PEMBALASAN DENDAM ISTRI PERTAMA (I Don'T Love You Anymore)

PEMBALASAN DENDAM ISTRI PERTAMA (I Don'T Love You Anymore)
BAB 82 Menunggu Status Istri Berubah Menjadi Mantan


__ADS_3

Hari ini aku benar-benar gerak cepat. Setelah bertemu Delan dan menyerahkan berkas perceraian agar ia segera menandatanganinya.


Meskipun responnya seperti perkiraanku, tapi aku menunggu kepulangan mama Tasya dan juga Lady Navisha. Istri kedua Herdilan.


Ternyata kedua wanita beda generasi itu sudah sangat akrab satu sama lain.


Keduanya pulang bersama dalam satu mobil. Bercengkerama saling rangkul dan tertawa lebar. Serius asyik berdua dengan obrolan seru, sepertinya.


Sungguh dua perempuan yang sama-sama tak punya malu!


Mama Tasya terkejut melihatku yang duduk santai di ruang tamu cozynya.


"Vi-Viona..."


"Tolong sampaikan pada mas Delan, Ma! Tandatangani berkas akta cerainya segera. Vio gak akan menyusahkan kalian semua. Tak akan berurusan lagi kini. Hanya rumah papa Bambang dan butik Mama yang Vio ambil! Sedikit bukan? Anggap itu harta gono-gini untuk Viona!"


Aku keluar setelah menyampaikan pesan dengan wajah datar.


"Viona,...Viona tunggu!"


Mama Tasya mengejarku. Beliau memeluk tubuhku dari belakang. Terdengar isak tangisnya serta hembusan nafas sedihnya menerpa kulit leher belakangku.


Aku diam tak bergeming. Hanya tetesan air mata kekecewaanku padanya.

__ADS_1


Mama Tasya...


Yang dulu kuanggap adalah malaikat tak bersayap. Yang manis cantik, putih bersih tak banyak noda.


Ternyata... dibalik keindahan wajah serta tubuh molek sebagai mantan artis yang begitu eksis menjaga body goalsnya. Tersimpan sifat culas juga iri dengki yang sangat besar kepada sepupunya sendiri.


"Maafkan Mama, ya Vi! Hik hik hiks..."


"Vio dulu begitu menyayangi Mama! Sangat mengagumi sifat baik Mama juga pekerja keras yang ulet gigih dalam membangun bisnis hingga menjadi besar. Tak sangka... Mama ternyata bisa begitu santainya mengizinkan mas Delan menikah lagi hanya karena perempuan keduanya itu adalah artis talent Mama!"


"Bukan begitu, Vi! Kamu salah mengartikannya."


"Apa? Ada alasan lain apa, selain karena status Lady yang kini jadi yang kedua? Sama seperti Mama?"


"Lalu???"


"Maaf... jika Mama mengecewakanmu! Tapi karena Mama selalu lemah jika mengingat kehidupan sedih Lady yang ditindas pamannya. Juga ternyata Lady mengandung anak Delan, Vi! Itu saja!"


"Itu saja?? Lalu Mama lebih berempati pada derita perempuan itu, daripada dengan Viona yang sudah setahun menjadi pasangan resmi mas Delan? Dia... baru tiga bulan bersama mas Delan! Dan hanya karena dia mengandung bayi yang katanya anak mas Delan lantas Mama lebih berpihak padanya?"


"Tentu saja Mama memihakmu!"


"Memihak tapi mendukung sepenuhnya pernikahan Lady dan mas Delan?"

__ADS_1


"Itu karena Mama tak ingin anak Delan menjadi anak haram, Vio! Makanya Mama setujui pernikahan mereka! Demi anak yang tak berdosa yang akan lahir nanti! Please... mengertilah Viona!"


"Vio mengerti, Ma! Tapi yang Vio tak habis fikir... Mama bisa dengan enjoynya bercengkerama, bercanda dengan madu Vio tanpa memikirkan perasaan Vio!"


Aku menangis. Mama keras kepala sekali. Ingin dimengerti kalau ia juga memiliki rasa sayang padaku.


Benar-benar membingungkan sikap yang di ambilnya.


"Karena dulu Mama pun merasakan apa yang kini Lady rasakan, bukan?"


Mama membelalakkan matanya kearahku. Bulat, tajam dan beriak penuh kegundahan.


Bingo! Aku tepat telak menghujam jantungnya kini!


"Mama pernah ada di posisi Lady sekarang ini khan? Makanya bersikeras dalam diam mendukung sepenuhnya tindakan salah mas Herdilan dengan menikahi wanita lain tanpa sepengetahuan Vio!"


"Herdilan memang salah langkah! Tapi apakah bayi yang akan lahir nanti harus menanggung dosa dan beban derita kesalahan orangtuanya? Lalu apa yang harus Mama lakukan jika kamu berada di posisi Mama? Hah?... Menggugurkan kandungan Lady, menambah dosa membunuh nyawa tak bersalah itu? Atau... atau bagaimana? Mama harus bagaimana Viona?"


Perempuan paruh baya itu berteriak histeris. Kini beliau sedang di fase depresi. Namun aku kadung benci. Terlanjur sakit hati dan memilih pergi meninggalkan dirinya yang berteriak-teriak bagaikan orang gila.


Biar sang menantu baru saja yang belajar menenangkan mama Tasya. Biar si Lady tahu, sifat kekanakan mertuanya jika sedang marah membabi buta.


Aku kini bukanlah lagi berstatus sebagai menantu. Tapi mantan menantu. Hanya tinggal menunggu Herdilan membubuhkan tanda tangan di atas namanya saja. Maka statusku pun berubah dari istri menjadi mantan.

__ADS_1


...❤❤❤BERSAMBUNG❤❤❤...


__ADS_2