
Tring.
Balasan chat dari kak Jo!
Aku segera meraih ponsel dan membuka isi balasan chat kak Jo.
..."Aku sudah makan, Viona!"...
Hiks... Hanya itu saja jawabannya? Terasa hambar dan dingin dihati ini.
Entah mengapa... meleleh airmataku. Sedih dan seperti tersayat perih di hati.
Kakak... Tidakkah kau ingin mendengar suaraku? Menanyakan kabarku? Sedang apa diriku? Tidak kau tanya balik, apakah aku sudah makan?
Aaaa... Hik hik hiks...!
Tidak peka sekali sih, kak Jo ini!
Kenapa aku jadi sangat sedih sekali mendapati balasan kak Jo yang teramat singkat? Mengapa hati ini sakit rasanya, diabaikan kak Jo yang biasanya ramah?
"Huaaa... hik hik hiks! Kakaaak! Kenapa tak mau menelponku? Please... teleponlah aku! Biasanya kamu banyak cakap, banyak pertanyaan."
Aku menangis sejadi-jadinya. Tak pedulikan kalau ini sudah pukul sepuluh malam. Dan kupikir tak kan ada juga yang mendengarku.
Treeet... treeet... treeet
Aaah... dia menelpon!
"Hallo..."
...[Vi kenapa? Suaramu kenapa terdengar parau? Viona?]...
"Hik hik hiks...huaaaaa huhuhu! Kakak jahat! Jahat sekali!"
[Eh?? Ada apa, Viona? Apa yang membuat kamu menangis sedih seperti itu?]
"Aku sebel! Kesel sama kak Jo! Hik hik hiks... Kakak mengabaikanku! "
...[Maaf...! Maaf Vi, aku banyak tamu dari beberapa kerabat dekat yang mengucapkan bela sungkawa! Maaf,... bukan bermaksud mengabaikanmu!]...
Aku mengusap butiran yang masih menetes di pipi. Malu, tersadar kalau tingkahku ini kekanakkan.
"Maaf, Kakak! Aku... aku menunggu jawaban chatmu dari tadi! Hik hik hiks..."
...[Maaf ya, maaf... Aku adalah wali dari putra-putri almarhumah Tania. Jadi aku harus terus stand bye di samping mereka, Vi! Memberikan atensi serta perhatian juga pada para pelayat yang terus berdatangan dari kerabat.]...
"Maaf, kak! Aku hanya sedang sedih saja. Sedang badmood juga! Bukan maksudku membuat kakak pusing."
...[Hehehe... iya. Tak mengapa, aku ngerti Viona pasti takut kalau kasus mas Bams akan menyeretmu terlalu dalam. Tenang ya?!? Besok aku pulang dengan penerbangan pukul sembilan pagi. Chris sudah mendapatkan tiketnya dari Garuda Indonesia Airlines! Tunggu aku pulang ya, besok kita diskusikan!]...
Untunglah... hiks, kak Jo berfikir aku menangis karena itu. Padahal aku sama sekali tak memikirkannya. Justru yang kupikirkan adalah rasa kangen yang membludak ini padanya. Bukan memikirkan masalah papa Bambang!
...[Hallo, Vio?]...
"I iya kak! Hati-hati di jalan ya, besok!"
__ADS_1
...[Hehehe... Iya, Vi! Tidurlah, ini sudah pukul sepuluh lewat. Istirahat ya, sun sayang untuk debay papi Jo yang ganteng dan keren! Muacht...]...
Pipiku terasa panas. Bersemu merah jambu karena malu. Kak Jo titip pesan untuk bayiku yang ganteng, dan ciuman jarak jauhnya membuatku terasa nyata.
"Hehehe... Iya Kak! Kakak juga, istirahat. Jangan begadang ya? Jangan ngobrol sampai lewat tengah malam!"
...[Ini aku sudah di kamar. Ada Roger juga tuh, masih nge-game! Ya sudah... have anice dream, Viona! Good night, my beiby!]...
Aaah... melting hati ini seketika.
"Good night kakak! Selamat malam, assalamualaikum!"
...[Wa'alaikumsalam...]...
Klik.
Hhh... Rasanya plong hati ini. Mataku pun langsung berasa lengket, mengantuk. Suara kak Jo seperti seorang penyiar istimewa. Yang mampu membuaikan hatiku untuk melewati malam yang indah. Menyongsong esok penuh bahagia.
Lamat-lamat akhirnya mataku terpejam jua. Setelah kuncup bunga yang mulai tumbuh tanpa terasa bagaikan tersiram embun pagi hari dan siap merekah mewangi semerbak di hati.
Kak Jo... Apakah hati ini tertambat padamu? Entahlah... biar Tuhan saja yang mengatur semua-Nya.
...☆☆☆☆☆☆☆...
Berita panas soal terjeratnya papa Bambang pada kasus korupsi yang dituduhkan menjadi kasus paling viral saat ini.
