
"Kenapa kau meminta perjanjian yang sekejam itu, Herdilan?"
Christian bertanya pada adik tirinya setelah Viona dan Roger berlalu dari hadapan mereka.
Sejujurnya Christian sudah tahu. Herdilan pasti akan meminta kesepakatan dengan Viona. Namun, cukup diacungi jempolnya juga karena keberanian Herdilan yang langsung to the point memanfaatkan momen pertemuannya dengan Dzakki atas dasar balas budi.
Otak mafia memang! Umpat hati Christian dengan senyum tipis.
"Mas...! Aku ingin sekali merasakan mengurus dan merawat putra kandungku sendiri, seminggu saja. Hanya seminggu, Mas! Aku hanya minta waktu satu minggu untuk me time ku pada Dzakki. Apa permintaanku terlalu berlebihan?"
"Tidak. Cuma..., dengan meminta waktu satu minggu apakah akan membuatmu terpuaskan bersama Dzakki? Kau fikir mengurus anak segampang itu?"
"Justru itu, Mas! Izinkan aku menjaga Dzakki seminggu saja. Aku akan mengikhlaskan Viona bahagia bersama Roger."
"Ternyata sedangkal itu cintamu pada Viona, Delan! Kukira cintamu dalam padanya, ternyata sangat picik! Pantas saja Viona tidak ingin melihatmu lagi selama ini. Kamu..., bukanlah pribadi yang baik dalam menjunjung tinggi komitmen hubungan!"
"Mas...! Bukan begitu, Mas!"
"Rubahlah sifat burukmu itu. Jika tidak, kau akan sendirian selama hidupmu! Kalaupun ada yang mau bersamamu, waktunya hanya seumur jagung saja. Kau memiliki tabiat yang kurang bagus!"
Christian melangkah pergi. Meninggalkan Herdilan yang terpaku sendirian. Hanya melamun memikirkan ucapan sang kakak tiri yang terdengar cukup menyakitkan.
............
Di kamar Dzakki, Viona menatap wajah bersih putranya dengan hati penuh kesedihan.
Ia meraih jemari sang putra, lalu menciumnya perlahan.
Sang mantan mertua menatap Viona dengan wajah bahagia.
"Akhirnya Allah menjawab semua doa Mama agar kembali mempertemukan kita. Bahkan kini ternyata dengan cucu Mama juga, Viona!"
Viona tak ingin menjawab perkataan Mama Tasya. Hanya diam tetap fokus pada wajah Dzakki yang tengah terlelap.
Roger keluar dari kamar Dzakki. Menunggu Delan kembali dari ruang mengobrol mereka. Sementara Christian dan Mutia pamit pulang lebih dulu pada Viona serta Tasya.
Roger menghela nafas. Delan telah terlihat menuju ke arahnya yang berdiri di depan pintu kamar rawat inap Dzakki Boy Julian.
__ADS_1
Ia bergerak maju menarik kerah kemeja Herdilan.
"Apa perlu kau kuhajar di sini?" ucapnya bengis.
Tangan kanannya telah mengepal geram. Siap menampol wajah Herdilan yang menyebalkan.
"Mas...! Aku hanya minta waktu satu minggu saja. Hanya itu kesempatanku bersama Dzakki putraku!"
"Cih! Kepedean tingkat tinggi! Kau fikir putraku akan menerima ajakanmu untuk tinggal bersamamu meskipun itu hanya satu hari?"
"Aku akan menceritakan kebenarannya. Kuyakin Dzakki sudah cukup mengerti keadaan kami. Dzakki cerdas, IQ nya tinggi!"
Bug.
Roger mengeplak kepala sang adik tiri keras. Sontak Delan mengusap-usap kepalanya yang sakit dengan bibir meringis.
"Anakku masih teramat kecil untuk diberitahu kelakuan bejadmu pada Maminya!" umpat Roger semakin kesal.
Namun Delan semakin menyebalkan.
"Dzakki! Dzakki..."
"Berisik!" bentak Viona menghardik.
Dzakki langsung terbangun. Membuat Viona senewen setengah mati. Ingin ia berkata kasar jika tak sedang dihadapan Dzakki.
"Dzakki...! Dzakki anakku! Akulah Papimu, Nak! Papi kandungmu!"
Roger semakin geram. Tangannya menjambak rambut Herdilan hingga pria yang masih sedarah dengannya itu tertarik kepalanya ke belakang.
"Ayah! Lepas, Ayah! Jangan sakiti Papiku!"
Baik Roger maupun Viona langsung melongo menatap wajah putranya.
Dzakki berkata dengan suara lantang.
"Dzakki, Anakku!" ujar Roger lirih. Ia tak percaya kalau Dzakki akan langsung berkoneksi pada ucapan Delan.
__ADS_1
"Ayah!... Papiku namanya Herdilan Firlando, bukan? Ini Papiku, dan Ayah Roger adalah Ayahku!" kata Dzakki, begitu lancar.
Terlihat wajah Delan sumringah. Ia mendekati Dzakki. Menciumi jemari imutnya dengan hati senang.
"Terima kasih ya Allah, anakku telah menerimaku dengan sangat baik!" tutur Delan membuat lemas lutut Viona.
"Mami! Mami..."
"Ya, Sayang!"
"Papi..."
"Papi di sini, Nak!"
Roger hanya diam dengan jantung berdentum kencang.
Inilah yang selama ini Roger khawatirkan. Viona akan bersama Herdilan kembali dengan alasan Dzakki. Dan pertemuan inilah yang sangat Roger takutkan.
Hhh...
Dia hanya menghela nafas panjang. Lalu perlahan berjalan keluar kamar Dzakki.
"Ayaah!!!"
Roger menoleh. Hatinya sempat menghangat, ketika Dzakki memanggilnya.
"Ayah, maafkan Dzakki!"
Pupus sudah harapannya hidup bahagia bersama Dzakki dan Viona.
Bahkan bayangan pernikahan mereka yang sederhana namun indah kini perlahan sirna.
Menyadari kalau Dzakki lebih membutuhkan kedua orangtua kandungnya dibanding kasih sayang Roger selama ini. Meski tulus dan tanpa meminta balasan, tapi hati Roger sedih sekali. Dzakki meminta maaf darinya. Bocah berusia lima tahun itu telah bisa memilih haknya. Dan ia tak bisa memaksa kehendaknya pada Dzakki.
Kini Roger mengalah pergi.
...❤❤❤BERSAMBUNG❤❤❤...
__ADS_1