PEMBALASAN DENDAM ISTRI PERTAMA (I Don'T Love You Anymore)

PEMBALASAN DENDAM ISTRI PERTAMA (I Don'T Love You Anymore)
BAB 221 IN FRAME "Semoga Viona Dan Dzakki Bahagia"


__ADS_3

Hari yang indah. Penuh bunga-bunga bermekaran dihati Viona serta Roger.


Mereka seperti sepasang muda-mudi yang baru merasakan cinta.


Saling memberi perhatian satu sama lain lewat perbuatan dan kata-kata.


"Yah!... Kita ke dokter dulu."


"Aih? Ngapain ke dokter?"


"Pesan adik baru buat Dzakki ya, Mi?" sela Dzakki membuat merah pipi Roger dan Viona.


"Ayah semalam sakit panas, Sayang! Harus ke dokter dulu! Biar dapat obat dan sakitnya sembuh."


"Ayah sudah sembuh koq! Iya khan, Dzakki? Nih pegang, dahi ayah sudah tidak panas lagi!"


"Masih hambar. Ayah harus ke dokter. Dan Ayah harus nurut kata Mami!" ujar Viona pura-pura marah dengan serius.


Roger tersipu. Dijawilnya dagu sang pujaan hati.


"Untuk Mami, apapun Ayah akan turuti!"


"Hahaha...! Ayah lebay!" Dzakki sangat menyukai kemesraan kedua orangtuanya itu. Ini yang ia inginkan sedari dulu. Berada dalam kasih sayang dan kemesraan Viona serta Roger. Bersama mereka dalam kebahagiaan.



"Ish, Ayah pasti berubah kalau ada tante Gigi yang cantik itu!" celetuk Viona, kembali mengingat sahabat SMP sang pacar.


"Ha ha, Mami cemburu, Ayah!"


"Ha ha... Mami cemburu rupanya! Hehehe..."


"Ish... Malah digodain!"


"Gigi hanyalah sahabat masa muda. Dan itu juga hanya guyonan teman-teman pada masa itu. Gigi tahu, aku mengejarmu. Dan Gigi juga mensupportku untuk dapatkan kamu, Viona!"


Deg.


Jantung Viona berdebar-debar. Ribuan kupu-kupu mengelilingi sukmanya yang berbunga-bunga.


Dipandanginya wajah Dzakki yang kini tertidur pulas di jok sampingnya.

__ADS_1


"Kumohon... tunggulah aku dua bulan ini! Kontrak kerjaku di Surabaya baru akan habis setelah dua bulan. Kita bisa menikah secepatnya setelah itu. Mau ya?"


Roger menceritakan semuanya. Membuat lega hati Viona.


"Kamu mau kita menikah di sini atau di Jakarta?" tanyanya lagi.


Viona merenung sejenak. Ia sejujurnya menginginkan kembali ke Jakarta. Namun... ada Herdilan si biang rusuh tinggal disana pula.


"Masih mengingat si bajingan itu?" tebak Roger tepat sekali.


"Bukan mengingatnya. Tapi takut terjadi sesuatu jika kita didekat orang itu lagi!"


"Aku akan menjagamu juga Dzakki pastinya. Apa kamu memandang rendah padaku?"


"Bukan. Bukan begitu."


"Panggil aku hubby!"


"Ish... belum sah jadi hubby!" Roger tertawa kecil melihat Viona bersungut-sungut.


Tangannya segera meraih jemari Viona.


"Sedang menyetir, fokuslah kedepan, Bang!"


"Geli-geli gimana gitu dengarnya!"


"Hahaha...! Ayo, biasakan panggil pasangan dengan mesra! Seandainya aku dipanggil sayang sama perempuan lain, kamu mau terima?"


"Janganlah, Sayang!"


"Hahaha... kurang mesra! Ayo lagi, Viona Sayang!"


"Gak mau! Itu namanya pemaksaan!"


"Sayang...! Apa cintamu juga terpaksa?"


"Tentu tidak. Cintaku tidak ada unsur paksaan kali ini. Kamu tidak percaya ya sudah, Sayang!"


"Hahaha...! Sayang kenapa pengucapannya seperti itu! Jadi mirip Tante Lala penjual online yang viral beberapa bulan lalu, Sayang!"


"Sayang,... jangan sering nengok kebelakang Sayang! Aku takut kita kecelakaan, Sayang!"

__ADS_1


Viona semakin senang menggoda Roger. Sampai tawa mereka menggema menggaungi seisi mobil yang Roger kendarai.


"Sayang...! I love you, Viona!"


"I love you too!"


Hati keduanya menghangat. Debaran jantung mereka seperti seirama. Mengalun lembut menyanyikan kidung cinta.


Separuh langkahku saat ini


Berjalan tanpa henti


Hidupku bagaikan keringnya dunia


Tandus tak ada cinta


Hatiku mencari cinta ini


Sampai kutemukan yang sejati


Walau sampai letih ku 'kan mencarinya


Seorang yang kucinta


Oo oooh


Kini kumenemukanmu


Diujung waktuku patah hati


Lelah hati menunggu


Cinta yang selamatkan hidupku


Kini ku tlah bersamamu


Berjanji 'tuk sehidup semati


Sampai akhir sang waktu


Kita bersama 'tuk slamanya

__ADS_1


...❤❤❤BERSAMBUNG❤❤❤...


__ADS_2