PEMBALASAN DENDAM ISTRI PERTAMA (I Don'T Love You Anymore)

PEMBALASAN DENDAM ISTRI PERTAMA (I Don'T Love You Anymore)
BAB 23 Masa Bulan Madu


__ADS_3

Sebelum tidur aku telepon Ibu dan Ayah. Mereka senang mendengar aku akan honeymoon ke Bali bersama sang suami.


[Vi,... belajar jadi istri yang baik ya? Selalu ingat nasehat Ibu. Jadilah istri yang bisa dibanggakan!]


Selalu itu yang Ibuku ucapkan di akhir pembicaraannya.


Hhh... Membuatku tersipu malu. Seperti layaknya anak baru, yang selalu harus dikasih tahu ini dan itu.


Mama Tasya mengantarkan kami sampai bandara. Membawakan koper miniku masuk ke dalam hall bandar udara. Sementara Delan pergi keruang informasi untuk memastikan pesawat yang akan membawa kami ke Pulau Bali.


Setelah check in dan mendapatkan boarding pass, kami menunggu di waiting room sebentar.


Dan seperti alam merestui, perjalanan kami honeymoon dilancarkan Yang Maha Kuasa.


Pulau Bali yang begitu indah dengan ornamen-ornamen khasnya membuatku seperti orang yang norak karena baru pertama kali.


Mata ini melihat kanan dan kiri sepanjang perjalanan menuju villa om Lordess di Ubud. Sawah-sawah dengan sistem terasiring yang memukau, membuat saluran pernafasanku terasa lebih sehat karena menghirup udara sore hari yang jauh dari polusi.


"Keren ya?"


Aku tersentak. Kaget sekaligus malu, di sampingku duduk suamiku yang sedari tadi juga sibuk dengan kamera di tangannya. Mengabadikan setiap momen berharga yang kami lewati.


"Banget!" jawabku singkat tapi puas.


Mata ini kembali melalap pemandangan di luar kendaraan yang membawa kami karena sayang untuk di lewatkan begitu saja.


Kami adalah dua pribadi yang menjadi satu, kini. Namun... ternyata tak semudah membalikkan telapak tangan untuk membangun satu hubungan tanpa awalan yang manis pula.


Entah aku yang terlalu gengsi, atau mungkin juga mas Delan yang sangat cuek sikapnya. Membuat bulan madu yang harusnya manis hanya menjadi sesuatu yang fun saja bagi kami.


Setibanya di villa, ternyata sang empunya pun sudah pergi karena kesibukan pekerjaannya. Jadi, tinggal aku dan mas Delan berdua saja berikut para pengurusnya yang kini bebas mau melakukan apa saja.


Kolam renang dan jacuzzi menjadi tempat pertama kami refleksi setelah setengah harian penat dalam perjalanan.



"Vi! Ayo kita renang!"


Aku senang sekali. Bali benar-benar syurgawi di mataku kini. Membuatku lupa waktu juga lupa diri.


Kami bermain air laksana bocah lima tahun saja. Saling berkejaran, berlarian dan iseng memercikan air kolam yang hangat menyegarkan. Hingga...


"Awas, Vi!!!"


Srooot, gubrak. Byuuurrr...


Aku jatuh terpeleset dan melesat jatuh ke kolam renang yang kedalamannya tiga meteran.


"Aaaagh... Ma-maaas!!"

__ADS_1


Aku panik, berusaha berteriak karena tak bisa berenang dengan baik. Tapi semakin kukepakkan kaki ini, semakin dalam tubuhku tertarik kedasar kolam. Aku, tenggelam.


Byuurrr...


Mas Delan segera lompat ke arahku. Menarikku cepat ke sisi kolam yang lebih dangkal.


Aku yang ketakutan megap-megap kembali menarik nafas legaku karena telah selamat dari maut.


Setelah melihat wajahku yang putih pucat karena nyaris tenggelam, mas Delan akhirnya tertawa sambil geleng-geleng kepala.


"Bilang kalo ga bisa berenang! Sok-sokan ngajak tanding segala, tadi!" ledeknya dengan senyuman menyeringai.


"Aku bisa renang di kolam setengah meter aja, mas! Tapi kalau semeter keatas... langsung shock aku, mas!"


"Panggil saja namaku ketika kita sedang berdua dan tak ada Mama!" katanya seraya memegang kepalaku lembut.


Deg deg deg deg deg


Deg deg deg deg deg


Kenapa jantungku ini? Berdetak bagaikan gendang rebana yang ditabuh ketika tangan mas Delan menyentuh kepalaku dengan lembutnya?


"Apa aku tidak boleh memanggilmu 'Mas'?"


"Jangan, jika ada unsur keterpaksaan!"


"Kenapa? Kamu gak suka kupanggil 'Mas'?"


Aku tertegun.


Usia kami tak jauh berbeda. Suamiku hanya lebih tua lima bulan saja dariku. Tapi kedewasaannya membuatku malu.


