
Christian hanya bisa menatap wajah wanita berusia 29 tahun itu dengan pandangan lelah.
"Nona Khaila! Kenapa kamu dan Papamu begitu gigih sekali? Aku ini lelaki berumur 39 tahun. Punya anak dan juga istri. Tampangku juga gak ganteng-ganteng amat, kurasa kamu juga memiliki banyak penggemar pria fanatikmu diluaran sana. Please...! Bisakah kamu membuka mata?"
"Saya... telah jatuh cinta pada Mas Christian sejak umur 13 tahun!"
"Nona...! Hhh... Maaf, sekali lagi beribu-ribu maaf! Meskipun nona mencoba menarik hati saya dengan cerita kisah masa lalu nona, tapi maaf... saya pamit permisi. Dan tolong sampaikan pada Papa Nona... Sekalipun saya tak sanggup mengganti hutang piutang perusahaan saya pada Papa Nona, saya lebih rela masuk penjara daripada menjual kebahagiaan keluarga kecil saya termasuk melepas istri saya! Ayo, Dzakki!"
"Tante..., pergilah ke kota Jogya! Ada jodoh yang akan membahagiakan Tante sampai akhir hayat menunggu disana. Cepat ke Jogya, lebih tepatnya jalan Malioboro!" seru Dzakki membuat Chris tertawa.
Tinggal Khaila yang termangu bingung sendiri.
Christian menolaknya terang-terangan. Bahkan sama sekali tak memberinya kesempatan untuk bercerita tentang kisah masa lalunya yang jadi begitu mencintanya.
Khaila duduk ditempat Christian duduk. Masih terasa hangat bekas duduk pria dewasa yang selalu dalam fikirannya itu.
Khaila selalu berkhayal yang indah tentang pertemuan yang dramatis dengan Chris.
Berharap Chris berkata, "Ya Tuhan... rupanya kamu menyukaiku sudah sedari itu! Aku... tidak menyadarinya dan aku adalah pria beruntung yang mendapatkan cintamu, Khaila!"
Lalu berkhayal, Chris menc*um bib*rnya dengan penuh kemesraan. Kemudian pernikahan jadi ending yang membahagiakan hidupnya sampai akhir nanti.
Titik-titik air mata perlahan membasahi pipinya. Wajah cantik ternyata tidak serta merta membuatnya bahagia dikehidupan nyata.
Berpuluh-puluh tahun ia melanglang buana. Mencari cinta pertamanya yang selalu hangat bahkan membara. Berharap khayalan tingginya menjadi nyata yang indah.
Ternyata... semua hanya ilusi semata.
Cintanya...bertepuk sebelah tangan.
Kecantikannya bahkan tak mampu membuat Christian simpati apalagi jatuh hati.
Khaila memang melihat, istri Chris cantik. Namun dibandingkan dirinya yang lima tahun lebih muda, pasti masih lebih baik pastinya.
Ditambah lagi, Khaila adalah anak tunggal seorang konglomerat nomor satu di wilayahnya. Otomatis kebahagiaan bergelimang harta akan jadi keseharian Christian tentunya.
Ternyata... Uang juga bukan segalanya. Uang Papanya tak mampu membuat Chris menjadi pasangannya. Tidak bisa.
..............
Chris dan Dzakki kembali pulang ke rumah. Menemui keluarga besar yang masih berkumpul di rumah Christian.
Ia telah memutuskan, rumah besar itu akan jadi kenangan. Karena akan segera dijual di grup properti para pengusaha.
Banyak aset mereka yang digabungkan akan segera dilelang. Semua siap sedia membantu. Termasuk Diandra sahabatnya, yang baru saja bergabung menjadi saudaranya.
Christian sangat bersyukur. Allah memberinya saudara yang menyayanginya sepenuh hati.
Baginya, tak ada yang lebih berharga daripada keluarga dan para saudara yang baik hati.
__ADS_1
Bahkan senantiasa mendukung dan mensupportnya meski kini dalam keadaan terpuruk sekalipun karena permainan kotor dari akal-akalan pak Yosef yang sengaja menjatuhkannya demi suatu kepentingan pribadi.
...○○○○...
"Yang,... ini malam terakhir kita tidur dikamar ini! Besok, rumah ini harus kita tinggalkan!"
Christian merengkuh bahu Mutia. Ada rasa lelah, kecewa dan penyesalan bertumpuk dihatinya.
Mutia membalas rangkulannya.
"Rumah hanyalah benda mati, Mas! Kita pasti akan mempunyai rumah lain lagi yang lebih besar dan lebih bagus dari ini, nanti!"
"Aamiin!"
