
Viona pergi berziarah. Mengunjungi makam Ayah Ibunya. Putra tunggalnya ada dalam gendongan Roger Gibran Suherman. Keponakan dari almarhum Jonathan Lordess, putra Bambang Suherman dari Tania Camila.
Hidup Viona memang sangat mirip dagelan. Semrawut. Seolah hanya ada dalam pusaran keluarga klan Bambang Suherman.
Ajab kah? Atau karma?
Entahlah. Viona sendiri tak bisa mengatur langkah hidup sesuai keinginannya.
Lepas dari Herdilan, Viona sempat menggantungkan cita, cinta dan harapan pada Jonathan. Yang tak lain adalah sepupu dari Mama Mertuanya.
Takdir ternyata tak berpihak. Kejadian tragis merenggut nyawa pujaan hatinya. Papa Mertuanya menembak sadis Jonathan yang juga adalah adik iparnya.
Sungguh lingkaran klan yang menyesatkan hidup Viona.
Kini, Viona Yuliana 26 tahun. Janda muda beranak satu. Tinggal satu atap dengan Roger Gibran. Adik tiri sang mantan suami.
Takdir apalagi yang Tuhan beri untuknya? Baik atau burukkah? Tapi yang pasti kini Viona benar-benar ingin terlepas dari bayang-bayang keluarga besar Herdilan.
Bisakah?
Apakah Tuhan akan mengabulkan keinginannya itu?
..........
Roger mendadak berhenti di area pemakaman Kalibata. Kakinya seperti kram. Kaku tak bisa melangkah lagi.
Kini ia hanya mematung menatap Viona yang berada sekitar sepuluh meter dari hadapannya. Dan telah sampai di makam kedua orang tuanya.
I itu...makam Ayah Ibu Viona?
Roger mengerjapkan matanya. Jemarinya mendekap erat tubuh Dzakki Boy Julian. Nafasnya agak tersengal, mengetahui kenyataan yang ada.
Hingga kenangan itu kembali membuka luka lamanya.
...⚘⚘⚘⚘⚘...
Di pagi menjelang siang itu Roger janji bertemu dengan Ivanka. Gadis yang sudah dua tahun setengah dipacarinya.
Ivanka, seorang karyawati bank swasta. Manis, cantik, berlatar keluarga baik-baik pula.
Itu sebabnya Roger jatuh cinta dan berjanji se-iya sekata akan berlanjut ke jenjang yang lebih serius setelah ia berhasil menggondol titel magister dan lulus S2.
Ia memang pemuda yang menyukai ilmu pengetahuan. Cita-citanya menjadi profesor muda begitu menggebu-gebu.
Roger ingin membuktikan pada Mama Papa, kalau ia juga bisa jadi anak yang baik sama seperti sang kakak yang selalu mendapat sanjungan karena multitalenta.
"Lama menunggu?" sapa Ivanka yang baru datang lima belas menit setelah Roger.
Pria tampan berumur 26 tahun itu tersenyum manis menatap kekasih hatinya.
"Duduklah!" ujar Roger sumringah.
__ADS_1
"Aku... bawa kabar sedih, Mas!"
Aura wajah Roger seketika. Warnanya kini memerah tak lagi berona jambu seperti di awal jumpa.
"Kabar apa?"
"Papa ingin kita putus!"
"Ivanka?..."
"Itu benar. Papa sudah membuat janji akan menikahkan aku dengan putra sahabatnya yang dari Makasar!"
"Hei, hei... calm down baby! Please... jangan prank preng aku! Ini ga lucu! Sumpah!"
"Ini serius, Mas! Bukan prank!"
Roger menatap tajam Ivanka.
Gadis itu memberinya selembar surat undangan yang mewah.
"Ini???..."
Roger tersekat. Ia membaca berulang-ulang nama calon pengantin yang tertera di surat undangan berwarna merah marun itu.
...Ivanka Kamelia SE...
...dengan...
"Raden Muhammad Simbar M.Sc? Penyedap rasa? Hehehe... Prank mu keterlaluan, Vanvan!"
"Ini bukan prank! Lihat ini. Cincin tunangan kami semalam!"
"Ivanka...! Apa maksudmu dengan semua ini? Kamu bercandanya kelewatan ish!"
"Aku tidak bercanda, Mas! Papa tidak suka dengan arogansi Papamu! Itu katanya. Dan Papa... tidak ingin terlibat lebih jauh dengan keluarga Mas! Maaf..."
