PEMBALASAN DENDAM ISTRI PERTAMA (I Don'T Love You Anymore)

PEMBALASAN DENDAM ISTRI PERTAMA (I Don'T Love You Anymore)
BAB 189 IN FRAME "Christian Versus Fika"


__ADS_3

Christian hanya bisa menghela nafas pendek. Menerima tatapan tajam sang adik bungsu serta lirikan istrinya di depan meja makan.


Kini telah pukul sembilan. Kedua buah hati serta ponakannya sudah masuk kamar tidur.


Tadi di jam makan malam, Fika menyentil obrolan soal anak tiri Papanya. Christian sudah menebak, pasti Lody istrinya sudah memberitahukan kehadiran Herdilan ke rumah ini sehari yang lalu.


"Oke, mari kita diskusi. Ada masalah apa, Fika?" tanya Christian tenang. Berbanding terbalik dengan Fika sang adik yang panas kesal mendengar kebaikan kakaknya yang tidak pada tempatnya itu.


"Hhh...! Aku butuh penjelasan kak Chris! Kenapa kakak justru mengurus dan mengobati si Tasya itu?"


"Apa salahku karena aku berbuat baik?" Christian balik tanya.


"Kakak khan tahu, siapa itu Tasya!"


"Lalu?"


"Kenapa sekarang justru kakak membantunya? Mengobatinya bahkan si Viona sendiri kini yang merawatnya?"


"Ralat ya, bukan Viona sendiri yang merawat! Tapi Viona sekarang adalah salah satu team medis di bagian konseling Rumah Sakit itu. Dan dia tidak merawat Tante Tasya setiap hari. Apalagi 24 jam. Tidak Fika! Dan perlu kamu ketahui,... Viona kurekomendasikan untuk bekerja di sana atas nama dokter Diandra. Jadi bukan keinginan Viona sendiri bekerja di sana!"


"Hm... Kenapa dia menerima? Kenapa dia bekerja di rumah sakit tempat mantan mertuanya yang jahat dirawat? Dan yang tak habis fikir, kenapa Kakak sampai mau menggelontorkan uang untuk membiayai perawatan Tasya?"


"Lody? Kamu cerita apa sama Fika?"


Mutia gugup. Ia menoleh pada Fika mencoba menerangkan ke sang suami kalau ia tidak bercerita sefrontal itu pada adik ipar.


"Tolong buatkan kami susu hangat, boleh sayang?"


Kata-kata Christian yang lembut menenangkan hati Mutia yang tadi dagdigdug.


Dia bangkit dari duduknya. Membuatkan tiga cangkir susu coklat hangat untuk mereka. Walau masih tetap di area itu.


"Oke! Sudah saatnya aku bicara padamu, Fika! Harusnya Roger juga ada di sini. Jadi aku tidak harus bolak-balik menerangkan pada kalian!"


"Ceritakan dulu sekarang! Nanti ada kak Roger, kita diskusi lagi!"


"Baik, Fika!"


Mutia menyuguhkan masing-masing segelas susu coklat panas pada kakak beradik itu. Wajah keduanya sama-sama serius. Bahkan tak ada segaris pun senyuman terpatri di sana.


"Aku... selama ini seperti orang yang hidup dengan leher terikat tali tambang yang besar. Begitu juga kau dan Roger!"


Fika menatap Christian lekat.


"Kita berada dalam hidup yang tidak sehat. Setiap kali kita bertiga berontak dan berubah posisi serta arah tujuan, leher kita selalu sakit. Karena ada tali tambang yang besar itu mengekang kita! Kamu, sudah bisa mengerti maksudku, Fika?"


Fika menggelengkan kepalanya. Sama sekali tak mengerti perkataan kakaknya yang tidak melihat kejelasan dari cerita Christian.


"Apa kau tahu, tali apa itu?"

__ADS_1


Lagi-lagi Fika hanya menggeleng.


"Dan... Apa kau mau hidup terus dengan tali besar melilit dilehermu? Membuatmu pengap, susah bergerak kemanapun kau mau. Menyiksa pernafasan serta langkah hidupmu yang pastinya penuh keinginan dan pencapaian."


Fika hanya menatap Chris tak berkedip. Kali ini ia mulai connect, tapi... tetap belum bisa terbaca arah tujuan ucapan kakaknya.


