PEMBALASAN DENDAM ISTRI PERTAMA (I Don'T Love You Anymore)

PEMBALASAN DENDAM ISTRI PERTAMA (I Don'T Love You Anymore)
SESSION 2 RIHANA OH RIHANA


__ADS_3

Herdilan memberikan satu bantalnya juga selimut tebal untuk dipakai Rihana tidur di sofa ruang tamu.


Sebenarnya hatinya tak enak juga, membiarkan perempuan tidur sendirian di luar kamar.


Namun jika Rihana ia kasih kenyamanan, khawatir gadis itu justru betah dan bertahan tinggal di apartemen kontrakannya di lantai lima.


"Nih! Kau tidur di luar!"


"Iya. Ga pa pa, Bang! Terima kasih sudah menerimaku di sini!"


"Terpaksa. Dan hanya akan kuberi waktu 2x24 jam. Setelah itu, silakan kamu pergi dari sini. Karena tak baik bagi kita untuk tinggal satu atap."


"Hehehe... kecuali Abang Herdi minat menikahiku!"


"Woooy!!! Masih juga bahas itu!?! Kau mau ONS sama aku? Minta bayaran berapa? Hah?!?"


Merah padam wajah Rihana.


"Abang... mau?" tanyanya gugup.


"Hhh...! Ya engga'lah! Aku sudah lupa rasanya bercinta!"


"Pasti lebih suka main sabun ya?"


Herdilan hampir tersedak. Perempuan ini terlalu nyablak. Membuat jantungnya berkebit tak tenang.


"Abang! Apa Abang punya fantasi lain?" tanya Rihana dengan suara berbisik.


"Apa maksudmu?"


"Tetaplah pada kodrat. Pria itu pasangannya wanita," jawab Rihana masih dengan berbisik.


"Assu!!! Kau nih masih berfikir aku belok? Hah?!? Memangnya si Ciko sudah cerita apa saja sama kamu?" tanya Herdilan lagi dengan nada kesal.


Tiba-tiba otak Herdilan seperti dipaksa mes*m.


Ia langsung memepet tubuh Rihana hingga gadis itu merapat ke sofa dengan wajah membeku.


Hei! Jangan bilang kalau kau cuma gertak sambal?!? Terlihat sekali kalau kau gugup, takut dan juga cemas! Apa..., hmmm... sepertinya kau adalah orang suruhan si Ciko ya!? Yang pasti si Ciko sengaja mengirimmu agar aku kembali berhasrat memulai hidup baru. Dasar pria sinting!


Herdilan bergelut dengan fikirannya sendiri.


Dihadapannya wajah Rihana tampak memerah karena suhu tubuhnya yang meningkat tinggi.


Herdilan kini berfikir pendek. Akhirnya ia akan mengikuti alur cerita yang diinginkan Ciko, sang sahabat.


Meski perbuatanku ini salah besar, tapi... ada baiknya juga kuikuti permainannya! gumam Herdilan dalam hati.

__ADS_1


Tubuh Rihana masih membeku, seolah menyatu dan tak berani bergerak lebih karena diatas badannya, Herdilan seolah sengaja menindih.


Herdilan bisa melihat kalau Rihana ternyata pemain amatiran. Bukan profesional seperti yang ia gembar-gemborkan sedari mula.


Rihana yang penampilannya sensual dan terkesan urakan serta bicara blak-blakan, kini terlihat sangat berbeda di mata Herdilan.


Dan Herdilan akhirnya menyadari, kalau Rihana ternyata bukanlah ayam kampus seperti yang ia sangka di awal.


"Berapa tarifmu?" tanya Herdilan dengan suara menggoda. Jujur, ia sangat ingin tertawa terbahak-bahak. Melihat Rihana semakin pucat dan terdesak.


"Kau fikir aku tidak akan bisa memuaskanmu? Hm? Mau berapa ronde? Kamu belum tahu ya, kalau aku ini suka juga jajan sembarangan?"


Rihana benar-benar membatu. Tubuhnya dingin seperti es balok.


"Hm... mhhh... sebentar, aku... aku sepertinya tiba-tiba datang bulan, Bang!"


Gadis itu mendorong tubuh Herdilan dan segera bangkit menerobos tekanan duda satu anak yang tadi justru ia intimidasi.


Posisi kini jadi terbalik.


Rihana berlari masuk kamar mandi.


Nafasnya ngos-ngosan. Dadanya berdebar kencang.