"Hehehe...! Aku tahu, Papamu tidak suka Papaku. Tapi...beliau tidak pernah mengusirku setiap kali aku datang berkunjung ke rumahmu di liburan kuliahku di Amsterdam!"
"Itu karena Papa tidak ingin menghancurkan kuliah S2-mu, Mas! Papa tidak ingin kamu jadi gagal mencapai gelar magister!"
Roger diam. Matanya tak berkedip menatap Ivanka.
"Setelah aku lulus dan berhasil..., lalu kamu memberiku ini? Padahal aku datang membawa kabar gembira. Setelah acara graduation,... aku akan kembali tinggal di Indonesia. Kita... bisa menikah, Vanka!"
"Maaf...! Aku tak bisa melanjutkan hubungan denganmu. Aku... tak ingin dicap sebagai anak durhaka, Mas!"
"Setelah perjalanan panjang kita, Van?"
"Intinya kita tidak berjodoh!"
"Semudah itu kamu bilang?"
__ADS_1
"Maaf, Mas! Maafkan segala kesalahanku!"
Ivanka... berdiri dari duduknya. Ia berjalan meninggalkan Roger yang termangu sendirian.
Seperti mimpi di siang bolong. Hubungan relation ship mereka kandas ditengah jalan.
Padahal Roger sudah memimpikan banyak hal bersama Ivanka. Banyak sekali.
Tapi ternyata tak bisa ia realisasikan.
Roger yang terluka, patah hatinya.
Membawa kendaraan Alphard-nya dengan kecepatan tinggi. Berjalan zigzag meliuk-liuk melewati kendaraan lain di kiri kanan.
Matanya berkunang-kunang. Bahkan hingga memasuki jalan tol bebas hambatan. Kecepatannya semakin dinaikkan.
Hatinya kosong... melompong. Terlebih mengingat Ivanka justru akan menikah dengan orang lain.
Hingga tanpa sadar ia menyalib sebuah mobil sedan putih yang dikendarai oleh Ayah Viona yang baru saja mematikan handphonenya setelah menggalau hatinya mendengar sang putri kesayangan diselingkuhi sang suami.
Chandra Triono, Ayah Viona kaget bukan kepalang. Ia tak mampu mengendalikan laju kendaraannya ketika mobil milik Roger menyalip tanpa sen dan meluncur dengan kecepatan tinggi di depan. Dan...
Gridig gridig...Duaaarrrr Jeggeeer...
Kecelakaan tak dapat dihindarkan.
Mobil Ayah Viona menabrak pembatas jalan dan meloncat hingga jalur kanan lalu berguling-guling setelah terlontar dengan sangat dahsyat.
Roger yang berada di depannya langsung pucat pasi menyadari kesalahannya.
Tangannya gemetar keringatan. Panas dingin seketika melihat mobil yang disalipnya tadi kini mengalami kecelakaan parah akibat kelalaiannya dalam berkendara.
Roger mencoba kembali memutar jalan balik setelah keluar dari jalan tol. Menuju tempat kejadian.
Ternyata sang korban telah dibawa ke rumah sakit terdekat. Mirisnya, kedua korban yang sepasang suami istri paruh baya itu meninggal dunia. Membuat rasa bersalah Roger berkali-kali lipat.
Ia merasa hidupnya semakin hampa. Menambah kepiluan rasa sedihnya bertumpuk dengan dosa pula.
Roger Gibran... mencoba meredakan kegalauan hatinya. Setelah beberapa hari menghilang, ia kembali menyelidiki korban kecelakaan yang terjadi karena ulahnya itu.
Ternyata... kedua pasutri itu dimakamkan di Taman Makam Pahlawan.
Berarti sang pengendara bukan orang biasa. Seorang tentara berpangkat Letnan Kolonel yang katanya memiliki anak satu. Membuat Roger berusaha menebus kesalahannya yang cukup besar itu dengan rajin menyambangi makam dan mendoakan ketenangan untuk pasangan suami istri itu.
.............
Roger kini diam seribu basa dengan wajah menunduk malu sekali.
Viona ternyata adalah putri semata wayang pasutri yang kecelakaan karena mobilnya kusalib dua tahun lalu! kata hati Roger dengan hati berdebar.
...❤❤❤BERSAMBUNG❤❤❤...
__ADS_1