
"Suster, dimana ruang IGD?" tanya Roger dengan nafas terengah-engah setelah berlari cepat dari halaman parkiran rumah sakit menuju ruang Instalasi Gawat Darurat.
"Kenken!!!"
Roger langsung berteriak memanggil Kenken setelah matanya menangkap sosok tubuh tinggi kurus di pintu ruang IGD tanpa peduli lagi pada suster perawat yang tadi ia tanya.
"Istriku dimana?"
"Masuk saja, Boss! Dokter menunggumu!"
Roger masuk dengan tergesa-gesa.
Ia membuka satu persatu tirai ruangan dan berharap wajah Viona yang ia dapati.
Setelah beberapa kali pencariannya, akhirnya...
"Viona! Dokter...bagaimana istri saya?" tanyanya harap-harap cemas.
Roger langsung menarik kursi yang ada di depannya. Lalu duduk sembari menggenggam erat jemari Viona yang dingin berkeringat.
"Sayang! Apa kamu jatuh?" tanya Roger dengan lembut sembari melap keringat yang ada di dahi Viona.
"Engga', Mas! Engga'! Aku pendarahan ketika di mobil menuju rumah kak Cristian! Justru aku bingung, kenapa ada rembes dari celana d*lamku. Dan makin banyak seperti air pipis! Aku juga gak ngerasain sakit!"
Viona menceritakan kronologinya dengan sangat mendetail.
"Dokter,... apa bayi kami dalam keadaan baik?"
"Sementara ini janin yang ada dalam kandungan bu Viona dalam keadaan baik. Detak jantungnya pun stabil. Kami masih mencari sebab musabab terjadinya pendarahan yang Bu Viona alami."
"Huffffh! Syukurlah! Lalu bagaimana keadaan istri saya juga? Apakah harus menjalani transfusi darah?"
"Untuk saat ini hal tersebut tidak diperlukan. Karena pasien gerak cepat langsung dilarikan ke rumah sakit sehingga keadaan cepat tertangani."
"Alhamdulillah!" Roger dan Viona mengucapkan kalimat syukur pada Tuhan Yang Maha Esa.
Roger mengusap-usap pipi istrinya dengan lembut. Hatinya lebih lega kini.
Namun fikirannya mengingat kembali kejadian yang baru saja ia alami di rumah Christian.
Kejadian yang sangat aneh dan tak bisa ia mengerti dengan akal sehatnya. Bahkan semua orang yang ada di rumah Christian melihat dan mengalaminya sendiri. Termasuk Mutia.
"Mas!... Ada apa sampai kita ikut menjemput Verrel Velli juga dari Suryalaya? Ditambah ini sangat mendadak. Besok Dzakki juga harus sekolah. Aku jujur tidak mengerti ada apa ini!" ujar Viona.
Ia menatap wajah Roger dengan seksama. Berharap segera dapatkan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang membludak difikirannya.
"Sekarang kamu istirahat dulu, Yang! Nanti aku ceritakan semuanya! Oke?"
__ADS_1
Roger mengecup kening sang istri. Berusaha menenangkan Viona dengan sentuhan lembutnya pada punggung lengan wanita yang satu tahun lebih itu menjadi pasangan hidupnya.
Viona hanya bisa tersenyum pasrah. Ia berusaha berfikir positif. Sempat tegang urat syarafnya bahkan nyaris stres karena pendarahan yang tiba-tiba.
Namun ternyata ia masih belum bisa bernafas lega. Darah masih mengalir dari alat kelam*nnya. Sehingga rasa was was masih meliputi jiwa raganya.
"Dokter! Bagaimana kalau pendarahan ini masih belum teratasi? Apa bisa berimbas pada kesehatan calon bayi kami?" tanya Viona ketika dokter jaga IGD kembali mendatanginya.
Sang dokter hanya tersenyum tipis.
"Mari kita doakan semuanya baik-baik saja!" jawaban samar yang tidak memuaskan bagi Viona.
"Mari kita berdoa untuk calon adiknya Dzakki Boy Julian, Yang! Percayalah pada kekuatan doa. Dzakki juga sudah sangat lama menantikan adik bayinya hadir. Anak sulung kita pastinya selalu memohon pada Allah, adik bayinya sehat, selamat sampai waktu kelahiran tiba." Kata Roger membuat Viona menangis haru.
