PEMBALASAN DENDAM ISTRI PERTAMA (I Don'T Love You Anymore)

PEMBALASAN DENDAM ISTRI PERTAMA (I Don'T Love You Anymore)
SESSION 2 IN FRAME "Piknik Seperti Bersama Tiga Keluarga"


__ADS_3

Seperti yang Roger rencanakan, mereka segera berkemas untuk pergi ke Taman Matahari. Salah satu wahana wisata yang ada di wilayah sekitar Puncak.


Roger selalu suka ke sana, karena dahulu Papa dan Mama pernah membawa mereka bertiga lengkap sekeluarga untuk liburan dan berenang di kolam renangnya.


Tempatnya memang sederhana dan nyaris tidak seindah taman hiburan lainnya yang wah.


Namun memori ingatan Roger mengingatkan selalu pada masa indah keluarga mereka kala itu. Dan sampai kini, masih terkenang kebahagiaannya.


Di mana dulu ia dan Chris menaiki kuda dengan dituntun Papa. Lalu Mama yang berjalan di samping Papa dengan bergelayut mesra menggendong Fika yang masih bayi.


Sungguh masa-masa kecil yang teramat indah. Yang selalu Roger ingat hingga kini.


Untuk itu Roger selalu ingin datang dan datang lagi kesini jika berkeluarga nanti.


Syukurlah, cita-cita dan khayalannya tercapai juga. Kini ia benar-benar mendatangi Taman Matahari bersama istri dan anaknya. Membuat Roger jadi rendevous mengingat masa kecil dulu.


Sudah berubah. Pastinya.


Dan semakin keren dan banyak tempat-tempat yang memanjakan para pengunjungnya.


Wahana flying fox adalah tujuan Verrel yang mulai menyukai olahraga ekstrim. Berbeda dengan Velli yang ngotot ingin secepatnya pergi ke kolam renang.


Gadis mungil nan cantik itu sangat suka berenang.


Untungnya di wahana flying fox ada juga trampolin dan beraneka ragam permainan ayunan, jungkat-jungkit dan juga komedi putar mini yang bisa dinaikkan oleh Velli serta Dzakki dan juga Dirga.


Anak-anak senang sampai lupa pada pada tujuan Velli yakni berenang.


Viona dan Roger menjaga putra mereka. Mutia serta Christian juga sigap mendampingi si kembar Verrel dan Velli.


Sementara Diandra dibantu Fika mengawasi dan membantu Dirga yang sangat bahagia.


Sungguh piknik yang luar biasa. Seperti piknik bersama tiga keluarga kecil saja. Sampai-sampai Chris dan Mutia berkali-kali saling pandang tersenyum melihat kekompakan Diandra dengan Fika.


Entah mengapa. Melihat keduanya saling bahu membahu dalam memainkan permainan bersama sangat menyenangkan.


Diandra dan Fika tak segan-segan berdebat menentukan mainan mana yang boleh atau tidak boleh Dirga naikkan.


"Jangan larang terus anak untuk berkembang!" protes Fika ketika Diandra melarang Dirga untuk mencoba flying fox. Ia sangat tertarik melihat Verrel yang berteriak-teriak kegirangan merasa terbang di atas awan.


"Jangan! Takut jatuh!"


"Ya ampun, dok!... Pengamanan disini pasti terjamin. Dan lagi ini flying fox khusus anak dibawah umur 12 tahun juga. Dan tingginya hanya tiga meter saja."


"No no no! Tiga meter itu tinggi. Kalau jatuh ya sakit juga!" larang Diandra.


"Ya jangan didoain jatuh dong anaknya! Gimana sih jadi orang tua?! Hadeeuh, susah memang kalo punya bokap aki-aki!"


Fika tetap bersikeras membiarkan Dirga naik. Asalkan dengan pengawasan ketat. Alhasil Diandra ketar-ketir melihat sang putra yang sedang mencoba melewati rintangan melompati papan demi papan untuk sampai di tempat flying fox.


"Ayo semangat, Abang Dirga! Semangat, semangat, semangat!" teriak Fika memberikan support pada Dirga yang sesekali berhenti dan mencoba menguatkan hati untuk lanjutkan perjalanan.


Sementara Diandra, harap-harap cemas menatap sang putra dari bawah. Hati kecilnya selalu berdoa untuk keselamatan sang buah hati.

__ADS_1


"Semangat, semangat, semangat!"


"Abang Dirgaaa..., semangaaat!!!"


Velli dan Dzakki ikut menyemangati Dirga. Hingga bocah berumur sepuluh tahun lebih itu semakin terpacu dan lebih berani melangkah ke depan. Hingga ia sampai di area tempat pengurus wahana flying fox dan diikatkan dengan sangat hati-hati tali pengamannya.


Mata Dirga berbinar indah. Ia terlihat begitu bahagia meski takut-takut melihat ke bawah.


"Siap ya?... Oke, meluncuuur...!" kata sang penjaga dan pengurus sembari menurunkan tubuh Dirga ke atas tali.


"Abang Dirgaaa..., kereeen!!!" Fika tetap memberi Dirga semangat.


Dan Dirga teriak dengan lepasnya.


"Aaa... Waaah... Kereeen!!!" teriak Dirga bahagia.


Disitulah Diandra tahu, kalau anaknya butuh tempat untuk mengeksporasi dirinya sendiri. Hingga timbul keberanian untuk mandiri dan berdiri dengan kakinya sendiri.


