PEMBALASAN DENDAM ISTRI PERTAMA (I Don'T Love You Anymore)

PEMBALASAN DENDAM ISTRI PERTAMA (I Don'T Love You Anymore)
BAB 59 POV HERDILAN FIRLANDO


__ADS_3

Treeet... Treeet... Treeet


"Siapa sih? Ganggu orang lagi enak aja!" gerutu Lady yang sedang dalam pelukanku.


Kami memang sedang bersenang-senang di balik selimut halus kamar hotel yang kami pesan di Raja Ampat.


"Jangan-jangan... si Firman kating gembel itu ya?" tebak Lady membuatku memicing. Kata-katanya seperti tak di filter!


"Pasti minta duit itu, Mas!"


"Ssst..."


Aku menyuruhnya diam. Ternyata Mama! Tak lama kemudian ku telpon balik.


"Ya, Mah? Ada apa?... Hah? Ayah sama Ibu Viona kecelakaan? Hah?? Me-meninggal di tempat? Innalillahi wa inna illaihi rojiuun! Viona gimana keadaannya, Ma?... Titip Viona! Aku segera pulang!"


...Klik....


"Ada apa sih, Mas?"


"Ayo berkemas, kita pulang sekarang juga, Lady!"


"Kita baru sehari lho di sini! Kenapa sih? Mas Delan? Please deh!"


"Orang tua Viona meninggal dunia! Ayo cepet!"


"Hah?? Bentar, bentar... aku mau pasang status dulu!"


"Lady! Kamu tuh ya!! Ga bisa punya empati sedikit apa? Padahal kamu lagi hamil!"


"Iya, iya. Sekali aja. Mumpung baju kita lagi couple-an!"


"Lady!"


"Iya! Ga akan kuposting full! Cuma kepingin bilang sama para penggemar setiaku kalau aku bukan single!"

__ADS_1


Ya Tuhan! Seperti inikah tingkah istri keduaku?


Cekrek.



Dan aku... dengan bodohnya malah ikut-ikutan gaya konyolnya! Haish!


"Jangan di posting wajahku!"


"Iyaaa. Bawel!"


...πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’...


Kami pulang ke ibukota malam itu juga. Berpisah setelah kuantarkan Lady kerumah Mama.


"Terus aku sama siapa? Ikuuut..."


"Jangan! Kubilang jangan, ga boleh ngeyel!"


"Please Lady! Aku harus kerumah Ayah Ibu Viona!"


Cup. Cup. Slurrp!


Kucium pipinya kiri dan kanan. Tak lupa bibir sensu*lnya kulum*t cepat.


"Bye honey, bye baby!"


Hhh... Aku suka manjanya Lady, terasa sekali kalau ia begitu menginginkanku. Beda dengan Viona. Wanita santui luar biasa itu terlihat mandiri segalanya. Bahkan disaat seperti ini, ia malah belum memberi kabar padaku sama sekali. Pertanda dia tak terlalu membutuhkanku. Hhh... Tapi sifat Lady sangat kekanakan. Bahkan ucapannya seringkali membuatku tercengang. Lady terlalu memikirkan dirinya sendiri.


Aku berperang dalam sanubariku sendiri.


Suasana rumah mertuaku ramai orang ta'ziah. Rupanya jenazah Ayah dan Ibu sudah dimakamkan sore itu juga. Dan aku terlambat mengantar keperistirahatan terakhir beliau berdua.


Tak bisa dipungkiri, tubuh ini lemas tak berdaya merasa kepergian mereka bagaikan mimpi buruk. Ayah, sepintas memang terlihat kaku pembawannya. Tapi sebenarnya beliau adalah orang yang sangat bijaksana dan penuh tanggung jawab pada keluarga.

__ADS_1


Sejujurnya dibandingkan dengan papa Bambang, papa kandungku sendiri,... aku lebih respek pada Ayah Chandra. Lebih masuk obrolannya denganku.


Ibu... Juga orang yang baik. Wanita mulia yang tak banyak menuntut. Kemungkinan Viona condong mirip Ibu. Cuma bedanya Viona agak sedikit pendiam seperti ayah. Ibu selalu mengekor apa kata Ayah. Beliau istri yang luar biasa. Benar-benar wanita sejati.


Kucari-cari istriku, Viona. Ternyata ia ada dipelukan mamaku.


"Sayang!"


Plak.


Aku terkejut sekali. Viona melayangkan tangan kanannya dan menamparku cukup keras meski tubuhnya terlihat lemah.


"Viona! Maafkan aku terlambat mengikuti prosesi pemakaman Ayah dan Ibu!"


Aku berusaha mengerti kesedihan Viona. Kegundahannya disaat yang sangat terpuruk sedangkan aku tak ada di sisinya.


Kucoba memeluk tubuh rapuhnya. Semula ia menolak dengan dorongan kedua tangannya. Tapi kutetap inginkan pelukannya.


Viona menangis histeris dipelukanku. Luruh airmataku mendengar jeritan tangisnya yang pilu. Kesedihannya ditinggal kedua orangtua bersamaan adalah suatu hal yang menyayat hati. Aku bisa merasakan semua penderitaan batinnya.


Maafkan aku, Viona! Maafkan aku, sayangku! Aku bukanlah suami yang bisa kau andalkan. Ya. Aku adalah lelaki yang buruk bagimu, mungkin. Maaf, Viona!


Aku bersalah, meninggalkan Viona pergi dengan Lady. Istri keduaku yang ngidam ingin diving di Raja Ampat.


Aku bersalah, tidak ada disisi Viona disaat dirinya dirundung musibah.


Tapi aku akan jadi laki-laki sejati dengan menghandle semua urusan pengajian yang di gelar keluarga besar Viona dalam mengantarkan doa-doa atas kepergian almarhum almarhumah.


Viona tetap sedih dan suram wajahnya. Bahkan, ketika aku mencoba merayu serta memujinya yang tetap cantik walau tanpa make up dan dalam keadaan diam sekalipun.


Bahkan Viona melayaniku tanpa senyum di bibir. Tapi ia menerima perlakuanku dan melayani walau setengah hati. Aku bisa merasakan. Karena feedback yang kudapati tiada seindah dulu.


Hm... Aku bisa minta jatah tambahan nanti pada Lady.


...❀❀❀BERSAMBUNG❀❀❀...

__ADS_1


__ADS_2