
Aku kini sedang berada di kantin bersama para teman sesama nakes di RSJ. Makan bakso bersama, jadi penutupan yang istimewa di hari terakhirku bekerja.
Meski hanya menjadi konselor selama empat bulan, namun membuatku menambah banyak pengalaman.
Kisah hidup para pasien, semua keluh kesah serta derita duka lara cerita yang berdarah-darah. Menjadikan mereka pesakitan bahkan sampai di cap dengan nama lain orang gila karena jiwa yang terguncang.
Aku sangat bersyukur, bisa bekerja di rumah sakit ini meskipun hanya sebentar.
Aku juga bersyukur, Tuhan menunjukkanku jalan yang baik. Jalan yang lurus. Membuat fikiran picik serta licikku perlahan mulai terkikis.
Watak, karakter dan sifat seseorang yang sudah terbentuk sedari kecil adalah suatu kebiasaan yang sulit diubah.
Namun dengan pengalaman hidup dan banyaknya masalah demi masalah, kini perlahan aku menyadarinya: kalau aku banyak melakukan kesalahan.
Kesalahan dalam berteman, kesalahan dalam sudut pandang, kesalahan dalam mengucapkan sesuatu dari lisan yang tak sesuai dengan tulisan dalam hati.
Intinya aku dulu selalu salah.
Melihat Dzakki yang tumbuh dirahimku, dulu kuanggap suatu kesalahan.
Mendapati perselingkuhan Herdilan Firlando sebagai suami, juga merupakan suatu kesalahan hidup bagiku.
Terlebih ketika Lady Navisha dengan mudahnya menarik hati mama Tasya dan mereka seolah menari-nari diatas penderitaanku, kuanggap juga salah Tuhan.
Aku tidak ada rasa syukur, bahkan sampai nekad melakukan hal yang paling dibenci Tuhan-ku. Yaitu bunuh diri.
Aku tak sanggup menerima kenyataan. Kedua orangtuaku meninggal dunia, suamiku main gila. Dan mertuaku justru memihak pada mereka. Hhh...
Stop stop! Viona, sudahlah! Sudahi kesedihanmu! Sudahi semua penyesalanmu. Tapi perbesar rasa syukurmu! Ada Dzakki dalam hidupmu! Ada makhluk hidup lain yang Tuhan titipkan padamu untuk dimintai pertanggungjawabanmu kelak. Tak perlu risaukan Delan. Apalagi risaukan orang lain. Ini hidupmu. Hidupmu juga hidup Dzakki. Dan langkah kedepanmu semoga kau tak salah lagi! Semoga...
Dokter Diandra datang belakangan. Para teman bersorak menyambut kehadirannya. Ternyata mereka menjodohkan kami diam-diam.
Tapi maaf,... bukan aku tak punya rasa. Bukan aku sudah beku jiwa untuk menerima cinta.
Dan bukan juga kumenolak dokter Diandra Alexander yang terlihat merona kedua pipinya di goda para nakes agar segera melabuhkan cinta dan membangun kembali biduk rumah tangga.
Tapi..., aku kini hanya ingin bahagia bersama Dzakki.
Dzakki kini adalah hidup dan matiku. Senyuman putraku adalah duniaku. Kebahagiaannya adalah anugerah terindah dalam hidupku.
"Viona!"
"Ya, Dok?"
"Hm... ada film bagus di 21 theatre. Apa Viona ada waktu malam ini?"
"Saya punya pekerjaan lain, Dok! Mengurus wisuda saya yang tinggal beberapa hari lagi. Maaf!"
Sang dokter terlihat menghela nafas. Dia tersenyum seraya mengangguk. Ada gurat kekecewaan di raut wajahnya yang tampan.
Aku tak mau berlama-lama menjadi orang yang melankolis.
__ADS_1
Kini kulangkahkan kakiku menuju kamar mama Tasya.
Wajahnya yang manis terlihat lebih baik dari kemarin. Ada rasa bersalah terselip dihatiku. Aku kemari mengatakan salam perpisahan, apakah akan membuatnya kembali anfal?
Hhh...
Keputusan yang berat memang. Tapi aku sudah ambil dengan banyak pertimbangan.
Herdilan telah bebas. Dan kurasa cukup sudah pengabdianku mengurus mama Tasya menjadi kembali pulih seperti biasa.
"Viona..."
Jemarinya menggenggam hangat jemariku. Pertanda kestabilan jiwanya kini kembali utuh.
"Mama..."
Aku mencium kedua belah pipinya. Tersenyum memandang wajahnya.
Hatiku telah bersih kini. Tiada lagi dendam padanya meski pernah tersakiti.
Hidup Mama, jauh lebih miris dariku. Justru kini aku iba dan berdoa semoga hidupnya lebih bahagia kini. Bahagia dalam arti sebenarnya.
