
Treeet... treeet... treeet
Herdilan is calling
Kartika segera mengangkat panggilan telepon calon suaminya itu.
"Hallo, assalamualaikum! Mas..."
...[Nona, maaf! Aku tadi sedang rapat dulu di kantor cabang. Ada beberapa kerjaan yang dikejar deadline. Maaf ya, baru respon chat-an kamu!]...
"Ga papa, Mas! Aku sudah teleponan sama Dzakki! Hehehe... maaf ya, jadi ganggu kerja kamu!"
...[Bukan begitu. Sama sekali gak ganggu. Aku malah senang koq diperhatiin Nona!]...
"Hehehe... ya sudah. Aku sedang jalan sama Papa Mama. Sedang keliling masjid, nih! Sekalian kulineran!"
...[Oiya? Wah... enak banget tuh kayaknya! Andai aku ikut juga!]...
"Mas sekarang masih di kantor?"
...[Di jalan. Baru mau ke rumah bersalin jenguk Maminya Dzakki!]...
"Oh... sampaikan salamku pada Mbak Viona ya?"
Seketika hati Kartika gamang. Ada perasaan aneh ketika meminta Herdilan untuk menyampaikan salamnya pada mantan istri calon suaminya itu.
Apakah sudah tiada rasa? Atau masihkah Herdilan menyembunyikan rasa itu dari mantan istrinya yang kini jadi istri saudara tirinya?
Sungguh Kartika ingin tahu hati Herdilan soal itu.
...[Nona? Hallo!...]...
"Ah iya, maaf Mas! Aku melamun. Mas, bisa tidak besok untuk mengantarku ziarah kubur?"
...[Besok? Sebenarnya lusa aku harus kembali dulu ke Singapura. Tapi besok aku luangkan waktu seharian untuk Nona!]...
Kartika tersenyum malu. Untung saat itu mereka hanya telponan saja, bukan video call atau face to face langsung. Setidaknya Herdilan tidak melihat wajah merah meronanya yang membuatnya malu.
Mereka mengakhiri obrolan ringan dan kembali kepada kesibukan masing-masing.
...○○○○○...
"Masih pembukaan tiga, Pak! Kemungkinan bu Viona akan melahirkan malam hari atau besok pagi!" kata bidan yang memeriksa kondisi Viona pada Roger.
Viona sendiri belum merasakan sakit perut yang begitu intens sehingga masih bisa berbincang santai dengan suami serta putranya yang ikut menungguinya di ruang persalinan.
Tini dan Kenken pulang lebih dahulu ketika pemeriksaan awal dan baru pembukaan satu. Mereka mengambil tas perlengkapan untuk baby boy yang sudah Viona Roger siapkan sejak usia kandungan Viona memasuki sembilan bulan.
Roger mengusap-usap punggung Viona dengan lembut.
__ADS_1
Matanya tak beranjak dari bola mata sang istri yang terlihat redup dan mulai lelah.
"Sayang! Apa kamu mengantuk? Tidurlah dulu. Istirahat buat persiapan tenaga."
Suaranya yang lemah lembut membuat Viona mengerjap. Wanita itu berusaha menurut mengikuti perintah sang suami.
Tapi itu tak mampu menyenyakkan tidurnya karena sesekali perutnya terasa sakit seperti diaduk-aduk walau hanya beberapa detik saja.
"Aduuuh, Yang!" Viona meringis.
Jam di dinding menunjukkan pukul sepuluh malam.
Dzakki sudah terlelap tidur di atas sofa ruang inap Viona sejak sejam lalu karena kelelahan yang mendera.
"Sakit ya? Sini Ayah usap-usap perutnya!"
Roger benar-benar suami siaga. Ia tak sedetikpun meninggalkan Viona. Bahkan sampai menahan pipis yang sedari tadi sangat ingin ia keluarkan.
"Yang..."
"Sabar ya, Yang! Baby boy kita masih main-main dulu di perut Mami!"
"Hik hiks...! Aku... kangen Ibuku!" Meleleh air mata Viona. Melow tiba-tiba mendera. Rasa rindu menyeruak pada orang yang telah melahirkannya.
"Ibu selalu bisa menenangkanku saat aku kesakitan.Hik hik hiks...! Semoga Ibu tenang di alam sana, ya Yang!"
"Iya, Mas! Maaf... hik hiks! Aku tiba-tiba kangen sekali Ibuku. Yang selalu membuatkanku minuman jahe ketika perutku sakit dimasa PMS. Ibu juga paling sigap mengurusku kalau aku sakit apapun itu. Hik hik hiks... Aku...adalah anak yatim piatu! Ayah Ibu, sudah tiada!"
"Kita yatim piatu. Tapi putra-putra kita akan selalu kita dampingi sampai mereka besar nanti, Yang!"
"Aamiin..."
Roger menghapus lelehan air mata di pipi istrinya.
