!"


Ciko tertawa lepas. Ia menggoda Herdilan dengan gimik garingnya.



"Alamak, kau...! Macam direktur utama saja dandananmu! Paling rendah, sekelas manajer lah! Ciwi-ciwi bisa terpincut wajah tampan dan tubuh tegapmu, Lan!"


"Haish! Manalah ada. Kantong kering macam begini, mana ada cewek yang mau! Dahlah... Hari gini janganlah bahas cewek! Kulapor bini kau, kena SP kau!" ancam Herdilan membuat Ciko langsung meninju bahu sahabatnya itu.


"Kaulah! Mana ada aku ban serep disini! Biniku itu memantau 24 jam walaupun jauh di kota kembang!" sungut Ciko membuat Herdilan tertawa ngakak.


....


Cafe Seruni berada tak jauh dari sana. Agak sedikit masuk ke wilayah Tapak Urban Street Dining.


Ternyata suasananya sangat ramai, di malam pembukaannya. Berbagai macam orang dengan style dan gaya masing-masing. Dan nampak sekali kalau mereka yang hadir bukan hanya karyawan biasa seoerti mereka, namun banyak juga kalangan kaum borju yang datang.


Suara live music terdengar hingar-bingar. Hentakan irama beat yang membuat sebagian pengunjung turun melantai mengikuti alunan nada yang ceria.


"Agak mirip diskotik ya?" bisik Herdilan bergumam.


"Hm!"


Ciko hanya berdehem, mengiyakan. Matanya melihat kanan kiri dengan fokus. Seperti mencari-cari seseorang yang mungkin ia kenal.


"Rihana!"


"Bang Ciko! Sini, Bang!"


Herdilan terpaku. Agak kesal hatinya mengetahui ternyata Ciko sudah janjian dengan teman-teman wanita.


Sahabatnya itu memang pria yang ramah. Dalam arti sebenarnya. Wawasannya luas, pergaulannya juga keren.


Temannya dimana-mana.


Bukan hanya sesama warga negara Indonesia saja, bahkan penduduk pribumi pun cukup banyak yang jadi temannya.


Untuk urusan gender pun, Ciko tak pilih-pilih dalam pertemanan. Cowok, cewek. Hingga kadang Herdilan risih dan canggung untuk ikut bergabung teman se-server nya Ciko.


"Tumben bang Herdilan ikut!" goda seorang wanita muda bertubuh mungil. Membuat Delan hanya menyunggingkan senyum tipisnya.

__ADS_1


"Ayo sini, gabung sama kita!"


Empat wanita dan satu orang pria menyambut Ciko serta Delan dengan ramah. Mereka mengulurkan tangan dan saling berjabatan.


"Endah!"


"Herdilan!"


"Kenanga!"


"Herdilan!"


Dua perempuan termasuk Rihana dan satu lelaki hanya tersenyum tanpa mengucapkan nama. Tak seperti dua perempuan cantik yang kini matanya tak berkedip menatap Herdilan.


Sepertinya sedang terpukau.


"Stt...! Mereka ini mahasiswi yang sedang menuntut ilmu di sini, Lan!" bisik Ciko ke arah Herdilan. Sementara orang yang dibisiki justru cuek bebek menatap sekeliling.


Delan hanya mengangguk-angguk seperti mengiyakan ucapan Ciko.


"Abang Herdi sarjana managemen ya, kata bang Ciko?" tanya Rihana dengan suara keras. Maklum, hentakan musik yang jedag-jedug membuat suaranya hanyut tersamarkan.


Delan tersenyum tipis, segaris. Ia tak menjawab. Karena malu untuk memberitahu titelnya, sedangkan saat ini hanyalah seorang karyawan kontrak tak memiliki jabatan.


"Kenanga dan Viona juga saat ini kuliah jurusan managemen bisnis, semester enam!"


Deg.


Herdilan langsung menoleh ke arah gadis yang tak menyebutkan namanya. Ia terlihat santai menanggapi cerita Rihana soal dirinya.


Viona? Namanya ternyata Viona. Seperti nama istri pertamaku. Viona Yuliana!


Herdilan hanya bisa menelan ludahnya sendiri. Menunduk memperhatikan ujung sepatu kets-nya yang baru ia beli sekitar sebulan lalu.


Seorang waitress menghampiri mereka dengan nampan di tangan. Rupanya para mahasiswi dan seorang mahasiswa itu sudah memesan minuman.


"Kami ke meja bartender dulu ya?" kata Ciko meminta izin pada semuanya. Keduanya bangkit dan berjalan menuju ruang pojok tempat pemesanan minuman.


Herdilan mengekor dari belakang.


"Pesan dua minuman yang jadi primadona di cafe ini!" kata Ciko pada sang bartender.


"Nak minuman cocktail kah?" tanyanya ramah.


"Boleh. Tapi jangan yang terlalu strong ya?"


"Woke, boss! Saye nak buatkan blackberry gin gimlet!"


"Abang Herdi, maukah berdansa dengan saya?"


Herdilan menoleh. Rihana berdiri tepat dihadapannya. Dengan wajah cantik menawan dan tatapan sendu merayu.


Sepertinya anak ini sudah setengah mabuk! Wajahnya memerah karena pengaruh alkohol.


Herdilan menghela nafas.


Ciko tertawa terkekeh-kekeh.


"Tarik saja, Rihana! Abang ni masa muda dahulu jagonya dia! Hahaha..."


Herdilan tampak gelagapan ketika tangannya ditarik cepat oleh perempuan yang usianya mungkin sekitar 25 tahun itu.

__ADS_1


...❤❤❤BERSAMBUNG❤❤❤...


__ADS_2