Diandra menyadari, kalau ketakutannya selama ini agak berlebihan. Karena khawatir sang putra tidak bisa mengimbangi anak-anak lain yang normal. Hingga ia lebih menarik diri serta mengkungkung Dirga dengan sel penjara yang dibangunnya sendiri tanpa disengaja.


Hhh...


Diandra ikut bersorak gembira.


"Yeaaay... Dirga hebat!!!" pujinya dengan senyuman kebahagiaan.


Fika ikut tersenyum memperhatikan raut wajah Diandra yang terlihat berbeda.


Dirga turun dan dibantu sang operator membuka alat pengaman yang tadi dipakainya.


"Dirga Sayang! Kita mau pergi berenang sekarang. Dirga mau ikut kita khan?" tanya Fika dengan lembut. Kemudian Dzakki datang dan menarik tangan Dirga.


"Ayo Abang, kita ke sana yuk?!?"


Kedua bocah itu berlarian sambil tertawa-tawa. Sementara Diandra menghela nafas lega.


Fika tertawa kecil.


"Baru kali ini aku melihat seorang bapak yang was-wasnya melebihi seorang ibu pada anaknya. Apalagi sang bapak itu adalah seorang dokter spesialis jiwa. Hehehe..."


"Kamu tidak tahu, bagaimana aku bisa se-fight ini dalam mengurus dan membesarkan Dirga. Banyak tetesan keringat serta airmata. Juga perasaan yang berdarah-darah!"


"Hhh...! Aku memang tidak tahu rasanya memiliki anak. Karena belum pernah menikah apalagi punya anak. Tapi setahuku, anak itu perlu kita bebaskan agar dia tumbuh berkembang dengan semestinya. Jangan terlalu dikhawatirkan berlebihan! Tapi tetap harus senantiasa diawasi juga dan jangan jauh dari pantauan!"


"Fika,... apakah kamu seorang praktisi anak?" tanya Diandra membuat Fika tertawa.


"Ish, aku ini sarjana arsitektur. Makanya kerjaku jadi pemborong. Walau sebenarnya arsitek itu tugasnya cuma mendesain dan mengarsitektur bangunan. Atau minimal menjadi surveyor. Tapi aku berhasil jadi kontraktor kecil-kecilan. Yang kerjaannya ngitungin jumlah takaran semen, pasir, batu bronjol, dan bahan bangunan lainnya. Pekerjaanku cukup berat bagi perempuan!"


Prok prok prok.


Diandra bertepuk tangan. Dia terlihat sangat mengapresiasi pekerjaan Fika.


"Perempuan hebat!" pujinya antusias.

__ADS_1


"Minta doanya semoga minggu ini tenderku goal!"


"Amin! Semangat ya, Fika! Aku senang mendengarnya! Semoga sukses!"


"Makasih, Dok!"


"Hei kalian...! Ayo,...! Apa kalian masih mau berduaan terus?" teriak Chris membuat Diandra tertawa malu.


"Apa sih, kak Chris? Gajebo deh!" gerutu Fika sang adik, malu-malu meong.


Keduanya mempercepat langkah mereka. Menghampiri para saudara dan anak-anak yang lebih dahulu meninggalkan area flying fox menuju kolam renang.


"Kita berenang mumpung hari belum terlalu panas!" ujar Mutia sambil sebelah tangannya menuntun Velli.


"Asiiik..., berenang!" pekik Velli senang.


"Mami, lihat ada kuda!" teriak Dzakki kegirangan.


"Ya sudah, kita naik kuda dulu!" ucap Roger sembari menggendong sang putra ke atas punggungnya.


"Yeaay... naik kudaaa!!!"


"Abang Dirga mauu... haik kuda juga!"


Diandra tersenyum mengangguk.


Para ayah segera membawa putra-putra mereka diiringi istri-istri mereka.


"Fik! Kamu sudah seperti ibu yang hebat lho, dimata kami!" bisik Mutia menggoda sang adik ipar.


"Iya. Sudah pantas menikah dan punya anak!" Viona ikut memanas-manasi.


"Heh, jangan rese' kau ya!? Aku ini belum punya pasangan! Nikah sama siapa?!" sungut Fika sembari mencubit tangan Viona yang kini juga adalah kakak iparnya dari Roger.


"Hihihi... anak perawan selalu sensitif ya? Padahal jodoh didepan mata!"


"Mana? Siapa? Hah? Aki-aki itu? Idih..., masa' aku jadian sama aki-aki?!"


"Khan aki-akinya high quality jomblo!"


"Ish..., aku maunya sama Lee Min Ho. Atau paling mentok sama Choi Tae Joon deh!"


"Idih, narsis abis!"


"Hahaha... Boleh kali aku narsis!"


Ketiga perempuan cantik itu tertawa bersama.


"Mamaaa...! Kapan kita renangnya?" teriak Velli kesal. Acara renangnya tertunda oleh keinginan sang kembarannya yang sedang asyik naik kuda bersama saudara-saudara sepupunya.


"Sabar ya Sayang! Tunggu Papa dan Verrel naik kuda dulu, kita beli es krim dulu yuk di taman itu?"


Akhirnya para ladies melipir duduk dipinggir taman sembari menikmati se-cup es krim rasa durian.

__ADS_1


...❤❤❤BERSAMBUNG❤❤❤...


__ADS_2