Ia ikut terenyuh menyaksikan penderitaan Viona yang sebentar berbalik ke kanan, lalu berbalik ke kiri. Merasakan sakit perut yang tak karuan.
Roger turut meringis melihat Viona meringis. Seolah iapun merasakan yang sama. Kesakitan yang luar biasa, yang sedang dialami istrinya.
"Yang! Aku izin pipis dulu boleh?" tanyanya sambil menahan sakit juga.
"Iya. Jangan nahan pipis, Mas! Bahaya! Ya udah sana ke kamar kecil dulu!"
"Hehehe..., iya!"
Roger bersyukur sekali, Viona bukanlah wanita manja yang berlebihan. Bahkan ketika ia sedang mengalami kontruksi sekalipun, istrinya itu masih berusaha bersikap tenang. Hingga tiba-tiba... justru Rogerlah yang terkejut dipukul tiga malam.
Viona pecah ketuban. Ini pertama kalinya ia melihat sang istri seperti menompol pipis banyak sekali.
"Yang! Yang! Yang istighfar, Yang! Kamu sakit sekali ya?"
__ADS_1
"Ini pecah ketuban, Mas! Sepertinya... Baby Boy kita mau dengar azan Subuh langsung!" celetuk Viona ditengah rasa sakit yang luar biasa dan keringat dingin sebesar biji jagung mulai keluar.
"Bu Bidan! Bu... Istri saya sudah mulai sering kontraksinya ini! Juga sudah pecah ketuban!"
Bidan yang sedari tadi memeriksa Viona segera mengabari dokter spesialis kandungan. Masanya melahirkan akan segera datang.
Pukul empat Viona berhasil mengejan dan melahirkan bayi laki-laki tampan yang merah jambu kulitnya.
Matanya bulat bersinar indah. Dengan berat badan 3,1 kilogram dan tinggi 55 centimeter.
Sungguh anugerah yang sangat indah yang Tuhan berikan pada pasangan berbahagia itu.
Roger menangis tersedu-sedu. Teringat dirinya pada tujuh setengah tahun yang lalu. Pertama kali jemarinya menggendong tubuh mungil Dzakki Boy Julian, dan mengadzaninya.
Kini ia menggendong buah hati cintanya sendiri dengan Maminya Dzakki. Dan bersiap mengadzani baby boynya yang juga tampan itu.
"Terima kasih ya Allah! Terima kasih banyak istriku! Hik hik hiks...! Kamu sangat hebat! Kamu luar biasa. Kamu adalah bidadari surgaku yang menjadikanku pria perkasa yang sempurna, Yang!"
Roger memeluk tubuh Viona erat. Banjir airmatanya. Lega hatinya melihat Viona telah berhasil berjuang melahirkan putra kandungnya itu.
"Sayangku, istriku tercinta! Kamu hebat!" pujinya berkali-kali.
Jemarinya mengusap lembut wajah Viona yang berkeringat. Roger juga menciumi pipi istrinya dengan lembut sesekali. Membuat Viona sangat tersanjung dan bangga bersuamikan pria tampan itu.
"Yang...I love you! Always love you! Karena kamu adalah pria terbaik yang Tuhan beri padaku! Hik hik hiks..."
"Mari menua bersama! Mari kita selalu pegangan tangan, membesarkan putra-putra kita bersama-sama!"
Entah kata itu hanyalah kata penghiburan, tapi yang pasti Roger sangat ingin mengungkapkan rasa sayang dan cintanya pada Viona yang begitu banyak.
Kini ia baru melihat, betapa besar pengorbanan seorang ibu melahirkan. Bertaruh jiwa raga bahkan nyawa demi bisa memberikan dunia pada bayi mungil yang jadi saksi kisah cinta keduanya.
Dzakki terbangun mendengar suara tangisan bayi yang cukup keras. Terdengar sayup-sayup suara muadzin bersolawat. Tanda adzan Subuh sebentar lagi akan berkumandang.
"Yeeeay...! Adik bayi sudah lahir!" teriaknya kegirangan. Dilihatnya box bayi yang sebelum ia tidur masih kosong, kini terisi bayi mungil yang tampan dibungkus kain bedongan.
"Iya, Sayang! Dzakki sekarang sudah jadi Abang! Sini, Abang...peluk Mami sama Ayah!" kata Roger membuat Dzakki menghambur menghampiri.
Senyuman Dzakki mengembang. Ia mengecup pipi Viona serta Roger.
"Terima kasih Mami, Ayah...! Sudah kasih Dzakki adik bayi! Sekarang Dzakki punya saudara!"
"Iya. Abang Dzakki jaga selalu adiknya ya?" ucap Viona terharu pada perkataan putra sulungnya itu.
"Iya. Pasti Dzakki jaga!"
Janjinya terucap juga tegas dalam hati.
...❤❤❤BERSAMBUNG❤❤❤...
__ADS_1