
Aku dan kak Jo telah tiba di ICCU IGD Rumah Sakit yang Ira katakan.
"Viona!!!"
Aku menoleh ke arah suara Ira. Sahabatku berdiri di depan pintu ICCU dengan ditemani seorang pria. Leon kekasih Ira ikut serta!
Untung aku membawa kak Jonathan serta. Jadi kedua pria itu bisa saling berbincang tanpa merasa kami acuhkan karena asyik mengobrol sendiri.
Kami saling berjabat tangan satu sama lain. Termasuk aku dengan Leon, kekasih Ira.
"Bagaimana keadaan kak Firman?" tanyaku cemas.
"Sudah lewati masa kritis kata dokter sih! Tapi masih belum siuman, Vi! Entahlah, dokter sendiri belum bisa memastikan kapan akan sadar!"
"Hhh..."
Kami saling menatap dan menghela nafas bingung.
"O iya, kenalin Ra. Ini kak Jonathan Lordess, kak Jo,... ini Ira Lupita sahabat sekaligis saudaraku. Dan cowok ini adalah pacarnya Ira, Leon Daniel!"
"Ish... kenapa bilangnya pacar sih, Vi!?"
Ira tertawa malu-malu. Sedangkan Leon langsung merangkulnya sembari berkata, "Pinginnya dikenalin sebagai suami, Vi!"
"Ish dasar! Maunya ya!?"
Aku tersenyum lebar, begitu juga kak Jo.
"Semoga kami juga bisa menjalin hubungan seperti kalian!"
Aku terperanjat. Kak Jo berani sekali mengungkapkan hubungan dekat kami. Membuat merah mukaku seketika.
"Kak, jangan bahas itu sekarang. Please...! Kita sedang menjenguk kak Firman yang sedang mengalami musibah!"
Ira mencolek pinggangku.
"Uhhuy...! Pake acara malu-malu meong! Pepet habis lah kak! Ini cewek memang kulkas frezzer dua pintu. Butuh ekstra usaha buat bikin dia menerima! Hihihi..."
Aku mencubit kecil lengan Ira hingga ia berteriak tapi segera ditahan karena kami ada di rumah sakit saat ini. Bukan pada tempatnya untuk bercanda dan saling meledek.
"Mau masuk? Ada kakaknya kak Firman di dalam! Bisa bergantian sebentar kalau mau jenguk!" tutur Ira setelah beberapa saat kami mulai menguasai diri.
Aku mengangguk. Lalu berbisik pelan pada kak Jonathan. Aku ditemani Ira membuka pintu ruang ICU. Mencari dokter jaga agar bisa menengok kak Firman meski hanya sebentar.
Lemas rasanya lutut ini tengok tubuh kak Firman yang terbaring tanpa daya.
__ADS_1
Seperti mimpi. Kemarin-kemarin ia masih segar bugar, menyambangi kontrakanku. Membantuku membetulkan kompor serta setrikaanku. Juga kita mengobrol sangat intens bahkan dari ke hati soal dirinya yang mendapatkan tawaran kerja sama dari Herdilan Firlando.
Ira memelukku, ketika aku keluar dari dalam ruangan kamar kak Firman. Lalu membuka pakaian lengkap steril yang telah pihak rumah sakit sediakan di bilik depan sebelum masuk ruangan dalam.
"Aku gak menyangka, kalau kak Firman bisa jadi begini, Ra!"
"Aku juga, Vi!"
"Ada yang bilang katanya kecelakaan tunggal. Motornya jungkir ke kali Pesangrahan. Mungkin dia bawa motornya ngebut, sampe jadi seperti ini!" kata Ira membuatku melamun lagi.
"Kamu tahu, Vi... Bahkan aku juga tahu keadaan kak Firman dari Mutia!"
"Mu-Mutia?"
"Ya. Istrinya Christian yang mantan tunangannya kak Firman itu! Dia menelponku. Menanyakan kabar kak Firman yang katanya kecelakaan. Aku kaget. Dia tahu nomorku dari mana? Sedangkan sejak dulu pun aku gak pernah dekat sama dia. Pas kutanya, tahu kabar Firman kecelakaan darimana dan tahu nomorku juga dari mana, katanya dari temannya Firman!"
"Hhh... Apa...mereka masih memiliki chemistry ya, Ra?"