"Selama ini kita selalu dalam kungkungan dendam yang membara, Fika!"


"Pada Tasya dan anaknya?"


Kini Chris yang mengangguk.


"Itu karena mereka yang jahat lebih dulu pada Mama kita! Mata dibayar mata, nyawa dibayar nyawa!"


"Iya. Aku faham. Setiap kejahatan pasti ada hukuman. Orang korupsi, penjara menanti. Orang mencuri, siap-siap untuk dibui. Bahkan pelakor sekalipun, pasti dapat balasan telak pula akhirnya."


"Dan kalau kita marah juga benci pada wanita serta putranya itu sekarang, bukankah hal yang lumrah?"


"Lumrah. Wajar. Juga tindakan yang manusiawi, Fika. Kita marah dan benci pada mereka. Dan mereka juga telah mendapatkan hasil dari perbuatan mereka sendiri."


"Lalu kenapa sekarang kakak bersikap baik dan justru menerima mereka dengan kedua belah tangan terbuka? Mengurus si Tasya di RSJ, menerima si Delan pula di rumah ini sampai dia enak-enakan tidur di kamar tamu!"


"Hhh... Fika! Kita ini sedarah, Fika! Begitu juga dia. Sama-sama anak Papa!"


Brak.


"Najis bagiku dikatakan sodara sama si kunyuk itu!"


"Dia juga anak Papa, Fik!"


"Aku menolak keras untuk mengakuinya. Ibunya dajjal, anaknya iblis. Mereka bukan bagian dari kita! Mereka mencuri Papa kita hingga berubah tabiatnya jadi seperti setan juga!"


"Apa Mama pernah mengatakan hal buruk seperti itu hingga akhir hayatnya? Tidak khan? Mama tidak pernah mengajarkan kita pada kebencian yang mengakar. Bahkan Mama sudah mengetahui pernikahan mereka jauh-jauh hari bahkan sejak kita semua masih kecil!"


"Itu karena Mama terlalu lemah!"


"Andaikan aku ada di posisi Mama, kuhabisi perempuan dajj*l itu bahkan sama anak setannya sekalian! Biar puas! Biar satu sama! Kubunuh mereka dengan tanganku sendiri! Masuk penjara pun aku tak takut!"


"Fika...! Dan kalau Mama berkelakuan seperti yang kamu mau, Mama masuk penjara... apakah kamu masih akan menerima Mama tanpa penyesalan? Memiliki Mama seorang pembunuh? Lalu kita hidup dengan siapa? Papa? Apa Papa akan mengurus kita dengan benar sampai seperti sekarang ini? Coba fikirkan, Fika!"


Fika terisak. Menangis kecil sesegukan menahan amarah dan kesedihan hatinya.


"Mama sudah bahagia di sana. Mama kita sudah jadi bidadari surga karena kebaikan dan amal salehnya selama di dunia. Mama kita tersenyum bahagia di sisi Allah Ta'ala. Apalagi kalau kita mau mendoakan Mama setiap saat. Mama makin bahagia. Memiliki anak yang soleh soleha seperti kita. Yang senantiasa menyanjungnya dengan puji-pujian kiriman doa ayat-ayat suci Al-Qur'an. Hingga kita nanti bertemu di surga-Nya Allah!"


Fika semakin banjir airmata. Kini Mutia pun ikut terhanyut pada tutur kata suaminya.


"Aku tidak ikhlas Mama meninggal karena perbuatan perempuan itu, Kak! Hik hik hiks..."


"Tidak ada yang bisa ikhlas seratus persen ditinggalkan Mama yang kita kasihi. Tidak ada! Aku juga sama! Mama adalah orang yang selalu ada disampingku di saat aku hancur. Mama yang selalu mensupportku ketika orang lain justru menjatuhkanku. Mama segalanya buat aku, Fika!"

__ADS_1


Luruh airmata Christian satu persatu. Begitu pula Mutia. Merasa sedih hatinya mengingat sang Ibunda yang telah meninggalkannya hingga menghembuskan nafas terakhir pun di negeri China. Dengan penyakit yang sama seperti Bapaknya. Tuberculosis atau umum disebut TBC.


