PEMBALASAN DENDAM ISTRI PERTAMA (I Don'T Love You Anymore)

PEMBALASAN DENDAM ISTRI PERTAMA (I Don'T Love You Anymore)
BAB 133 Setiap Perbuatan Ada Balasan


__ADS_3

Herdilan benar-benar di ujung penderitaan. Bertubi-tubi masalah menghadangnya. Menghempaskan akal sehatnya untuk tetap berfikir memakai logika.


Polisi setiap hari menyambangi rumahnya. Mengambil satu persatu aset milik pribadi Tasya Jessica. Bahkan pihak kejaksaan juga menyelidiki Production House Pesona Tasya.


Belum lagi urusannya dengan si perempuan bin*l, Lady Navisha juga tak kunjung usai.


Senin ini adalah jadwal sidang perceraiannya dengan si setan betina.


Persidangan yang alot, karena Lady kekeuh pada pendiriannya yang ngotot menuntut dua miliar untuk KDRT yang ia alami dengan cukup banyak alat bukti berupa visum rumah sakit dua kali serta saksi beberapa ART yang Delan pecat setelah Mama Tasya masuk penjara. Ditambah kini kehamilan Lady yang kian membesar. Semakin memberatkan tuntutan pada Delan.


Sayangnya Herdilan tak punya bukti nyata untuk membeberkan kebobr*kan istri keduanya itu. Dia lupa mengamankan foto-foto Lady bersama suami-suami kontraknya tempo hari karena terlanjur emosi dan langsung menghajar Lady habis-habisan.


Sidang pun ditunda sampai minggu depan. Menunggu pihak Herdilan mengajukan pledoi dari tuntutan pihak Jelita Lara alias Lady Navisha.


Mamanya sendiri sampai saat ini belum naik sidang. Konon kata pengacaranya, pihak kejaksaan masih mengumpulkan bukti-bukti tuduhan yang dilayangkan pada Mama.


Herdilan yang merasa rapuh, sendirian dan kesepian hanya bisa melampiaskan kesedihannya itu pada botol-botol minuman haram.


Mabuk dan mabuk. Adalah pekerjaan setiap malam. Keluar masuk club malam. Berteriak, tertawa layaknya orang gila dan menenggak miras hingga pulang ke rumah sang Mama yang makin suram karena satu persatu ART nya pergi setelah beberapa bulan ini tak turun gaji.


Production House milik Tasya Jessica juga mati suri. Para kru, seniman dan karyawan yang tergabung dalam PH itu melakukan demo mogok kerja karena gaji mereka yang tertahan.


Meminta bantuan sang Papa sangatlah tidak mungkin di saat seperti ini. Karena Papanya sendiri sedang berjuang menghadapi kasusnya sendiri yang tidaklah ringan. Kasus korupsi dan nepotisme.


Herdilan kini sedang berada diambang kehancuran.


Semua bermula dari kesombongan yang tak ia sadari. Kesilapan hati serta jiwanya yang tergoda mulut manis seorang wanita. Seorang model majalah dewasa, Lady Navisha. Yang juga teman sekaligus sahabat istrinya, Viona Yuliana.


Akhirnya... beginilah ia jadinya.


Hancur rumah tangga, jauh dari kebahagiaan, bahkan yang lebih tragis lagi... ternyata kehidupan kedua orang tuanya tak jauh lebih baik darinya.


Dan kini, setiap hari tanpa ia sadari pula dosanya kian bertambah.


Firman yang dia celakai tempo hari telah meninggal dunia, membuat Herdilan hanya bisa terpaku dengan lidah kelu serta kerongkongan tersekat ketika di pagi hari televisi menayangkan berita pemakaman sang wartawan.


Hatinya ciut , takut ada saksi yang melihat kelakuannya kala itu.

__ADS_1


Andai benar ada saksi, ia harus siap dengan kemungkinan terburuk. Menjadi pesakitan juga seperti kedua orang tuanya.


Herdilan menangis meraung-raung. Isaknya terdengar menyayat hati.


Ia tak tahu lagi harus bagaimana dan harus berbuat apa.


Bingung.


Limpung.


Tak tahu lagi arah tujuan, dan harus menyelesaikan mulai dari mana.


Akhirnya Herdilan memutuskan untuk menengok sang Mama yang telah dipindahkan ke Lapas Ibukota. Tak lagi sebagai tahanan titipan di kapolsek setempat.


............


"Herdilan! Herdilan putraku sayang! Herdilan...! Nang ning nung, ning nang ning nung! Nang ning nung, ning nang ning nung... Anak Mama sudah bujang. Anak Mama paling pintar! Hehehe... Cup cup cup! Jangan menangis sayang! Kamu mau apa, Nak? Nanti kita borong semuanya! Kalau perlu... tukang dagangnya kita beli juga. Hehehe..."


