PEMBALASAN DENDAM ISTRI PERTAMA (I Don'T Love You Anymore)

PEMBALASAN DENDAM ISTRI PERTAMA (I Don'T Love You Anymore)
BAB 63 Akhirnya, Ada Teman Yang Bisa Di Ajak Kerjasama


__ADS_3

Ketika terbangun, aku mendapati senyuman manis seorang perempuan usia sekitar tiga puluhan. Berparas cantik, dengan jas putih dan stetoskop di tangan.


"Nona pasti Dokter Lena!" ujarku membuat senyumnya semakin melebar.


"Panggil saja dokter Lena, ga usah pakai 'nona'. Meskipun status saya masih single!" katanya seraya mengangguk lembut.


"Dokter... apa benar saya sedang hamil?"


Aku mulai terisak. Tak mampu membayangkan betapa kejamnya takdir yang Tuhan beri untukku ini.


Suamiku menikah lagi, kedua orang tuaku kecelakaan lalu lintas, mama mertua yang kukira akan ada disisi membelaku ternyata 'no'. Kini kabar buruk lainnya adalah... aku hamil anaknya Herdilan Firlando.


"Hik hik hiks..."


"Boleh saya bertanya sesuatu pada Anda?"


Aku menatap kedua bola matanya. Menunggu pertanyaan yang akan dokter itu lontarkan.


"Ada hubungan apa sama kak Jodes?" tanyanya tegas namun lembut.


Aku menggeleng cepat.


"Kami tidak ada hubungan! Kak Jonathan baru pertama kali bertemu saya. Maksudnya, dua kali. Yang pertama di pintu toilet umum di Kuta setahun lebih sewaktu saya sedang honeymoon dengan suami!"


Aku mencoba menjelaskan. Karena terlihat tatapan menyelidik serius dari pancaran sinarnya.


Sang dokter tertawa terkekeh.



"Ya ampun, Louisa! Jangan takut sama aku. Jangan kaku seperti kak Jodes, ya?! Dia itu manusia primitif yang reinkarnasi. Hahaha..."


Aku tersenyum agak lega. Ternyata dokter Lena bercanda.


"Nama aslimu siapa?"


"Viona, dok! Viona Yuliana!"


"Saya Lena Wulaningsih. Maaf, Kak Jodes selalu menyebutmu 'Louisa' karena wajahmu mengingatkannya pada mantan pacar yang telah tiada karena kanker otak."


Hm... Akhirnya aku bisa mengetahui dengan jelas, kenapa Jonathan selalu memanggilku 'Louisa'.


"Oiya, Viona sudah menikah? Tapi... dilihat dari wajahmu, kamu masih teramat muda. Berapa umurmu, Vi?"


"Dua puluh tiga tahun, dok!"


"Kamu boleh panggil aku, Mbak atau Kakak. Karena usiaku bulan kemarin tiga puluh tiga. Hahaha... ya Tuhaaan, gue tiga-tiga tapi masih jomblo. Sedangkan perempuan muda dua-tiga ini sudah bersuami, sedang hamil pula!"

__ADS_1


Dokter Lena tertawa lepas, menertawakan nasib dirinya. Aku kembali teringat pertanyaanku yang awal.


"Dokter Lena, benarkah aku hamil?"


"Kamu beneran ga ngerasa kalo kamu lagi hamil, Viona?"


Aku menggeleng. Merenung sejenak memikirkan tanggal terakhir aku menstruasi. Aku lupa. Sampai kugeleng-geleng kepala beberapa kali agar teringat waktu kapan aku datang bulan.


"Kamu sedang mengandung sekitar enam belas minggu. Tapi lebih detail, sebaiknya kamu ke klinik bersalinku di Mangga Dua. Biar nanti kak Jodes yang antarkan!"


"Dokter... Bisakah... gugurkan kandungan?"


Dokter Lena melotot padaku.


"Hei! Aku bukan dokter tukang aborsi!"


"Maaf..."


Senyum di bibir dokter Lena kembali mengembang.


"Aku sedikit tahu kegetiranmu dari kak Jodes! Aku mengerti kondisimu, Viona... meski belum sepenuhnya faham. Tapi saranku, jangan melakukan tindakan yang dibenci Tuhan! Mengerti khan? Terlebih lagi, aborsi itu merusak kesehatan tubuh serta mentalmu. Apalagi usiamu juga masih muda. Jangan berbuat ceroboh, adex!"


Aku merasa sejuk mendengar ucapan dokter Lena. Air mataku terasa meleleh jatuh perlahan.


"Mau cerita padaku? Atau... kamu sudah nyaman dengan kak Jodes? Ceritakanlah kesusahan hatimu. Bukalah pintu maafmu pada Tuhan! Jangan salah faham pada-Nya. Sedangkan Tuhan sendiri Maha Pemaaf."


