
Chris menatap penuh pada sang istri.
Mutia tengah mencuci baju di kali. Dan ini pertama kalinya Christian melihat kemampuan istrinya dalam melakukan aktifitas rumahan yang biasa. Tapi kali ini terlihat luar biasa.
Terenyuh hati kecil Christian.
Mutia yang mengenakan daster dan kain panjang yang menjadi pakaian bawahnya terlihat sangat menarik hatinya.
Chris tiba-tiba mendekat dan merengkuh bahu istrinya.
Ia berkata dengan suara parau,
"Maaf, Yang! Maafkan aku... yang tidak bisa membahagiakanmu!"
Chris melengos. Malu karena hatinya yang merapuh dengan genangan airmata turun dengan mudahnya.
Ia benci melihat Mutia menjadi seperti ini. Tangan halusnya, kuku lentiknya... kini harus berjibaku dengan sabun cuci batangan sekali pakai dan sikap plastik.
Terasa sesak hati Christian ketika melihatnya.
Tapi ternyata tidak bagi Mutia.
Senyumnya mengembang lebih lebar. Tawanya renyah terdengar sumringah.
"Hahaha... apa sih, Mas! Aku justru merasa senang, bisa kembali mengenang masa kecilku yang penuh kebahagiaan!"
Chris melongo mendengar perkataan Mutia.
"Kamu tahu gak, Mas? Ketika umurku enam-tujuh tahun... seumuran Velli, aku ini jagonya menyelam dan berenang di kali. Kali tempat kami tinggal dulu airnya lebih deras dan lebih dalam. Kami biasa memakai ban bekas mobil engkel juga tronton sebagai pelampung untuk bermain. Masa itu, sangat menyenangkan! Hehehe..."
"Kamu? Umur enam-tujuh tahun, Yang? Sehebat itu?"
"Hm... kamu sih norak! Hahaha... Makanya jadi orang kampung kayak aku! Aku, umur tiga tahun sudah bisa berenang dan mandi sendiri di kali! Beneran, tau!"
"Hehehe... keren!"
"Aku ini lahir di kampung, Mas! Anak kampung yang bisa disebut sibolang sang petualang. Hahaha...!"
"Keren, keren!!!"
Christian terpukau. Bola matanya yang tadi berpendar kesedihan, kini berubah menjadi sinar kekaguman.
Mutia benar-benar membuatnya semakin cinta dan bertambah cinta.
Hingga tiba-tiba Mutia menjentikkan jemarinya. Lalu mencipratkan air dari dalam kali yang sengaja ia semburkan ke arah Christian.
"Ayang! Hahaha..."
Mereka bermain air hingga lupa pada permasalahan yang ada.
Abaikan dunia luar. Karena saat ini mereka bahagia. Mereka juga bukan pasangan yang haram dan dilaknat Allah Ta'ala.
__ADS_1
Bahkan sepulang mencuci, Chris dan Mutia kembali bergabung dengan para santri. Mengikuti kajian kitab kuning. Membahas arti kehidupan dan kecintaan kepada Sang Pencipta. Dengan panduan dari Abah dan para ustad tentunya.
............
Sementara di ujung kali yang sama, tempat Chris dan Mutia mencuci baju,... Viona dengan Roger juga melakukan hal yang sama. Mencuci pakaian mereka yang sudah berhari-hari belum menumpuk.
Berbeda dengan Mutia dan Chris, yang terlihat manis juga romantis. Bermain air setelah selesai mencuci. Lalu pulang segera ke surau pesantren.
Viona dan Roger sama-sama lahir di keluarga yang berkecukupan.
Keduanya sama-sama tidak bisa mencuci pakaian di kali. Menyikat di atas batu, lalu membilas langsung ke air kali.
Keduanya bingung dan justru menjadikan pakaian mereka seperti mainan.
"Maaas, itu bra-ku hanyut!!!" pekik Viona membuat Roger berlarian mengejar pakaian dalam Viona yang hanyut terbawa arus.
Kali yang dangkal airnya dengan batu besar juga sedang dan begitu jernih itu membuat Viona serta Roger lupa waktu.
Keduanya tertawa-tawa menyadari kebodohan mereka yang tidak bisa mencuci manual dan alami itu.
"Hahaha...! Ya ampun, Yang! Ini pakaian kapan bersihnya ini, kalau kerja kita seperti ini? Hahaha..."
"Aku yang sikat, kamu yang bilas, Mas!"
"Oke, Sayang! Eh, kaki kamu jangan kelamaan berendam di air! Jangan begitu! Ayo naik ke atas batu!"