"Yang kami takutkan adalah ibu Viona melahirkan prematur! Dan usia kandungannya masih teramat kecil. Sangat beresiko bagi kesehatan sang jabang bayi yang baru menginjak dua puluh enam minggu! Tapi mari kita berfikir positif saja. Ibu Viona lebih baik istirahat, dan jangan banyak fikiran." Saran sang dokter.
Namun tiba-tiba...
"Bu Viona! Bu Viona!... Kandungan ibu tak ada nampak jejak janin!!!"
"Janin menghilang???"
Perawat dan beberapa dokter jaga ruang IGD sangat terkejut. Semua panik kebingungan.
Tiba-tiba dalam monitor yang terhubung dengan kabel-kabel selang yang menempel di perut serta tubuh Viona, bayi yang dalam kandungannya tak lagi terdeteksi.
"Ja-janin hilang! Janinnya tidak ada di kantung rahim!!!"
..........
"Mas..., apakah ini ada hubungannya dengan orang yang membenci Dzakki?" tanya Herdilan pada Christian.
"Benar! Kita semua mendapat serangan dari orang itu! Kiriman ini sengaja ia tunjukkan, agar kita waspada dan takut padanya."
"Mami...! Mami dan adik Dzakki juga,...!!! Papi, antar Dzakki ke rumah sakit, Pi!" pekik Dzakki tiba-tiba.
"Jangan, Nak! Percuma. Karena saat ini Mami kamu ada di ruang ICU. Anak kecil dilarang masuk ke sana!" larang Christian.
"Sebaiknya kita berdoa saja dari sini, supaya Mami Dzakki dan adik bayi kondisinya baik-baik saja!" tambah Herdilan berusaha memberi Dzakki pengertian.
Tapi rupanya Dzakki tidak dapat menerima semua masukan.
Bocah imut itu tiba-tiba berdiri dari duduknya dipangkuan. Matanya merah, wajahnya perlahan tampak pucat.
"Aaarrrggghhh!!!"
Christian, Mutia dan Herdilan terperanjat mendengar teriakan Dzakki yang panjang.
__ADS_1
Angin besar seperti kembali memutar di dalam rumah Christian. Bahkan kini semakin besar.
Bledarrr bledarrr
Tiba-tiba suara petir menyambar langit. Dan hujan turun dengan derasnya diluar.
"Kembalikan adikkuuu!!! Kembalikaaan!!!"
Gurilap! Bledarrr
Petir kilat seperti mengenai sesuatu terdengar menyeramkan.
Sayup-sayup azan Maghrib terdengar menggema di masjid-masjid sekitar.
Christian bergegas pergi menuju kamar mandi untuk segera berwudhu.
Herdilan dan Mutia masih terpaku melihat Dzakki yang dipenuhi amarah sampai-sampai tubuhnya seperti dikelilingi gulungan angin ****** beliung kecil.
"Allaahu Akbar!!!" teriak Dzakki lebih keras dan...
Prelek prelek... Jelegerrr
Petir terakhir membuat lampu seketika padam. Rupanya kilatnya menyambar tiang listrik sekitar rumah Christian.
Tak lama kemudian, suasana mencekam kembali normal perlahan.
Angin seketika hilang. Hujan deras yang tiba-tiba datangpun reda dan petir kilat juga pergi, tak lagi terdengar.
Herdilan segera merangkul tubuh putranya. Memeluknya erat dari belakang dengan dada berdebar kencang.
Dzakki tak bersuara. Ia diam saja, meski kini keadaannya lebih tenang.
"Papi!" katanya setelah cukup lama terdiam.
"Setelah sholat maghrib, kita ke rumah sakit ya? Dzakki kangen Mami juga adik bayi yang ada di perut Mami!"
"Iya. Yuk, kita sholat!"
Herdilan mencoba menenangkan hatinya yang degdegan melihat kejadian demi kejadian supranatural disore ini bahkan hingga dua kali.
Kini lututnya terasa lemas. Jantung berdebur keras. Tetapi ia berusaha menutupi kelemahannya dimata Dzakki tentunya.
Mutia lebih tak bisa mengendalikan getaran yang menyerang tangan dan kakinya.
Ia nyaris memekik dan berlari hendak menyusul Herdilan juga Dzakki yang berjalan menuju kamar mandi mushola rumahnya.
Hari ini adalah hari yang membuatnya nyaris gila. Sungguh luar biasa.
__ADS_1
...❤❤❤BERSAMBUNG❤❤❤...