Aku hanya bisa menjilat bibirku yang terasa kering. Menelan saliva dan menunduk menyembunyikan air mata.


Aku mendongakkan wajah. Tersipu malu karena Jonathan telah berada di balik pintu.


"Maaf... aku pikir pemeriksaan telah selesai, jadi masuk tanpa permisi karena khawatir pada kesehatan Viona!"


Dokter Lena mengerjapkan matanya.


"Ketuk pintu sebelum masuk, Kak! Oiya... mana psikiater gantengmu itu? Sudah pulang?"


Aku hanya diam, menyimak obrolan kak Lena dan kak Jonathan. Karena tak mengerti dan juga bukan kapasitasku mengikuti perbincangan mereka. Terkesan tidak sopan.


Fikiranku kembali melanglang buana pada isi perut ini. Ada calon baby berumur tiga bulan bersemayam di dalamnya.


Kemungkinan... aku dan Lady, sama-sama sedang mengandung? Dan di waktu bersamaan pula? Karena seingatku kata si Delan bangs*at itu sedang mengandung dua atau... tiga bulan kurang ketika mereka liburan di Raja Ampat!? Ya Tuhan!!!


Aku memegangi perutku. Masih terlihat datar. Bahkan tubuhku tampak sangat kurus hingga seperti seorang penderita anoreksia.


Bagaimana mungkin mas Delan akan tertarik dengan diri yang kurus tak terurus ini. Apalagi kini aku juga sedang mengandung dan perlahan perutku membuncit. Bagaimana bisa aku menunjukkan wajah dan tubuh jelek ini dihadapan bajingan bangsat itu?


Mereka pasti akan semakin mengolok-olokku.

__ADS_1


"Viona?"


"Ah, iya? Mas Delan?"


O'o. Aku salah menyebut nama kak Jonathan!


"Mas Delan? Herdilan Firlando??"


Aku terkejut. Kak Jo mengenal nama suamiku lengkap sekali.


"Tunggu!... Jangan bilang, kau adalah... Viona Yuliana Chandra istrinya Herdilan Firlando!"


Aku menatap tajam kak Jonathan. Mengangguk sekali, untuk mengiyakan. Dan responnya seketika.


Byarrr...


Kak Jo melemparkan vas bunga keramik yang ada di nakas meja.


Aku terpekik. Kaget dan spontan berteriak ketakutan.


"Bajingan itu kenapa masih terus memburuku bahkan sampai saat ini!" teriaknya keras. Seketika dokter Lena menarik kedua pangkal lengan kak Jo untuk menenangkannya.


"Sabar, Kak! Rilekskan fikiranmu! Ingat! Perempuan ini kakak temukan dalam kondisi hendak 'bundir' bukan? Ada kemungkinan ia juga dalam kondisi teraniaya hingga ingin menghabisi nyawanya sendiri, Kak!"


Aku yang ketakutan seperti menggigil kedinginan, semakin ciut nyali ketika tangan kekarnya meraih daguku dan mengangkat ke arah wajahnya.


"Bagaimana kabar si anak iblis itu? Masih senang-senang seperti biasa?"


Aku menatap mata coklat kak Jonathan lekat. Ada riak yang tampak resah bergejolak di sana. Entah... seperti amarah, atau... entahlah!


"Anak ibl*s itu semakin senang dengan sekutunya si sund*l dajj*l!" jawabku juga dengan nada jijik.


Aku mulai mengerti. 'Anak Ibl*s' itu pasti si Herdilan Firlando.


"Maksudmu, ibl*s betina Tasya Jessica khan?" tanyaku memastikan. Sedikit takut dan ragu kalau ternyata aku salah sasaran.


"Bravo! Bajingan tengik itu kini sudah dewasa rupanya!"


"Gara-gara perbuatan bajingan ibl*s itu aku sampai ingin bunuh diri! Gara-gara persekongkolan para setan itu, aku jadi seperti ini! Hidupku telah mereka hancurkan!!! Aaaaarrrgggh!!! Aaaaaarrrrgghhh!!! Mereka semua harus mati! Harus membusuk di neraka!!! Huaaa hik hik hiks!! Aku benci mereka semua!!!"


Kini aku yang teriak histeris mengutuk dan merutuk mereka. Dan Jonathan langsung memelukku erat sekali. Hingga nyaris aku tak dapat bernafas.


"Kak Jo, Kak...! Kasihan itu anak orang, klepekan!"


"Oya, maaf. Maaf Viona! Maaf!"


"Ternyata... kalian memiliki musuh besar yang sama!" Dokter Lena memberiku clue.

__ADS_1


Akhirnya aku memiliki teman untuk menghancurkan keluarga itu!


...❤❤❤BERSAMBUNG❤❤❤...


__ADS_2