"Ga apa, Mas! Aku udah gak bisa jongkok! Perutku sudah makin membesar ini!"
"Udah, Yang! Kamu pulang saja. Biar aku yang cuci bajunya!" kata Roger dengan lembut.
"Ish, ga apa, Mas! Ayo, kita selesaikan cepat! Mataharinya sudah mulai panas ini, kayaknya udah jam sepuluhan lewat deh!"
Roger menarik tangan Viona. Membawa ke tepi sungai dan menyuruhnya duduk diam menunggu Roger menyelesaikan pekerjaan mencucinya.
"Duduk diam-diam, ya? Ingat, jangan bandel! Biarkan ayah Roger yang menyelesaikan semuanya! Oke?"
Viona tersenyum manis. Hatinya terenyuh melihat sang suami yang terlihat bercucuran keringat itu.
Ia mengusap peluh Roger. Hanya tatapan matanya yang berbicara, bahwa cintanya pada pria berumur 34 tahun itu semakin banyak.
Roger mengusap kepala Viona yang kini tertutup hijab.
"Yang! Apapun keadaan kita, susah senang,... aku bahagia asalkan bersama kamu!"
Meleleh hati Viona seketika mendengar ucapan Roger yang bagaikan rayuan itu.
Senyumnya mengembang lebih lebar.
"I love you, Mas Roger!"
Roger kini yang melting. Hatinya menghangat. Jiwanya perlahan menguat.
__ADS_1
Tuhan! Tolong jaga istri dan anak-anakku! Sehatkanlah mereka selalu! Lindungilah dari segala masalah, musibah dan marabahaya! Aku hanya minta keberkahan dari-Mu, untukku dan keluarga kecilku yang tercinta! Aamiin...
Doa tulus dari hati Roger yang terdalam, membuatnya tambah semangat mencuci pakaian.
Dan Roger akhirnya menyelesaikan pekerjaannya lebih cepat.
"Yok kita pulang! Hari sudah beranjak siang, yuk! Tuh lihat, wajah kamu sudah merah seperti udang rebus yang siap disantap!" goda Roger pada istrinya.
Ia menggandeng tubuh gendut Viona. Sementara sebelah tangannya menenteng ember berisi pakaian yang tadi dicucinya.
"Makasih ya, Mas! Kamu adalah suami siaga yang super duper hebat!"
"Puji aku terus, ya! Nanti aku bisa terbang seperti superman!"
"Hah? Suparman? Yang jaga parkiran di depan Indomaret depan perumahan kita, Mas!"
"Ck ck ck...! Baru seminggu di Suryalaya, kamu sudah kangen sama si Suparman!"
"Hihihi...! Maaf, maaf..., gurau ze!"
"Ish! Andaikan ini di kamar, kuhabisi kamu, Yang! Biar K.O terlentang dengan senyum kepuasan!"
"Ssstt...! Mes*m, modus! Ga boleh ngomong ngasal di jalanan umum! Ini bukan kota Jakarta, yang dengan bebas mengeluarkan sumpah serapah dan kata-kata tak bermakna! Ini desa yang penuh sopan santun serta tata krama!" Viona berbisik mengingatkan Roger.
"Astaghfirullahal'adziim! Maaf ya Allah! Maaf, Yang!" jawab Roger dengan suara pelan.
Keduanya pulang ke pesantren dengan hati tenang, meski peluh membasahi seluruh tubuh. Karena perjalanannya menuju kali yang cukup jauh dan terjal.
Mereka harus menanjak, menaiki jalanan berbukit dan melintasi persawahan ketika kembali ke pesantren.
Tapi perjalanan itu bukan tanpa pelajaran. Hidup yang penuh warna jadi kisah di masa depan.
Bahwa roda kehidupan pasti akan kita lewati dan harus kita jalani.
Pahit, manis, susah, senang... kita tetap harus berjalan melewatinya. Dengan hati dan perasaan yang seperti apa, itulah pilihannya.
Apakah kita harus menangis meraung-raung ketika tiba di titik bawah roda berputar? Atau legowo menerima nasib, berusaha kembali mengubah takdir. Dengan terus berdoa dan berusaha.
Karena sejatinya hidup tidaklah senang saja. Tuhan memberi kita ujian lewat harta, tahta dan juga cinta.
Itulah yang menjadi warna dalam hidup setiap manusia. Seperti pelangi yang datang setelah hujan dan badai menerjang. Kita akan mengagumi keindahan siluet warna-warninya, dengan senyuman syukur karena Allah Maha Baik.
...-Viona Yuliana-...
...-Fika Suherman-...
...❤❤❤BERSAMBUNG❤❤❤...
__ADS_1