PEMBALASAN DENDAM ISTRI PERTAMA (I Don'T Love You Anymore)

PEMBALASAN DENDAM ISTRI PERTAMA (I Don'T Love You Anymore)
BAB 48 Tamu Tak Di Undang Di Pertemuan Keluarga


__ADS_3

Setahun lebih sebulan, usia pernikahan kami. Rencana untuk bayi tabung urung kami laksanakan mengingat kesibukan pekerjaan kami masing-masing.


Mama Tasya juga kini tak lagi sedih dan mencecarku dengan banyak pertanyaan ketika bulananku datang seperti biasa.


"Biarlah Tuhan Yang Menentukan!" katanya di pertemuan keluarga kami di bulan ini.


Seperti biasa, kami yakni Papa Mama, Ayah Ibu serta mas Delan menyempatkan satu hari libur untuk berkumpul dalam satu atau dua bulan sekali. Untuk mempererat tali silaturahim.


"Iya. Biarkan saja semuanya mengalir seperti air. Lagipula, usia dua puluh empat itu adalah usia yang masih sangat muda bagi Papa untuk mereka memiliki tanggung jawab berat berupa titipan anak dari Yang Maha Kuasa!"


Aku tersenyum mengangguk. Seperti biasa, Papa bicara dengan bijaknya. Dan Ayahku mengangguk menyetujuinya.


Ting tong...


Tong tong...


Ditengah riungan keluargaku, tiba-tiba bel pintu kami berbunyi. Ada tamu rupanya.


Aku membukakan pintu. Ternyata...


"Hallo...Viona!"


Seseorang berdiri tegak di balik pintu. Cantik dan elegan. Seperti biasa.


"Lady? Kamu tahu alamat rumahku? Sengaja kesini? Ya ampun... masuk, masuk! Ayo masuk!"


Perempuan itu mencium pipi kiri dan kananku setelah menggapai jemari, menjabatku.


Seketika aku teringat pada foto Lady bersama mas Delan.


"Hei... kamu ada perlu sama aku atau... sama mas Delan?" tanyaku spontan. Wajah Lady terlihat tegang seperkian detik.


"Aku ada keperluan urgent sama Miss Tasya, Viona! Beliau khan atasanku!"


Aku tersenyum kecut. Menggandeng pinggang rampingnya lalu mengajaknya masuk kedalam.


Kutatap wajah mas Delan guna ingin tahu bagaimana responnya ketika gadis yang pernah difoto Kak Firman terindikasi dekat dengannya itu.


Responnya, agak kaget juga di awal. Tapi kemudian dia justru terlihat cuek dan kembali enjoy mengobrol dengan Ayah, Ibu serta Papa. Bahkan tak menyapa Lady sebagai 'tamu tak diundang' kami.

__ADS_1


Syukurlah.


Hanya Mama Tasya yang sedikit tergopoh-gopoh menghampiri kami. Wajahnya terlihat gugup sembari menarik tangan Lady menjauh dariku.


"Jelita? Ada apa? Kamu sampai menemui Mama ke sini?" tanya Mama Tasya.


"Jelita sangat butuh Miss saat ini!" jawab Lady dengan mata menatap lekat mama mertuaku.


"Khan Miss sudah bilang, hari ini ada pertemuan keluarga kami. Penting. Dan tidak bisa di ganggu hal lain!"


"Ini urgent, Miss!"


"Ya sudah, ayo keluar!"


"Ada apa, Ma? Sini, ajak gabung artismu berbincang bersama kita!" Papa berkata yang membuat Mama Tasya cemberut kesal.


"Jangan genit deh! Oiya jeng, aku urus dulu anak buahku ya...!?"umpatnya pada Papa, lalu beralih melambaikan tangan ke arah Ibuku.


"Ah iya, Jeng! Silahkan..."


