PEMBALASAN DENDAM ISTRI PERTAMA (I Don'T Love You Anymore)

PEMBALASAN DENDAM ISTRI PERTAMA (I Don'T Love You Anymore)
BAB 215 IN FRAME "Pindah"


__ADS_3

Viona pindah setelah dua hari mengebut mengurus semua dokumen dan surat kepindahan.


Roger juga telah kembali ke Surabaya setelah penolakan Viona.


Hatinya sedih meski tidak sakit. Karena penolakan Viona bisa ia mengerti.


Ajakannya menikah terlalu tiba-tiba dan terkesan memaksa karena situasi saat itu.


Roger juga tahu, rasanya sakit karena cinta yang pernah ia agungkan ternyata hanya dipandang sebelah mata.


Tunangannya memilih menikah dengan orang lain. Nasib atau takdir, Roger masih tetap merasa nyeri jika mengingat itu. Dan Roger pun memahami Viona yang tidak ingin kembali bersinggungan dengan mantan.


Ada pepatah anak-anak zaman now, buanglah mantan pada tempatnya.


Roger mengerti Viona, walaupun ia pada akhirnya juga terluka oleh penolakannya.


Ia masih bisa memantau putranya yang dibawa pergi Viona. Dan Viona juga mengizinkannya berkunjung sebulan sekali ke tempat yang kini Viona tuju.


...


Pukul sebelas siang, Viona dan Dzakki menjejakkan kaki di tanah Bali. Desa Ubud adalah tujuan mereka. Butuh waktu satu setengah jam untuk sampai ke sana.



Viona dan Dzakki tidak terlalu membawa banyak barang. Beberapa koper milik mereka telah lebih dulu dikirim via jasa cargo.


Viona bersyukur, Dzakki adalah anak yang sangat pengertian. Jiwa cerianya tidak berubah meski kini mereka hanya akan tinggal berdua.


Dengan penjelasan pelan-pelan yang coba Viona berikan pada Dzakki, putra semata wayangnya itu mudah memahami.


"Jadi nanti Ayah juga menengok kita setiap bulan, Mi?" tanyanya dengan bola mata membulat indah.


"Iya, Sayang!"


"Dzakki nanti main dengan siapa? Wawa' Ken dan Wawa' Tini tidak ikut!"



"Mereka mau menikah, Nak! Tapi Wawa' Tini dan Wawa' Ken akan sering mengunjungi kita di sini!"

__ADS_1


"Oh gitu ya? Sekolah Dzakki?"


"Dzakki sekolah di sini. Jadi teman Dzakki semakin banyak, pastinya! Tidak apa-apa ya, Sayang? Nanti Dzakki Mami hadiahkan laptop, biar Dzakki semakin mudah belajar. Oke?"


"Oke!"


Mereka akhirnya sampai juga di Villa milik kak Jonathan Lordess. Villa berdarah tempat Jo meregang nyawa. Juga Villa pertama kalinya ia dan Herdilan memadu cinta.


Villa ini penuh dengan kenangan.


"Nona Viona!" Cemen menyambut kedatangan mereka dengan wajah sumringah.


Cemen mengurus Villa kak Jo dengan sangat baik. Bahkan ia telah merombak total semua bangunan setelah kejadian penembakan itu.


Apalagi setelah tahu, kalau Villa yang telah jadi milik Dzakki, putra Viona Yuliana, akan mereka tempati juga.


Cemen menggendong Dzakki, mengajaknya berkeliling.


"Nonaaa!!!" pekik Mbak Clon. Wajah Viona langsung ceria dan bahagia setelah tahu kalau orang yang akan menjadi asistennya adalah Mbak Clon dan Bi Kurni.


Pikirannya kembali menerawang pada beberapa tahun silam. Pada saat ia dan Herdilan bulan madu di tempat ini atas prakarsa Jonathan.


"Senangnya! Akhirnya saya bisa kembali menjamu Nona Muda!" ujar Bi Kurni dengan sangat sopan.


"Jangan panggil saya Nona Muda, Bi! Cukup Viona saja."


"Saya tak bisa, Nona!"


"Saya bukan Nona Muda lagi. Jadi Nona Tua sekarang. Hehehe..."


"Saya panggil Nyonya saja ya?"


Viona tertawa kecil. Terpaksa mengikuti bi Kurni yang kini akan menjadi asisten rumah tangga bersama ponakannya, yakni Mbak Clon.


"Bibi, waktu kejadian kak Jo... apakah bibi..."


"Saya saat itu ditempatkan di kafe Tuan Roger di Kuta oleh Tuan Besar, jadi saya tidak tahu kejadian itu!"


Ketiganya hanya bisa menunduk. Diam sejenak menghela nafas dan berusaha menghilangkan kenangan buruk itu dalam ingatan.

__ADS_1


Terbayang wajah Tuan Besar mereka yang baik hati dan rupawan. Jonathan Lordess.


"Darimana Dzakki?" tanya Viona melihat Dzakki yang berjalan cepat menujunya.


"Di ajak om Cemen lihat pemandangan sekitar, Mi!"


"Senangnya ya, ada Om Cemen yang akan menjaga Dzakki di sini!"


Putra Viona itu langsung bersorak kegirangan. Aura wajahnya penuh warna lagi.


"Andai Wa Ken dan Wa Tini ikut kita ya Mi?!"


"Nanti mereka main kesini, Sayang!"


"Horeee..."


Anak-anak adalah jiwa yang bebas dan polos. Selalu merefleksikan keadaan hatinya tanpa pura-pura.


Tapi nyatanya berbeda dengan Dzakki Boy Julian.


Bocah imut itu memiliki indera keenam. Dzakki sering melihat banyak hal yang tak ia fahami, meski tak sejelas penglihatan Christian.


Namun Dzakki sedih pada keputusan yang sang Mami buat. Dzakki tahu kalau Maminya itu sedang melarikan diri.


Dzakki mengetahui gejolak hati ibu kandungnya walau tak terlalu faham.


Viona sedang marah pada dirinya sendiri sehingga ia berusaha melawan takdir.


Dan Dzakki melihat kesalahan yang Viona kini telah lakukan.


Melarikan diri dari keadaan dan kenyataan adalah prilaku pecundang. Begitu yang ada difikiran Dzakki yang masih berumur lima tahun.


Anak itu berusaha seceria mungkin di depan Viona dan banyak orang. Namun kenyataan, ada lubang menganga dihati Dzakki. Yang kian membesar tanpa Viona ketahui.


Ada banyak pertanyaan dibenak bocah imut itu.


Pertanyaan yang seringkali membuatnya pusing kepala. Terlalu rumit untuk bisa mengerti kesusahan ibunya. Sehingga Dzakki lebih memilih menuruti apa kata Viona saja.


...❤❤❤BERSAMBUNG❤❤❤...

__ADS_1


__ADS_2