
Viona cukup senang mendengar kabar Delan telah mengganti nama kepemilikan sertifikat rumahnya menjadi namanya. Juga Mama Tasya, yang memang sedari awal menghibahkan butiknya itu untuk Viona.
Tapi ia tak boleh berpuas diri. Masih jauh dari keinginan hatinya perlahan memberi balasan atas semua perbuatan Suami dan Mama Mertuanya.
Demikian Kak Jonathan alias om Lordess pesan.
Hari ini Viona mendapat chat dari om Lordess untuk menemuinya di suatu tempat. Karena memiliki suatu rencana lain yang bisa membuat dirinya 'diatas angin', kata kak Jo alias om Lordess itu.
Viona pergi sendirian. Tak di antar oleh sopir juga dengan mobil kantor, melainkan naik taksi online untuk menyamarkan jejak.
"Kak Jo!"
"Viona, sini!"
"Apa kabar kak?"
"Baik. Kurasa kamu juga sekarang lebih baik. Tubuhmu lebih berisi sekarang! Hehehe..."
"Makanku banyak akhir-akhir ini berkat vitamin yang dokter Lena rekomendasikan, Kak! Hehehe..."
Kak Jo mengelus anak rambutku.
"Apa kabar dede bayi dalam perutmu, Vi?" tanyanya lembut. Masih dengan jemari merapikan rambutku.
"Baik, Kak! Bayinya anteng sekali. Sepertinya bakalan jadi anak baik karena sama sekali tak membuat Vi repot!" jawabku senang. Memang benar, bayi dalam perutku tak menyusahkanku padahal akan empat bulan dalam kandungan.
Kak Jo tertawa, membuatku ikut tertawa.
Entah mengapa, aku merasa sangat nyaman berdekatan dengannya. Jauh lebih nyaman di banding dengan mas Delan suamiku.
Terlebih senyumnya lebih manis dan terlihat lebih tulus walaupun kerutan di wajahnya makin terlihat sesuai usia kak Jo yang sudah empat puluh tahun tapi masih terlihat fresh.
"Makan dulu! Ini bagus untuk kesehatan kalian!" katanya seraya menyodorkan sup sarang walet pesanannya.
"Kalian?"
"Kamu dan sang bayi di perutmu!"
Viona terharu. Kak Jo begitu memperhatikan kami (aku dan calon debay ini).
Sangat jauh berbeda dengan Delan, suaminya. Bahkan mas Delan hanya memperhatikannya dengan uang dan harta. Bahkan pria itu tak pernah memperlakukan Viona semanis kak Jo, om-nya.
__ADS_1
"Kamu harus sehat! Tubuhmu harus lebih berisi lagi. Jangan kalah bersaing dari perempuan selingkuhan si Delan!" tutur kak Jo memberiku semangat.
Ya. Apa yang kak Jo bilang itu benar. Aku tak boleh kalah bersaing dengan si Lady! Biar bagaimana pun aku adalah wanita pertamanya Herdilan. Posisiku pasti lebih tinggi di banding dia! Dan Delan harus lebih mengutamakanku ketimbang perempuan selingannya itu!bisik hati kecil Viona.
Setelah makan, mereka pergi ke suatu tempat dengan kendaraan bmw x1 milik kak Jo yang berwarna merah metalik.
"Kemana kita, Kak?"
"Tempat yang belum pernah kamu sambangi pastinya!" jawab kak Jo membuatku semakin penasaran.
Ini benar-benar rumah super mewah. Seumur-umur aku baru pertama kali memasuki rumah yang mirip dengan istana kerajaan di Inggris sana!
Mata Viona terbelalak tak berkedip.
"Rumah siapa ini kak?" tanyanya berbisik. Yang di tanya hanyalah senyum-senyum selintas saja.
"Om!"
Seorang perempuan sebaya dengan Viona menyambut kak Jo dengan bahagia.
"Siapa perempuan cantik ini, Om?" tanyanya dengan senyum menggoda ke arah kak Jo. Viona mengulurkan tangan untuk berjabatan.
"Fika Amartha!"
"Mamamu di mana, Fika?"
"Ada di kamar, Om! Bersama Papa!" jawabnya sopan sekali. Viona merasa lega, karena putri pemilik rumah mewah itu ternyata ramah dan sopan orangnya. Sangat tak ia sangka.
"Duduk, Viona!"
"Terima kasih!"
Bahkan Fika mengajak Viona duduk di kursi tamunya yang besar dan indah dengan ukiran kayu jati asli yang di pernis warna emas.
Viona gugup ditinggal kak Jo yang hanya memberiku kode anggukan kepala saja.
"Kamu teman dekat omku? Soalnya, ini pertama kali om membawa teman apalagi perempuan ke rumah ini lho, Vi! Kamu beruntung!" bisik Fika pada Viona, seperti layaknya pada seorang teman.
Viona tersenyum malu. Ia hanya menunduk ke arah perutnya.
Aku ini wanita bersuami. Sedang hamil muda pula! Apakah Fika tidak bisa melihat diriku yang asli?
__ADS_1
"Ada tamunya Lordess rupanya!"
Viona mendongakkan wajahnya. Suara itu seolah familiar dan pernah beberapa kali ia dengar.
....
....
Kedua pasang netra dua orang yang saling mengenal itu hanya bisa saling berpandangan. Kaget, bingung, tak tahu harus berbuat apa.
Ternyata...suara itu adalah suara Papa Bambang.
Suami dari Mama Tasya, mamanya Herdilan Firlando.
Ternyata kak Jo membawaku ke rumah mama Tania. Istri pertamanya Papa Bambang! Dan... ini memang rencana kak Jo membuat semua menjadi semrawut! Good! Bravo, Kak! Aku suka!
Papa Bambang menghampiri Viona. Tangannya dia ulurkan pada sang menantu dari anak istri keduanya itu agar tampak seperti baru pertama kali kenal.
Hm... Rupanya Papa juga pandai main sandiwara di depan putrinya! gumam hatu Viona.
Viona menyambut uluran tangan papa mertuanya. Kini ia tersenyum meski agak kikuk seraya berkata, "Viona Yuliana!"
"Saya tinggal ya? Silakan mengobrol santai dengan putri bungsu saya!" kata beliau masih dengan bermain peran.
Wow, pintarnya anggota dewan ini berakting! Hahaha... ya iya lah, dia terbiasa berakting untuk keamanan dirinya dari ketiga istrinya.
Viona mengangguk, tersenyum tipis dan kembali duduk di samping Fika yang ternyata adalah anak bungsu papa Bambang dengan mama Tania.
Hm... Aku baru ingat akan cerita kak Jo, tentang mama Tania. Mereka memiliki tiga orang anak. Dua laki-laki dan satu perempuan.
Aku melihat foto-foto keluarga yang dipajang dengan begitu apiknya di dinding.
"Ini, kakak-kakaknya Fika ya?" tanyaku pada Fika.
"Iya. Ini Kak Cristian, kak Roger dan ini aku. Hehehe... foto jadul!"
"Keluarga bahagia!" ucapku lirih. Senyuman manis pasangan dengan tiga orang anak adalah kesempurnaan yang hakiki. Tapi sayangnya, senyuman indah di potret pasutri itu harus tercoreng karena adanya orang ketiga, yaitu... mama Tasya.
Kak Jo keluar dari kamar. Mendorong kursi roda yang duduk di atasnya seorang wanita cantik yang menjadi pasangan istri di foto tadi.
Mama Tania! Ternyata... duduk di atas kursi roda.
...❤❤❤BERSAMBUNG❤❤❤...
__ADS_1