PEMBALASAN DENDAM ISTRI PERTAMA (I Don'T Love You Anymore)

PEMBALASAN DENDAM ISTRI PERTAMA (I Don'T Love You Anymore)
BAB 172 IN FRAME "PERTEMUAN DZAKKI-DIRGA KEMBALI"


__ADS_3

"Dzakki pulang dulu ya pak Misteri!"


Putra Viona itu pamit pada sang pria misterius itu. Namun tiba-tiba...


Grep.


Tubuh Dzakki dipeluknya. Ia menangis sesegukan sembari menepuk-nepuk pipi Dzakki pelan.


"Jangan katakan pada siapapun ya, kalau di gubuk ini ada penghuninya!" ujarnya masih dengan terisak.


Dzakki yang bingung kenapa bapak itu menangis, hanya mengangguk meng-iya-kan.


"Dzakki..."


"Iya?"


"Besok kemari lagi ya? Bawakan lagi bapak makanan!"


"Dzakki akan bawakan."


Bocah berusia empat tahun itu pun pergi keluar sembari menutup pintu gubuk dengan pelan.


Sementara sang pria di dalam gubuk hanya bergumam..., "Viona... Viona aku rindu padamu! Pasti anak kita sudah berumur empat tahun juga. Seumur dengan anak baik tadi! Hik hik hiks..."


...¤¤¤¤¤¤¤...


Sementara itu Dzakki kembali ke kelas. Tak ada seorang pun yang tahu kalau tadi ia sempat menghilang. Bahkan para tutor nya sekalipun.


Hari beranjak siang, jam sekolah pun usai.


Bi Tini telah datang menjemput Dzakki untuk pulang.


Tiba-tiba handphonenya Kenken bergetar.


Treeet... treeet... treeet


"Hallo, waalaikumsalam Tuan Chris! Oiya? Oke... tapi saya ini di jalan. Baru jemput Dzakki pulang sekolah. Oh oo... gitu! Baiklah, saya akan ke rumah Dokter Diandra sekarang!"


Klik.


"Kenapa Ken?"


"Ada berkas penting yang harus diambil di rumah dokter Diandra, Tin! Mampir dulu sebentar ya?"


"Ya udah. Kita jalan-jalan dulu, Sayang!"


"Aih? Sayang??? Padaku?"


"Ge'er kamu! Aku ngomong sama Dzakki! Weew!"


"Kukira panggil 'sayang'nya sama aku!"


Dzakki tertawa terbahak-bahak melihat tingkat kocak wawa'nya yang langsung dirangkulnya erat.


"Asiiik... jalan-jalan lagi!" Sontak Dzakki bersorak.


Kini Kenken dan Tini ikut tertawa bersama, disuasana siang yang ceria.


Mobil meluncur ke arah perumahan. Dokter Diandra sendiri ternyata sudah menunggu di teras rumahnya yang asri.


"Dzakki tunggu sebentar ya? Wa Ken mau turun dulu ambil berkas titipan Papanya kak Verrel!"

__ADS_1


"Oke!"


Tini dan Dzakki menunggu di dalam mobil, sementara Kenken keluar menghampiri Dokter Diandra yang sepertinya akan pergi keluar juga.


Mereka terlihat berbincang-bincang sedikit, lalu tiba-tiba Dirga putranya dokter Diandra keluar berteriak-teriak menghampiri sang Papa.


"Dirga...! Masuk, Nak! Papa harus berangkat kerja. Dirga di rumah ya, sama kak Boni. Nanti liburan berikutnya kita jalan-jalannya!"


"Aaa...Pa Pa, ayo... aa..Pa, jalan-jalan!"


"Iya, Sayang! Papa harus kerja! Nanti ya?"


Sementara Dzakki yang melihat dari balik jendela mobil berteriak seraya menscroll kaca jendelanya.


"Abang Dirgaaa...!"


Sontak mereka yang di luar langsung menoleh ke Dzakki.


"Papa! A adek..Aqqi! Itu!"


"Oh iya! Itu adek Dzakki!" seru dokter Diandra. Ia tersenyum lebar. Sementara Dirga langsung menghambur ke arah mobil yang Kenken bawa.


"Wawa', Dzakki boleh turun?"


Tini yang bingung melihat Dzakki berjingkrak senang hanya mengangguk dan tersenyum. Dibantunya putra sang majikan membuka pintu mobil hingga melompat turun dan keluar.


"Abang Dirga! Ini rumah abang Dirga?"


"Iya. Ayo, ayo... asuk!"


Dirga yang bahagia melihat Dzakki turun dari mobil, langsung menarik tangan Dzakki masuk ke dalam rumah.


"Ah iya, maaf... Dzakki lupa, Wa! Assalamualaikum..."


Dengan sangat manis Dzakki mengucap salam dan menarik jemari dokter Diandra serta mencium punggung lengan sang dokter sopan.


"Dzakki! Apa kabar? Waah... pulang sekolah ya sepertinya?"


"Iya."


Dirga terus menarik tangan Dzakki hingga tubuh bocah mungil itu hampir terpental.


"Dirga... hati-hati! Jangan tarik-tarik, Nak! Nanti adek Dzakki jatuh!"


