PEMBALASAN DENDAM ISTRI PERTAMA (I Don'T Love You Anymore)

PEMBALASAN DENDAM ISTRI PERTAMA (I Don'T Love You Anymore)
BAB 199 IN FRAME "Mengobrol Sampai Pagi"


__ADS_3

Viona dan Roger piknik dadakan bersama Dzakki di pantai laut Ibukota.


Bahkan kini waktu terasa cepat sekali bergulir. Pukul sembilan malam ketika Viona melihat jam yang melingkar ditangan, membuatnya segera mengingatkan Roger dan Dzakki untuk pulang.


"Mami...! Masih pingin main!" rajuk Dzakki membuat Roger tertawa.


"Ya sudah. Kita menginap di cottage sini saja!"


"Iya Yah? Beneran?"


"Iya. Yuk, kita reservasi dulu!"


"Eh, beneran ini?" sela Viona bertanya pada Roger. Kedua bola mata mereka beradu pandang.


"Sesekali menyenangkan anak, apa salahnya?"


Viona termangu mendengar jawaban santai Roger. Sedangkan Dzakki bersorak kegirangan.


"Tapi kita gak bawa pakaian ganti lho!?!"


"Ck, woles za! Ayo!"


Viona akhirnya mengikuti langkah Roger yang menuntun Dzakki di depannya.


Hatinya kebat-kebit. Deg-degan, nervous. Karena ini pertama kalinya Viona menginap di hotel dengan pria yang bukan mahromnya.


Dulu pernah ia akan menginap dengan Firman di hotel Raja Ampat. Tapi itu karena suatu alasan yang jelas. Dan itu pun tidak sampai terjadi, karena hubungan Delan dengan Lady terungkap lebih cepat dari perkiraannya.


Hhh... Mengingat masa itu membuat Viona menghela nafas.


Dzakki terlihat lelah karena sering menguap.


"Mami, lapar. Tapi Dzakki juga ngantuk!" akunya membuat Roger langsung membopong tubuh imutnya sambil tertawa kecil.


"Pesan makan di kamar saja ya!?" ujar Roger dijawab anggukan sang anak semata wayang kesayangannya itu.


...........


Cottage yang mereka sewa berada tepat dihadapan pantai lepas Ancol. Hingga deburan ombak terlihat jelas lewat jendela besar cottage yang mereka sewa. Membuat Viona berdecak kagum sekaligus khawatir.


"Agak ngeri juga ya, kalau tiba-tiba tsunami."


"Tsunami itu rasa es krim ya, Mami?"


Sontak Roger dan Viona tertawa terbahak-bahak.


"Itu tiramisu, Sayang!" jawab Roger dan Viona berbarengan.


Lagi-lagi mereka bertiga tertawa bahagia. Hingga seorang roomboy datang membawakan meja dorong penuh makanan pesanan Roger.


Dzakki makan dengan lahap sekali.



"Dzakki belum makan?" tanya Roger.

__ADS_1


"Sudah di mall, Yah!"


"Dzakki menginap di rumah kak Chris tiga hari. Makan di mall setelah diajak Fika dan kak Mutia main ke time zone! Sudah dua hari Dzakki izin libur sekolah!"


"Iya. Aku tahu. Aku juga sudah dengar soal Dzakki dari miss Geraldine, gurunya Dzakki. Soal orang misterius yang sempat mendiami rumah bedeng di belakang sekolah!"


"Apa???"


Viona sendiri terkejut mendengar cerita Roger. Karena baru pertama kali ia dengar cerita itu.


"Makanya aku langsung ambil penerbangan siang itu juga ke sini! Aku tak akan membiarkan putraku kenapa-napa!"


Viona menelan salivanya. Rasa khawatirnya makin besar pada sang buah hati.


Malu hatinya tak terbendung. Ternyata cinta tulus Roger pada Dzakki lebih besar ketimbang cinta sejatinya Viona pada sang anak.


"Dzakki...!"


"Hm?"


"Benar ada orang misterius di halaman belakang sekolah?" tanya Viona dengan hati-hati.


Dzakki yang sibuk makan hanya mengangguk pelan.


Roger yang lebih tahu cerita yang sesungguhnya dari miss Geraldine hanya bisa menatap lekat Dzakki.


Roger tahu kalau Dzakki memiliki uang banyak dari miss Gerald. Namun ia meminta guru Dzakki untuk tidak memberitahu Viona soal itu. Karena takut Viona cemas dan berfikir terlalu jauh.


Roger hanya ingin menyelidiki siapa pria misterius itu. Dan apakah sang putra diperas secara halus oleh pria misterius itu. Tentunya dengan gaya cowboynya menginterogasi Dzakki secara lembut.


Setelah makan Dzakki langsung tertidur. Anak itu benar-benar lelah sampai cepat sekali terlelap.


"Ada yang perlu aku beritahukan padamu," ucap Viona setelah Roger selesai melap kedua telapak kaki putranya.