"Aku tidak setegar kak Chris! Hik hik hiks..."


"Aku tahu, Fika! Aku pun tidak setegar yang kamu bayangkan. Tidak, adikku! Aku lemah. Bahkan dihadapan kalian, aku sangat lemah. Aku belum bisa menjadi kakak yang baik. Kakak yang diandalkan adik-adiknya. Aku... Hiks, aku belum mampu memberikan kalian kebahagiaan seperti harapan Mama Papa! Aku tidak bisa menginterprestasikan rasa sayangku dengan baik pada kalian!"


Fika merengkuh jemari kakaknya. Mereka menangis berpelukan. Pecah hingga banjir air mata.


"Kakak! Maafkan aku yang selalu jadi adik menyebalkan bagimu!"


"Tidak, Fika! Kamu adalah anugerah terindah di hidupku. Juga kamu Melody! Juga anak-anak kita! Kalian adalah kado terbaik dari Tuhan untukku. Juga semua Takdir ini. Yang Tuhan tuliskan untuk hidupku. Hidup kita, Fika!"


Fika dan Mutia merangkul Chris penuh air mata.


"Hik hik hiks..."


"Mama kita adalah orang hebat. Mama kita adalah insan pilihan Tuhan untuk mendapatkan cobaan terberat dalam hidupnya. Dan Mama kita selama hidupnya tidak pernah membuka aib Papa hingga kita harus membencinya, bukan?"


"Mamaa... Fika rindu Mamaaa! Huaaahik hik hiks..."


"Kita juga orang pilihan Tuhan, untuk menyandang semua ini. Betapa Tuhan sangat menyayangi kita hingga kita jadi orang istimewa dengan jalan hidup yang rumit bagi kita, Fika!"


"Hik hik hiks, Kakak! Kenapa omonganmu jadi seperti Opah! Kamu seperti kakek-kakek yang bijaksana!"


"Aku malah melihat Opah dan Omah duduk di sekitar kita, Fika! Mereka tersenyum melihat keakuran kita ini! Hiks..."


"Kakak!" Fika menengok kiri dan kanan. Ketakutan mulai menguasai dirinya. Sementara sang kakak tersenyum meski merah wajahnya dan basah pipinya.


"Fika...! Mari hilangkan kebencian yang ada dalam diri kita. Karena aura kita berwarna mengenaskan. Juga kegelapan auramu itu, bisa menghalangi jodoh juga kariermu."


"Ma-maksud Kakak?"


"Kita berdoa pada yang kuasa, memohon ampunan-Nya dengan khusu' dan tawaddu'. Yakinlah... kita melakukan segalanya dengan hati bersih, berusaha dijalan-Nya. Maka semua masalah yang ada dihidup kita, perlahan bisa kita atasi. Bisa merubah nasib kita kearah yang lebih baik, Fika!"


"Lantas bagaimana dengan tujuan kakak mengurusi tante Tasya? Hik hik hiks..."


Chris memeluk adiknya lagi.


"Dia sudah menjalani hukumannya. Juga dengan anaknya. Papa kita, juga mendapat hukuman dari Allah Ta'ala. Walau kita membenci Papa. Toh kita tetap putranya. Didalam darah kita mengalir darah beliau. Meski kita kesal, Papa telah menyakiti Mama kita. Tapi beliau tetaplah Papa kandung kita."


"Ya aku mau tahu apa rencanamu kedepannya, Kak!" sela Fika yang kesal pada ucapan sang Kakak yang terdengar bertele-tele.


"Kita kasih, satu rumah kecil untuk mereka. Juga sedikit modal usaha untuk kehidupan mereka selanjutnya. Kini Delan bisa mengurus Mamanya sendiri. Dan aku akan melepaskan tanggung jawab yang selama ini telah kupegang!"


"Sebaik itu? Membiarkan Delan yang juga telah menyakiti Viona dan Dzakki bolak-balik kerumah ini? Apa Viona tidak akan salah faham?"


Hhh... Christian menghela nafasnya. Pertanyaan Fika benar. Dan kini otaknya sedang berputar mencari jalan keluar yang terbaik bagi semuanya.


...❤❤❤BERSAMBUNG❤❤❤...

__ADS_1


__ADS_2