Sepintas kumerenung. Mama sama sepertiku. Bedanya, aku masih muda. Mama sudah lebih matang.
Kami sama-sama perempuan. Sama-sama janda beranak satu walau beda kasus perceraiannya.
Tapi dilihat dari sudut pandang umum, aku dan dia kini hanyalah mengandalkan cinta kasih anak semata wayang.
Aku berharap hidupku kedepan tak semiris mama Tasya.
"Mama...! Hari ini adalah hari terakhir Vio bekerja disini. Viona pamit ya Ma? Mohon maaf jika Viona punya banyak salah selama ini. Dan Viona harap, Mama hidup bahagia dan tenteram bersama Herdilan!"
Bola mata mama Tasya membulat penuh. Sesaat beliau berhenti bernafas.
"Vio?"
Kueratkan genggaman tanganku padanya.
Bulir-bulir jatuh satu persatu dari kelopak mata Mama yang berwarna hitam pekat.
"Kenapa Viona bilang ini hari terakhir bekerja?" tanyanya gemetar.
Tangannya memegang erat jemariku. Sesekali ia guncang-guncangkan membuat tubuhku ikut bergerak.
"Viona..."
"Iya, Ma! Viona harus menyelesaikan kuliah Vio juga. Sebentar lagi Vi wisuda. Mohon doanya dari Mama!"
"Viona mau meninggalkan Mama? Hiks hiks... Pasti karena Delan telah mengganggu ketenteramanmu ya, Nak?"
Aku menggeleng, meski hati ini mengiyakan.
__ADS_1
"Aku harus bisa membagi waktuku!"
"Boleh Mama melihat cucu Mama, Vi? Bolehkah?"
Aku menunduk. Berusaha mencari kata yang pas untuk membuat Mama mengerti kalau aku saat ini tidak siap untuk permintaannya itu.
"Suatu hari nanti,... Mama pasti akan dapat melihatnya." Perkataanku membuat airmata Mama berderai.
Beliau menangis menahan isak.
Aku tahu aku salah.
Biar bagaimanapun Dzakki adalah cucunya.
Dan aku berdosa, jika terus menerus menyembunyikan putraku dari Papa kandung juga neneknya. Namun apalah dayaku.
Hatiku masih lemah. Jiwaku masih rapuh.
Walau aku kini telah mengikhlaskan semua kesalahan mereka dimasa lalu padaku, tapi aku belum se-legowo itu.
Aku takut mereka menginginkan Dzakki-ku. Mereka merebut perhatian putraku agar berpihak pada mereka. Tidak. Tidak!
Aku tak sanggup membayangkannya.
Tidak boleh terjadi!
Mama memegang jemariku kuat-kuat. Seolah tak mau aku pergi. Dan melarangku pulang.
Tangisannya terdengar menyayat hati. Lalu ia berkata, "Bukankah Viona pernah menjanjikan Mama untuk kita hidup bersama? Viona pernah bilang, Mama bisa tinggal bersamamu. Bolehkah Mama menagih janjimu itu, Sayang?"
"Mama..."
Aku tersekat. Jantungku berdebar semakin kencang. Aku tidak bisa membawanya. Ada Herdilan yang lebih berhak menjaga beliau.
"Maaf, Mama! Herdilan sudah kembali. Viona meralat janji itu. Karena ada Herdilan kini. Maaf!"
"Hik hik hiks..."
Mama melepaskan jemariku. Ia menutupi wajahnya dengan kedua belah tangan.
"Pergilah, Viona sayang! Pergilah! Semoga kamu bahagia. Maafkan semua kesalahan Mama di masa lalu, ya!? Mama adalah mertua yang jahat. Yang tidak punya perasaan padamu dulu."
Aku dilema. Tapi harus segera pergi karena ada kelas pertemuan di kampus.
"Mama...! Viona pamit. Suatu hari nanti kita pasti akan bertemu lagi. Dan Viona harap, kita bertemu dengan hati yang telah bersih. Viona sayang Mama! Jaga diri Mama baik-baik. Jaga kesehatan, ya? Jangan lupa minum vitamin dan obat Mama tepat waktu. Juga jangan lupa makan sebelum minum obat! Ini... ini ada mukena cantik lengkap dengan sajadah kompas serta tasbeh untuk Mama ibadah. Viona pamit ya, Ma!"
Aku menciumi wajahnya. Pipi kiri, pipi kanan serta kening dan pucuk hidungnya.
Mataku ikut basah. Karena tiba-tiba aku teringat Ibu yang telah melahirkanku.
Seperti tersirat wajah Ibu yang tersenyum menatapku.
__ADS_1
Aku tidak ingin memendam dendam. Aku ingin hidup tenteram.
...❤❤❤BERSAMBUNG❤❤❤...