"Katakanlah!"


"Aku... sudah resign dari pekerjaanku di RSJ."


"Huh! Ketika kau mengambil pekerjaan itu, kau sama sekali tidak minta izin padaku!" jawab Roger ketus.


"Aku tahu aku agak kurang etika. Tapi..., aku juga bukan siapa-siapamu khan!?"


"Hhh...! Aku tahu, kamu diam-diam merawat Mamanya si Delan."


Viona terdiam. Tak berani menjawab karena ucapan Roger benar.


"Dan sekarang anak itu sudah bebas dari penjara. Kau belingsatan! Bukankah kau sendiri yang mengambil keputusan ingin menyembuhkan Mamanya. Dan wajar bukan jika dia kini mendatangi Mamanya di RSJ. Aku sana sekali tak mengerti jalan fikiranmu, Viona!"


Lagi-lagi ucapan Roger mengena' dihati Viona.


"Aku..., ingin pindah dari ibukota setelah wisuda minggu depan! Dan niatku menyembuhkan mama Tasya adalah atas nama kemanusiaan. Bukan karena ada udang di balik batu, atau ada niat tertentu. Tidak!" tukas Viona membuat Roger menoleh ke arahnya. Roger menghela nafas.


"Mau pindah kemana?"


"Bali, mungkin. Karena ada villa yang kak Jo hibahkan untuk Dzakki di Kuta!"

__ADS_1


"Apa kau sudah fikirkan masak-masak?"


"Iya. Aku ingin melepas semua keruwetan ini!"


"Herdilan pasti akan terus mengejarmu! Dia akan tetap mencarimu sampai kalian saling bertemu!"


"Tidak ada lagi yang harus kami bicarakan. Semua sudah usai! Sudah selesai!"


"Kuyakin bagi Herdilan belum. Tapi satu hal yang aku pastikan. Jika dia berani mengusik ketenangan putraku, siap-siap saja...aku akan menghajarnya!"


Viona hanya bisa menundukkan kepalanya.


"Aku tidak tahu. Apakah keputusanku ini tepat dan baik bagi perkembangan Dzakki. Boleh aku... minta pendapatmu?"


Roger tersenyum dalam hati. Senang sekali akhirnya Viona meminta saran darinya.


"Tanya pendapat Dzakki, itu yang terbaik. Dzakki sudah besar dan punya asumsi sendiri."


"Tapi aku takut, Dzakki pasti akan menolak jika kutanya kesediaannya pindah dari sini!"


"Tapi setidaknya kamu melibatkan Dzakki serta. Dia akan merasa bangga karena kamu menghargainya dengan menanyakan pendapatnya meskipun masih kecil dan belum cukup umur."


Viona terpekur. Ucapan Roger ada benarnya.


Dzakki-nya kini sangat kritis dan suka sekali mematahkan perintahnya.


"Dan rencanamu sendiri kini apa, Roger?"


"Aku? Entahlah. Mungkin masih terikat kontrak kerja beberapa bulan lagi di Surabaya. Hhh...! Rencana hidupku tidak sepenting Dzakki bagiku."


"Roger! Apa kamu tidak ada keinginan berumah tangga?"


"Apa kamu mau berumah tangga denganku?"


What??? Viona terbatuk-batuk mendengar Roger balik menanyainya. Akhirnya hanya senyum tipis mengira Roger hanya bercanda saja.


"Berumah tangga itu enak. Akan ada yang mengurus semua keperluanmu!"


"Dan apakah kamu mau mengurus semua keperluanku?"


"Ya tidaklah!"


"Hehehe... Makanya! Jangan ucapkan kalimat seperti itu lagi, Viona! Itu bukan perkataan yang disetujui banyak orang. Kenapa? Karena ketika kau ucapkan perkataan itu pada banyak orang diluar sana, maka siap-siap orang akan menyemprotmu dengan jawaban sinis."


"Apa?"


"Memangnya pasanganmu itu asisten rumah tangga? Kalau kau ingin menikah hanya karena berfikir akan ada yang mengurusi semua keperluanmu, cari saja ART yang cekatan dan bisa mengurus semua keperluanmu. Cari ART yang seperti itu saja susah, apalagi cari pasangan yang mau dianggap seperti itu!"


Viona bingung. Ia hanya tertegun memahami ucapan Roger.


"Pasangan itu bukan untuk mengurus dirimu saja. Tapi yang paling penting adalah menerimamu apa adanya, melihatmu dengan hati ikhlas semua kekuranganmu, bisa mengerti dirimu dan mencintaimu tanpa takaran serta pamrih ingin balasan."


Viona semakin terdiam.


Perkataan Roger sangat menyentuh perasaannya. Hingga tak bisa lagi ia mendebatnya. Lalu perlahan kantuk menyerang dan mereka tidur di samping Dzakki yang sudah terbang ke alam mimpi.

__ADS_1



...❤❤❤BERSAMBUNG❤❤❤...


__ADS_2