Delan terhenyak. Bengong melihat keadaan sang Mama yang memprihatinkan.


"Mama..."


Mamanya kondisinya sangat mengenaskan. Berpakaian compang-camping seperti perempuan yang kurang ingatan. Rambutnya acak-acakan dengan wajah belepotan make up tak karuan. Mama terkena depresi.


"Mama... Kenapa Mama jadi begini, Ma?"


"Sabar ya sayang! Nanti Papa pulang jemput kita ke rumah besarnya. Papa akan membawa kita ke tempat yang layak! Kamu tidak akan pernah menderita. Mama janji itu! Sumpah, Mama akan buat Herdilan bahagia! Tinggal tunggu waktu!"


Delan berdiri, mencoba mencari Kepala Lembaga Pemasyarakatan untuk dimintai keterangan soal mental Mamanya.


"Pak Wildan, kenapa dengan Mama saya, Pak? Kenapa Mama saya jadi seperti itu! Apakah pak Tigor SH sudah mengetahui kondisi Mama saya? Apa tidak ada tindakan dari pihak LAPAS untuk inisiatif membawa Mama saya ketempat yang lebih beradab? Ke rumah sakit misalnya?"


Herdilan setengah berteriak mengajukan protes kepada pak Wildan Sanusi Kalapas tempat sang Mama ditahan.


"Kami sudah memberikan perawatan yang maksimal pada ibu Tasya Jessica, tahanan nomor 326 bangsal 21. Semua sesuai prosedur!"


Pak Wildan berusaha menjelaskan, namun Herdilan sedang di ambang batas kesabaran.

__ADS_1


Diteleponnya sang pengacara yang mengurusi kasus mamanya.


"Hallo!? Pak Tigor... ini kenapa Mamaku jadi seperti ini? Apa bapak tidak mengurusnya dengan benar??? A-apa?... Bapak sudah mengirimkan email pengunduran diri ke kantor Pesona Tasya? Kenapa? Kenapa tidak bertanggung jawab sampai kasus mamaku selesai? Hei, Pak... kena...pa,"


Klik.


Hhh...


Herdilan menghela nafas lalu mengepalkan tinjunya ke udara.


"Shiiit!!!"


Ia mengatupkan bibirnya, mengeratkan gigi geraham serta mengeraskan rahangnya.


Kesalnya semakin menjadi.


"Pak Wildan! Saya ingin mengajukan izin untuk pengobatan mama."


"Silakan bapak Herdilan membuat surat izin terlebih dahulu ke pihak kejaksaan tinggi setempat, setelah mendapatkan surat balasan dari pihak terkait, kami baru bisa membawa ibu Tasya keluar dari sini. Ibu Tasya adalah tahanan titipan kejaksaan karena belum ada jadwal sidang. Jadi kami tidak berani "


"Hellow... Apakah di sini tidak ada perikemanusiaan? Apa memang membiarkan tahanan titipan jadi sakit jiwa lama-lama berada di sini?" sentak Delan kasar.


"Maaf, Pak! Kami tidak bisa memberikan kepuasan kepada Anda. Tapi kalau bapak merasa perlu melakukan protes atau apapun itu, silakan melalui jalur yang benar, Pak!"


"Tapi Mama saya jadi seperti itu! Siapa yang bisa saya mintai tanggung jawab???" teriak Delan lagi.


"Itu karena kejiwaan Ibu Tasya yang tidak bisa menerima keadaannya yang kini harus membayar kejahatannya pada korban. Beliau jadi terguncang seperti itu!"


"Bukan! Mama saya wanita kuat! Beliau pasti mendapatkan penyiksaan di dalam penjara! Saya bisa laporkan tindakan kalian pada Mama saya ke Mahkamah Agung!"


"Hati-hati bicara, Pak! Salah-salah, bapak sendiri yang saya laporkan dengan tuduhan pencemaran nama baik pada aparat negara. Juga pasal perbuatan tidak menyenangkan. Bapak sendiri yang bisa masuk tahanan jika terbukti berkata bohong apalagi memneri keterangan palsu, fitnah hingga sumpah serapah! Semua ada pasalnya, Pak!"


Herdilan menelan salivanya. Meninggalkan ruang kantor kalapas kembali melihat sang ibu yang masih duduk di ruang pertemuan.


"Mama... Hik hik hiks...! Mama!"


Ia memeluk tubuh sang Mama. Jatuh berselonjor dikaki wanita yang sangat disayanginya.

__ADS_1


Terisak banjir air mata. Sementara sang Mama seperti tak sadar dan hanya tertawa-tawa kecil melihat putra kesayangannya menangis tersedu-sedu di lantai.


...❤❤❤BERSAMBUNG❤❤❤...


__ADS_2