Sial*n bang Ciko! Katanya Bang Herdilan cukup sulit dibangunkan dari tidur panjangnya! Ternyata,... shiiit! Ugh... Aku takut sekali kalau pria dewasa itu benar-benar menarikku ke ranjang tidurnya! Ya Tuhan...! Padahal aku sama sekali tak berpengalaman. Mentang-mentang aku sekolah ke luar negeri, bukan berarti hidupku juga bebas seenak jidat.


Sementara Herdilan tersenyum lebar menahan suara tawa agar tak keluar. Pas hatinya mengerjai gadis yang lebih ia anggap adik itu.


Herdilan mengambil ponselnya. Masuk kamar lalu menchat nomor Ciko.


Hey, maksud lu apa nyuruh si Rihana datangi apartemen gua?


Centang biru. Rupanya langsung di read!


Hanya emoji menyebalkan yang jadi balasan Ciko.


Selamat bersenang-senang bro


Anjiiir! Si Ciko kenapa jadi meresahkan begini sih? Apa urusannya aku jomblo atau punya pasangan bagi dia? Aku pun tak juga jadi penghalang langkahnya selama ini. Aku juga tak menggoda istrinya hingga ia sangat ambisius mencarikan jodoh. Mana bocah umur 26 tahun pula yang disodorkan. Hadeh!


Herdilan memijit pelipisnya yang berdenyut. Pusing kepala.


Ia pun merebahkan tubuhnya ke atas ranjang. Tidur adalah rehat terbaik.


....


Di kamar mandi Rihana nyaris kedinginan.

__ADS_1


Dipasangnya kedua telinga baik-baik. Hampir satu jam duduk di kloset, membuatnya jenuh.


Perlahan dibuka kunci pintu kamar mandi.


Ceklik.


Ia mengeluarkan kepalanya. Menengok pelan kanan dan kiri.


Aman! Bang Herdilan sepertinya sudah masuk kamar! kata hati kecil Rihana. Seketika mereda kegundahannya.


Rihana menggelosorkan tubuhnya diatas sofa panjang. Menarik selimut hingga atas kepala. Mencoba tidur dengan kesadaran tingkat tinggi. Karena agak ngeri juga jika tiba-tiba Herdilan tiba-tiba datang menerkamnya.


Hhh...


Dunia ini aneh.


Orang lebih menilai penampilan luar saja. Dan banyak terjadi kesalahfahaman karena cover.


Susah menerka karena kejujuran kini tak lagi terlihat secara kasat mata.


Butuh mata hati yang bersih untuk menilai seseorang lewat kepribadiannya. Terutama untuk orang yang baru dikenal.


Rihana teringat pada Ciko. Dan langsung menchat nomor WA-nya.


Abang,... gmn kabar kampus? Apa pihak rektor sudah bisa dikonfirmasi? Ri butuh kepastian segera. Please...


Ceklis satu.


Berarti ponsel Ciko sedang tak aktif.


Rihana melihat angka jam diujung ponselnya. 23.12.


Sepertinya bang Ciko sudah tidur. Hhh... Moga besok ada kabar baik untukku. Dan aku bisa segera pergi dari apartemen bang Herdilan yang terlihat aneh ini. Doa Rihana dalam hati.


Malam ini ia lebih was was. Selama seminggu luntang-lantung menerobos jam malam, masuk asrama teman-teman perempuannya masih lebih enjoy. Dibanding tidur di rumah laki-laki yang belum ia kenal baik.


Tapi demi iming-iming uang serta jaminan kembali ke kampus, Rihana rela melakukan tindakan yang belum pernah ia lakukan sebelumnya. Terlebih... bermanja-manja dengan pria asing seperti kemarin di cafe Seruni.


Bahkan teman-teman yang mengenalnya pun sangsi dengan tindakan berbahaya yang ia tempuh.


"Demi uang...! Demi bisa masuk kampus lagi! Kuliahku tinggal setahun disini, Ndah! Andai kuhempas, semua jadi sia-sia. Rugi besar orangtuaku menghabiskan uang dollaran untuk kuliahku di sini. Tapi hasilnya nihil! Setidaknya, jika aku bisa lanjut dan wisuda... aku bisa bekerja ditempat yang baik nantinya. Berbekal ijasah dan gelar sarjana desain grafisku! Please, dukung aku!"


Endah dan yang lain akhirnya hanya bisa mendoakan langkah yang diambil Rihana. Meski berbahaya, tapi... menilik bang Ciko yang terlihat seperti orang baik-baik. Mereka pun mendukung rencana Rihana yang mengambil tugas berat dengan mengubah Herdilan menjadi pria yang kembali ingin melihat masa depan.



...❤❤❤BERSAMBUNG❤❤❤...

__ADS_1


__ADS_2