Nyaris sebulan, keluarga Herdilan terus menerus ditimpa kabar tidak sedap.
Mulai dari perceraianku dengan sang pangeran PH Pesona Tasya, lalu tuduhan Kak Tania pada Mama Tasya yang bukanlah kasus main-main. Bahkan kini mantan mama mertuaku itu sudah dijebloskan polisi ke sel tahanan.
Aku bisa tersenyum lega. Herdilan Firlando pasti shock berat kali ini.
Hantaman masalah bertubi-tubi. Dan ini semua bukan kasus biasa. Dan urusan hukum negara bukan perkara yang mudah juga ringan.
Semua pasti akan membuat Herdilan tidak tenang hidupnya untuk beberapa waktu ke depan.
"Viona!"
"Kak Jo!"
Entah mengapa. Rindu ingin begitu menyeruak, membuatku tanpa sadar langsung menghambur ke dalam pelukan kak Jonathan.
Terlihat wajah kak Jo merona. Bi Tini bahkan tersipu dengan senyum malu-malu.
Haish... konyolnya tindakanku! Hiks...
"Hai sayangnya Papi Jo! Apa kabarmu jagoan? Papi harap tidak buat Mami kewalahan ya?"
Kak Jo mengusap perutku lembut.
Kini pipikulah yang merah jambu. Malu tapi senang dalam hati karena diperlakukan seperti itu.
Kamu memang paling bisa membuatku bahagia, Kak!
"Bagaimana keadaan Fika?" tanyaku berusaha memulihkan suasana.
__ADS_1
"Fika baik. Dia kirim salam padamu!"
"Waalaikumsalam!" jawabku senang.
"Christian juga sudah pulang kerumah bersama istri dan dua anak kembarnya!"
"Bayi mereka juga ikut serta kak?"
"Iya. Delapan bulan sudah naik pesawat. Hehehe..."
"Keren! Vi umur tujuh belas baru merasakan duduk di kursi pesawat terbang. Itu pun kelas ekonomi!"
"Hehehe...! Nanti bayi kita akan naik pesawat terbang kelas bisnis ketika usianya empat bulan!"
Aih??? Ba bayi kita?
Kulirik kak Jo yang terbahak seraya mengacak-acak poniku.
Kami makan malam bersama lagi. Rasa hati bahagia sekali.
Kak Jo melayaniku. Dia paling senang menyodorkan sup sarang walet padaku. Katanya untuk kesehatanku serta kecerdasan otak bayiku.
Aku teringat bahasan Ira tentang sarang burung walet.
Katanya harga se-kilogramnya bisa sepuluh juta rupiah. Bahkan bisa lebih jika pasokannya langka.
Wadidaw!
Otomatis, makanan yang kusantap saat ini pastinya makanan termahal yang masuk dalam tubuhku. Selain rasanya lezat karena bi Tini paling pintar memasak, juga khasiat dan harganya yang bikin mata mendelik kaget.
Kak Jo juga membantuku memberi sebutir kapsul vitamin dan segelas air putih setelah selesai makan.
"Baru juga selesai makan!" tukasku protes dengan suara manja. Kenapa aku jadi begini?
"Pasti kalau dipending minumnya, Vio pasti sering lupa. Malah langsung tidur, jadinya tak minum vitamin!" jawaban kak Jo membuatku tertawa malu. Apa yang jadi argumennya itu memang benar.
"Kakak...! Apakah selama kakak jauh dariku, kakak mengingatku?"
"Ya tentu saja! Aku khawatir kamu lupa makan, lupa minum vitamin. Lupa kalau kamu sedang hamil dan melakukan hal-hal yang membahayakan calon jagoan yang ada di perutmu ini!"
Haish! Jawabannya malah membuatku insecure. Ternyata kak Jo hanya memikirkan bayi yang ada dalam perutku saja. Ish... Hhh... Baginya bukan diriku yang selalu dalam fikirannya.
Lagi-lagi kak Jo mengusap anak rambutku. Mengacak-acaknya hingga tanpa sadar merengut bibir ini.
"Tetaplah semangat, Louisa-ku! Biarpun di luar sana ada badai bencana, angin topan menerjang... Kau harus tetap berdiri tegak dengan kedua kakimu, Viona! Tuhan selalu menjagamu! Camkan itu! Meskipun ada aku ataupun tiada. Kau adalah perempuan tangguh yang luar biasa! Kamu bukanlah Viona si Lemah yang selalu dipandang sebelah mata oleh si Herdilan itu"
Bias mataku. Merebak pecah menjadi serpihan kaca air mata yang perlahan menetes.
"Kakak...! Aku tanpamu, hanyalah butiran debu! Hik hik hiks..."
"No, Viona! Jangan katakan itu!"
Tubuhku nyaman dalam pelukannya. Jiwaku tenteram dalam dekapannya. Inikah yang namanya 'jatuh cinta'?
...❤❤❤BERSAMBUNG❤❤❤...
__ADS_1