"Hehehe... namanya anak-anak, dok!" ujar Kenken dengan senyum segaris.


"Dzakki... koq bisa sama mas Ken? Hm... Lha? Saya bingung... Ayahnya Dzakki masih saudara atau bagaimana?"


"Oh... Ayah Dzakki? Tuan Roger kah maksud dokter?"


"Iya, betul. Bung Roger namanya, saya ingat."


"Tuan Roger itu adik kandungnya Tuan Chris."


"I see...! Ternyata, dunia ini sempit ya? Hehehe..."


Dokter Diandra dan Kenken tertawa bersama.


"O iya... masuk dulu Mas! Saya bingung ini, mau berangkat kerja setengah jam lagi."


"Silakan dok, saya akan tunggu Dzakki di mobil!"

__ADS_1


"Aduh... Gimana ya? Hm... Putra saya pasti akan menahan Dzakki pulang. Dan dia hari ini agak badmood juga. Jadi,... hmm...! Boleh tidak, sekiranya Dzakki diperbolehkan main bersama Dirga hari ini?"


"Gimana ya?... Sebentar dok!... Tini, Tin... Telepon Viona, Dzakki boleh main di rumah temannya ga?"


Kenken setengah berteriak pada teman kerjanya itu.


Tini turun dari mobil. Menggangguk hormat pada dokter Diandra dan mengambil handphone dari sakunya.


"Kalau boleh, biar saya yang bicara langsung pada Ibundanya Dzakki. Saya yang akan minta izin, Mbak!"


Tini menelpon Viona.


"Vio... Hallo!"


...[Ya, Wawa. Ada apa? Apa Dzakki nakal hari ini?]...


"Bukan, Vi! Dzakki mau main di rumah temannya. Apa boleh?"


...[Di rumah temannya yang mana? Siapa namanya? Nanti Dzakki pulangnya gimana? Wawa temani atau gimana?]...


Viona memang super protektif jika untuk urusan Dzakki. Selalu waswas dan banyak hal yang ia takutkan terjadi pada putra tunggalnya itu.


"Biar saya yang coba izin! Maaf..." sela dokter Diandra sembari menerima uluran handphone dari tangan Tini.


"Hallo, permisi. Dengan ibunya Dzakki?'


...[Ya betul, saya sendiri. Maaf ini siapa ya? Kakak saya dan putra saya kemana ya, Mas]...


Suaranya... seperti familiar! gumam hati kecil Dokter Diandra.


"Ada, Bu! Putra dan Kakak Ibu ada di rumah saya. Oiya, perkenalkan... saya Diandra, Papanya Dirga, temannya Dzakki putra Ibu. Saya mau minta izin, minta maaf sebelumnya... Putra saya sangat ingin bermain bersama putra Ibu...,"


...[Viona. Nama saya Viona Yuliana, Mas. Maminya Dzakki. Oiya... posisi rumah mas dimana? Tolong share loc pada saya ya? Maaf... bukan maksud saya berbicara kurang sopan dan berlebihan. Hanya... saya khawatir kalau nanti putra saya sering main tanpa izin. Maaf! Atau... atau boleh kirimkan nomor pribadi istri mas, biar kami sesama wanita bisa mengobrol lebih santai]...


Diandra menghela nafas mendengar celotehan panjang perempuan yang berbicara terus tanpa jeda itu.


Hm... Maminya Dzakki pasti seorang wanita karier super sibuk ini. Bahkan sampai sangat bawel mengatur putra semata wayang mereka.


"Ya udah. Saya kirim lokasi rumah saya dan nomor hape yang bisa dihubungi, Bu! Dan untuk hari ini, saya mohon... izin untuk Dzakki bermain dengan putra saya hari ini. Atau... nanti pulangnya Dzakki diantar langsung ke rumahnya."


...[Bukan masalah begitu, Mas! Bukan maksud saya terlalu protektif pada putra saya... cuma,... Ya sudah, kakak saya mana ya?]...


Dokter Diandra mengembalikan handphone Tini pada siempunya.


"Terima kasih, Mbak!" ucapnya santun.


Tini mengangguk lalu melanjutkan pembicaraannya dengan Viona ditelepon.


"Maaf, Viona! Dzakki... ada di dalam rumah dokter Diandra!"


...[Dokter Diandra??? Kalian ada dimana? Bukannya dari sekolah Dzakki, jemput Dzakki?]...


"Iya. Tapi tadi Tuan Chris meminta Kenken untuk ambil berkas dulu ke rumah dokter Diandra. Jadi dari sekolah Dzakki, kami mampir dulu sebentar! Ternyata, putranya dokter Diandra itu temannya Dzakki. Dan mereka senang sekali sampai langsung masuk rumah, Viona!"


Viona? Viona??? Nama Maminya Dzakki??? Dokter Diandra bingung.


"Apa... nama Ibundanya Dzakki itu Viona? Pekerjaannya adalah seorang konselor di RSJ?" tanya dokter Diandra penasaran.


"Lho? Koq dokter tahu?"


...❤❤❤BERSAMBUNG❤❤❤...

__ADS_1


__ADS_2