"Mamanya Delan itu super aktif orangnya. Nurun itu ke Delan juga, sepertinya! Hehehe... bagi mereka, waktu adalah uang. Dan meskipun sudah saya kasih tahu...waktu bersama keluarga itu jangan dikotak-katikkan dengan pekerjaan... Ya tetap saja begitu! Hhh... Maaf ya, pak bu!"


Aku... yang tadi agak curiga padanya menjadi lebih tenang, kini.


Hm... Aku melihat gelagat aneh Lady Navisha. Bahkan perempuan itu sampai berani mendatangi rumahku demi pura-pura ada keperluan penting dengan Mama Mertuaku.


Syukurlah...suamiku justru terlihat adem saja tanggapannya. Sepertinya, si Lady memang sedang memasang 'umpan' untuk menjerat suamiku.


Hohoho... Kau fikir mudah untuk menarik hati mas Delan, Lady! Tidak. Suamiku itu mencintai diriku saja. Cintanya hanyalah untukku saja. Dan kau... tak kan pernah bisa menarik perhatiannya apalagi cinta mas Delan.


Aku hanya berbicara dalam hati.


Cukup puas juga karena Lady tidak berhasil mendapatkan perhatian suamiku saat ini. Dan besok kupastikan Ira akan tersenyum senang mendengar ceritaku tentang keculasan Lady yang berani mendatangi rumahku dan mas Delan.


Mama Tasya kembali ke dalam ruang tengah tempat kami berkumpul. Lady Navisha masih mengikutinya seperti bebek, begitu menurut penglihatanku.


"Ayah, Ibu... masih ingat Lady?"


Tiba-tiba Lady menghampiri kedua orangtuaku yang termangu dengan sapaan lembutnya.

__ADS_1


"Lady..."


"Saya teman kuliahnya Viona di kampus biru. Juga satu sekolah di SMA."


"Oh iya... Iya iya. Maaf, Ibu lupa, Nak! Maklum, faktor 'U'. Hehehe... Apa kabar Lady?" tutur Ibuku dengan sopannya.


"Baik, Bu!" Lady memeluk tubuh ibuku, hendak cipika-cipiki.


"Sekarang kamu jadi artis ya? Keren... Dan pasti akan sukses."


"Aamiin! Hehehe... hanya model, Bu! Saya bukan artis terkenal seperti di televisi. Hanya aktif di majalah dan sesekali cat walk, Bu!"


"Apa pun pekerjaan, selama kita menjalaninya dengan baik, tulus ikhlas... pasti hasilnya juga akan baik!"


"Seperti mendapatkan suntikan motivasi yang membahagiakan!" jawab Lady sok akrab.


Ibuku tersenyum berbincang santai dengan Lady yang seolah memang sengaja ingin mengakrabkan dirinya pada keluarga besar kami. Sungguh membuatku sedikit sebal.


Gayanya yang terlihat manis, tapi bagiku... gaya itu adalah akting murahan yang buruk sekali ketika ia perankan.


Aku benci gaya Lady Navisha.


Untungnya mas Delanku tidak terlihat berbinar matanya menyaksikan tingkah Lady yang sok imut.


"Jelita! Sepertinya urusanmu sudah selesai. Apa... tidak sebaiknya kamu pulang? Kamu mengganggu pertemuan keluarga kami!"


Mantaf Mama Tasya!


Jelita alias Lady Navisha memerah wajahnya seketika. Ucapan pelan Mama Tasya membuatku bersorak kesenangan dalam hati.


"Ma, biarkan saja Lady disini!"


Apa? Mas Delan justru mengambil keputusan yang membuatku bingung?


Mas Delan seperti sadar, kalau ucapannya membuat netraku sedikit melebar bulatannya. Ia meraih bahuku dan merangkul mesra kedalam pelukannya.


"Lady itu teman akrab istriku tercinta, Ma!"


Ufh... Begitu rupanya, maksudnya!

__ADS_1


...❤❤❤BERSAMBUNG❤❤❤...


__ADS_2