
Mas Delan masuk kamar dengan mendorong meja trolly penuh berisi makanan dan minuman.
"Wah!" kataku dengan mata membesar.
"Taraaa...!"
Ia menarik kedua tanganku lembut. Mengambilkan kaos t-shirtku yang masih tergeletak di sisi ranjang lalu memakaikannya padaku. Persis seorang ayah yang penuh perhatian.
"Terimakasih, Mas!" tuturku manja padanya.
"Kembali kasih, Vio!"
Ah... Mas Delan! Suaramu membuat hatiku luluh lantah karena kemesraan yang kau suguhkan.
"Makan dulu! Biar ada tenaga."
Aku menyeringai godaannya yang disambut gelak tawa Mas Delan.
"Hari ini kita di rumah aja ya, Vi?"
"Lah? Katanya sudah menyusun banyak rencana? Mau hangout ke sini, ke sini... ambil view ini, view itu!"
"Hm bagus... istriku sekarang sudah berani meledek ya?!?"
Mas Delan menggelitik pinggangku, membuat aku tertawa kegelian.
"Hihihi... ampun, ampun! Tapi khan mas sendiri yang bilang waktu semalam?"
"Aku masih mau..."
"Mau apa?"
"Mau... Kamu, Viona sayang!"
"Maaaas...! Eling mas, sudah berapa kali kita main lho tadi!" tukasku membuatnya tertawa terbahak-bahak.
"Maaf, di otakku masih terngiang-ngiang keindahan gemulai tubuhmu, yang!"
__ADS_1
"Mas Delan... lagi makan ga boleh fiktor!"
"Upss... Maaf, maaf!"
Aku tersenyum sambil geleng-geleng kepala. Suamiku ini libidonya sedang tinggi-tingginya. Jadi, ya seperti itu tingkahnya.
...๐ฒ๐ฒ๐ฒ๐ฒ๐ฒ๐ฒ...
Bulan madu yang indah. Itu yang kini kami rasa.
Menaiki sepeda onthel menyusuri jalan pedesaan yang masih asri dan hijau, membuat hidupku terasa lebih sehat berkali-kali lipat.
Berenang, berselfie ria, mencari-cari spot terbaik untuk 'makanan' kameranya mas Delan kini adalah pekerjaan yang menyenangkan bagi kami.
Sikap mas Delan pun pada para pengurus villa kini kembali baik. Hanya Cemen yang sedikit menjauh. Sengaja menjaga jarak demi kenyamanan mas Delan sepertinya.
Telah lima hari kami di Ubud, namun om Lordess belum kelihatan batang hidungnya.
Kulihat mas Delan juga tak ambil pusing soal omnya yang juga pemilik villa tempat kami menginap ini.
Dari obrolan kami, ternyata mas ku itu sudah beberapa kali menyambangi villa ini juga tanpa pernah bertemu sang pemilik yang sekaligus adalah sepupu mamanya.
Ubud cukup jauh dari pantai. Dan di hari ke-enam ini aku merayu mas Delan untuk mengajakku ke pantai Kuta. Kata Cemen sekitaran kurang dari satu jam bisa sampai ke sana.
"Ikut kami, Men!" ajak Mas Delan pada pemuda yang lebih tua dari kami tiga tahunan itu.
"Tidak, Tuan Muda. Terima kasih!" tolaknya halus.
Cemen sepertinya benar-benar takut mendekati aku lagi. Bahkan sekedar menyapa santaipun kini ia tak lagi lakukan kecuali salam 'selamat pagi, selamat siang, selamat malam'. Itu pun dengan wajah menunduk dan mata ke arah bawah.
Aku tidak terlalu memikirkannya lagi. Karena memang kecemburuan mas Herdilan pun masih kukategorikan diambang batas wajar. Karena kejadian yang belum lama ini menimpa keluarga om-nya sendiri yakni istri om nya yang di bawa kawin lari pelayannya sendiri.
.............
Berangkat pukul delapan, dan tiba sebelum pukul sembilan. Pantai Kuta sedang ramai-ramainya pelancong menikmati sinaran matahari pagi menjelang siang.
__ADS_1
Mas Delan benar-benar seperti fotografer profesional. Wajahku terlihat cantik dan bersinar di bidik lensa kameranya. Persis foto model asli, begitu pujinya selalu padaku. Tentu saja merekah lubang hidungku. Ge'er.
"Cantikmu alamiah, Viona!" tuturnya lembut mengurai anak rambut yang menutupi mataku.
Dia melarangku memakai pakaian mini, apalagi bikin*. Mas Herdilan tak ingin tubuh suciku di pandangi banyak orang.
Ya iyalah. Selain banyak cup*ngan juga dimana-mana yang bikin risih aku juga.
Aku hanya tersipu malu mengingat lukisan merah tanda kecupannya di tubuh ini. Sungguh nakalnya, suamiku ini.
Kami hanya berlarian ke sana-kemari bak anak kecil yang kegirangan bermain air.
Membeli peralatan membangun benteng istana pasir, juga duduk-duduk dan rebahan di kursi malas yang tersedia di area pantai.
Malam ini kami menginap di cottage yang ada di bibir pantai.
Lewat sambungan telepon, om Lordess mengarahkan kami menyambangi cottage sahabatnya di Kuta ini. Dan inilah cottagenya.
Gratis untuk kami, sebagai kado pernikahan dari om Lordess.
"Seperti apa sih om Lordess itu aslinya, Mas? Pasti baik hatinya ya, sampai memberi kado juga ga tanggung-tanggung sama kita! Atau... kamu itu ponakan kesayangannya?" selidikku ingin tahu.
"Aku sendiri lupa-lupa ingat, yang! Waktu kecil beberapa kali jumpa beliau. Dan memang beliau orang yang sangat baik. Sayangnya beliau jarang ikut hadir di acara keluarga meskipun itu hari raya. Begitulah, Om Lordess! Mama sendiri seringkali marah-marah ketika teleponan sama beliau dan responnya om hanya tertawa santai!"
Hm... Seperti itu rupanya.
"Eh... Mas, aku mau ke toilet dulu ya?" selaku merasa tak enak karena kebelet pipis.
"Aku antar?"
"Gak usah, tungguin aja di sini! Jangan kemana-mana, ya Mas!?"
"Oke, sayang! Hati-hati...jangan salah jalan!" pesannya manis sekali.
Aku tertawa kecil seraya melambaikan tangan mengibas dan berlari kecil.
__ADS_1
...โคโคโคBERSAMBUNGโคโคโค...