Dia anak orang kaya. Terbiasa menikmati limpahan kemewahan. Beda dengan aku yang anak orang biasa saja. Bahkan masih teringat, diusia tujuh tahunku...kami sekeluarga harus pindah kontrakan sana-sini sebelum Ayah mampu membangun rumah tempat tinggal pribadi untukku dan Ibu.


Tapi sikap dan sifat Delan bagaikan insan yang telah banyak mendapatkan pengalaman kehidupan.


Suamiku itu benar-benar misterius. Keseluruhannya membuatku makin tertarik untuk mengenalnya lebih dalam lagi. Walaupun sebenarnya sudah empat tahun aku mengenal Mas Delan di kampus.


"Mas...!"


Mas Delan menoleh ke arahku. Menatap kedalam bola mataku seolah mencari suatu pembenaran di sana.


"Kenapa masih panggil 'Mas', Vi?" tanyanya.


"Karena aku suka! Karena terdengar lebih sopan juga lebih mesra!"


Mas Delan menunduk. Memilinkan jemarinya seraya tersenyum malu.


"Bukan karena permintaan Mama Tasya juga, aku memanggilmu 'Mas'! Tapi memang sebaiknya aku menghormatimu lebih karena kini kamu adalah suamiku!"

__ADS_1


"Apa kamu tidak menyesal menikah denganku, Vi?"


"Kenapa bertanya begitu?"


"Karena sejujurnya aku takut. Aku ini laki-laki,... tapi ketakutanku sangat besar sekali!"


"Takut? Takut apa, Mas?"


"Takut kamu hanya menganggap pernikahan kita ini hanyalah sebuah perjanjian di atas kertas saja seperti pernikahan kontrak pada umumnya."


Aku bingung dengan perkataannya. Tapi tak berani berkata-kata karena mataku menangkap aura suram di wajah mas Delan. Dan aku hanya terkesima melihat siluet pantulan wajahnya yang indah terkena cahaya senja.


Matahari mulai tenggelam perlahan menuju peraduannya.


Perbincangan kami akhirnya gantung sampai di sini karena ulahku sendiri yang tak berani melanjutkan pembicaraan yang sedikit sensitif itu.


...๐ŸŒฒ๐ŸŒฒ๐ŸŒฒ๐ŸŒฒ๐ŸŒฒ๐ŸŒฒ...


Malam mulai menebarkan kegelapannya. Suasana sunyi sepi, bahkan senyap menyergap di dada.


Mas Delan sendiri terlihat asyik menikmati kesunyian ini tanpa berniat mengajakku serta kedalam lamunannya.


Ia hanya duduk di teras villa dengan secangkir coklat panas dan juga kue kering yang tersaji di dalam toples kaca yang indah.


Sementara aku duduk di atas ayunan anyaman yang tersedia tak jauh dari tempatnya duduk.


Di dalam musik mengalun lembut dari gramofon antik yang Cemen putarkan. Cemen adalah pengurus villa yang dipercaya om Lordess.


Tempat ini adalah milik sepupunya Mama Tasya Jessica, yakni om Lordess. Beliau seorang pengusaha travel, duda tanpa anak berusia 40 tahun dan memang lebih memilih tinggal di kota Ubud yang tenang ketimbang kota besar yang hingar bingar.


Entahlah... ada apa dengan pernikahannya hingga harus menyandang predikat duda. Aku juga belum begitu melihat wajahnya secara langsung karena memang belum bertemu juga. Bahkan foto-fotonya sekalipun, tak kutemui terpampang di seluruh ruangan villa ini. Hanya gambar lukisan saja yang menghiasi setiap dindingnya.


Makanya, ada rasa penasaran menggelitik di hati ini perihal jati diri om Lordess. Sedangkan kehidupan Herdilan Firlando sendiri masih belum sepenuhnya aku ketahui.


Kutengok Delan yang ternyata kepergok sedang menatap wajahku juga. Seketika kedua mata kami beradu tanpa sengaja. Dan refleks pula kami saling memalingkan wajah karena malu.


Seperkian menit kemudian kami tertawa. Menertawakan kebodohan kami sendiri yang terlihat culun dengan tingkah polah yang malu-malu kucing.


Makan malam yang bi Kurni dan mbak Clon buatkan akhirnya menjadi perekat kerenggangan kami sedari tadi.


Kami berlima termasuk Cemen makan bersama tanpa batasan.


Aku senang melihat mas Delan menikmati kebersamaan dengan para pengurus villa tak seperti di rumah besarnya yang tak ingin menyeratakan kedudukan dirinya sebagai anak tuan dengan ART nya.


Entah, sifat arogansinya yang ini sedikit sulit kuterima. Karena aku tidak ingin melihat Mas Delan menyepelekan para ART nya dan tak mau melihat serta nimbrung bersama seperti saat ini.


Bagiku, Asisten Rumah Tangga hanyalah status pekerjaan saja. Toh tetap sama, manusia juga. Yang makan nasi dan lauk pauk seperti majikannya.


Jadi tak ada salahnya akrab dan berbaur bersama para pengurus yang bekerja. Begitu pendapatku.

__ADS_1


...โคโคโคBERSAMBUNGโคโคโค...


__ADS_2