"Aku ga tahu pasti. Tapi, kayaknya mereka udah lost contac lama sekali khan?! Mungkin memang ada teman kak Firman yang sesama jurnalis yang Mutia kenal. Secara Mutia itu pernah jadi None Betawi beberapa tahun lalu khan?"
"Iya juga ya!?!"
Aku dan Ira keluar dari ruangan isolasi. Hanya boleh menengok sebentar dan itu pun harus memakai pakaian khusus yang disediakan pihak RS membuat waktu kami terbatas.
Setelah mengucap bela sungkawa kepada kakak lelaki kak Firman yang menjaga, aku dan Ira keluar dari ruang ICCU.
Ira mencolek daguku setelah melihat kak Jo dan Leon akrab dari kejauhan.
"Uhhuy... Bu Jen cepat sekali move on!"
"Ra! Sekali lagi lo bilang gue 'bu Jen', gue PHK lo jadi sodara gue!"
"Hihihi... ampun, ampun! Marahnya gahar juga! Ampun, Vi!"
Aku hanya pura-pura marah saja. Tidak benar-benar bisa marah pada Ira. Seusil apapun ia padaku, Ira masih menjaga perasaanku. Bahkan orang terberani di garda depan dalam membelaku. Hanya karena candaan 'bu Jendess' bukan berarti aku baper dan tak mau jadi saudaranya lagi. Tidak.
"Kamu kenal kak Jo dimana?" bisik Ira mulai kepo.
"Khan sudah kukatakan, kak Jo yang menolongku sewaktu aku hendak bunuh diri di sungai tempo hari!"
"Jadi itu kisah beneran asli?"
"Haish, Ra Ra! Kamu pikir selama ini aku bohong, apa!?!"
"Hehehe... aku cuma canda aja, Vi! Antara senang tapi juga apa ya namanya,... mmm... bingung. Kamu bisa cepat move on dari Herdilan si biang dajjal itu!"
"Mau kukasih tahu rahasia? Tapi jangan komentar apapun!"
__ADS_1
"Oke, oke! Rahasia apa?"
"Kak Jo adalah om-nya Delan!" bisikku pada akhirnya.
"W-What??? Are you crazy, Viona?"
"No, no... I am not!"
Ira benar-benar menutup mulutnya dengan kedua belah tangan kanan dan kiri.
Hanya bola matanya yang melotot, terbuka lebar menatapku dalam dalam dan melirik ke arah kak Jo.
"Akan aku ceritakan nanti! Tapi saat ini, maaf... aku ada di rumah rahasianya! Aku sembunyi selama ini di sana ditemani asisten rumah tangganya yang baik hati dan pintar memasak."
Ira makin terbelalak. Membuatku tertawa dan hampir tersedak ludah sendiri.
"Gila, Lo! Jangan bilang, lo ngelakuin ini hanya ingin balas dendam sama si Herdilan itu!"
"Awalnya ya begitu. Ada kerja sama di antara kami. Antara aku dan kak Jonathan! Ira, aku akan izin dulu pada kak Jo supaya kamu boleh main ke rumahnya kalau libur nanti! Nanti akan kuceritakan semuanya padamu!"
"Semuanya?"
"Semuanya!"
"Janji?"
"Janji!"
Hhh...
Kulihat Ira menghela nafas. Hanya menatapku dengan rasa tak percaya, kalau aku bisa segila itu dalam bertindak.
"Ya udah. Aku sama Leon pamit pulang! Aku akan menunggu kabar darimu. Awas kalo kamu ingkar!" ancam Ira membuatku tersenyum.
"Peace, girl!"
"Ingat! Kamu sedang hamil besar! Jadi jangan buat kesalahan dengan ngebohongin aku!"
"Oke! Aku janji, akan pegang omongan!"
"Oke!"
Kami berjalan ke arah kedua pria pasangan masing-masing. Lalu berpamitan pisah jalur arah tujuan.
Aku melambaikan tangan pada Ira yang masih mengucapkan kata "ingat janji" padaku. Sontak membuatku tertawa-tawa.
*Aku akan ceritakan, Ra! Kurasa ini saat yang tepat untukku terbuka padamu. Di tambah lagi, kehamilanku semakin besar. Sebulan lagi aku melahirkan. Aku memang harus menyandarkan diri pada kak Jonathan. Karena dia lah pria yang paling tepat untukku! Semoga. Aamiin.
__ADS_1
...❤❤❤*BERSAMBUNG❤❤❤...