Christian hanya bisa mengenang, masa-masa indah ia bersama Mutia di rumah ini. Semuanya. Terasa begitu berat meninggalkannya.
"Mas!"
"Ya?"
"Aku tidak takut kehilangan rumah ini dan juga aset-aset kita yang lain. Tidak, Mas! Justru aku takut, kamu tertarik mengambil langkah menikahi wanita cantik itu dan menceraikanku!"
Chris menelan salivanya. Sorot matanya meredup. Kepalanya menggeleng berkali-kali.
"Tidakkah kamu ingat perjuanganku mendapatkan hatimu, Lody?"
"Aku mendapatkanmu dengan susah payah dan penuh kisah. Bahkan meski kita telah memiliki Verrel dan Velli sekalipun,... kamu masih belum bisa menerimaku, bukan?"
Mutia diam, menunduk.
Chris mengangkat dagu sang istri.
"Aku tidak akan pernah mengganti cintaku padamu meskipun ada banyak gadis cantik lain yang datang berusaha menggodamu. Tidak, Lody! Aku akan selalu ingat perjuanganku dalam menakhlukan hatimu. Justru aku yang takut..."
"Takut apa, Mas?"
"Takut kamu lelah mengikuti langkahku. Takut kamu kecewa karena aku gagal membahagiakanmu dan ada pria lain yang lebih menarik bagimu!"
Bug.
Mutia memukul otot biseps sang suami.
"Kamu pastinya masih ingat, aku ini apa di matamu dulu. Perebut pacar orang!"
Mutia menunduk. Jatuh dua butir airmatanya. Kata-kata Christian membuatnya mengenang masa lalu.
"Aku takut, Tuhan memberiku ujian... membalas perbuatanku dimasa muda dengan mengirimkan seseorang yang akan mengambil istriku dari,"
"Stop! Jangan bicara lagi!"
__ADS_1
Mutia ******* bib*r Christian segera.
Keduanya berci*man dengan perasaan yang sama-sama bergejolak.
Namun ada satu untaian doa yang sama. Berharap Tuhan selalu menyatukan mereka baik dalam suka maupun duka.
Perjalanan waktu telah mendewasakan keduanya. Telah membuat Chris juga Mutia bisa merasa dan tahu akan cinta yang sebenarnya.
Cinta yang menumbuhkan rasa sayang seumur hidup dengan saling mendoakan kebaikan demi kebaikan untuk orang yang tersayang.
Cinta yang makin mengakar hingga rasa takut kehilangan satu sama lain berbuah rasa kasih sayang yang tulus suci murni.
"Mas...! Jangan pernah tinggalkan aku! Hik hik hiks... Jangan pernah juga berfikir aku akan tinggalkan dirimu! Jangan!"
Christian menghapus lelehan airmata di pipi Mutia. Ia juga merasakan kegalauan hati Mutia.
"Aku hanya takut, Yang! Takut sekali... Tuhan memberiku cobaan dengan membalikkan keadaan. Dulu, aku merebutmu dari Firman. Dan sekarang, usahaku jatuh dan harus memulai lagi dari awal. Aku takut kamu lelah! Kamu cantik, meskipun sudah menikah, tetapi masih banyak pria yang tergila-gila padamu. Kau kira aku tidak tahu, ketika medsosmu penuh dengan DM-an dan juga inbox-inbox yang isinya godaan mengajakmu ketemuan."
"Hahaha... apaan sih, Mas!? Ish..."
"Aku tahu, kau mengabaikannya. Tapi aku takut... kamu mulai memikirkan itu karena keadaan kita yang tak lagi sama seperti dulu!"
"Kamu menganggap aku perempuan apaan kalau begitu? Hm, hm? Cewek matre begitu? Padahal dulu masa mudaku hidup miskin sudah jadi makananku sehari-hari!"
"Maaf..., maaf sayang! Aku... hanya sedang ingin mengungkapkan kegundahanku saja!"
"Kamu pria dingin nan cool. Tapi disaat kamu down, kamu jadi pria cengeng yang bawel! Nyebelin, nih... nyebelin!"
Mutia mencomot bibir Christian yang begitu menggemaskan baginya. Tawa disela tangis menjadi cerita mereka kali ini.
"Begitulah laki-laki, Yang! Singa si raja hutan sekalipun, jadi singa yang rewel dan menyebalkan ketika giginya ompong!"
"Hehehe..."
Mutia memeluk tubuh sang suami dengan sangat erat.
Keduanya menangis saling meminta maaf.
"Maafkan aku, Sayang! Aku... membawamu pada kesusahan. Tapi aku janji...! Aku janji! Kita akan kembali fight seperti sedia kala. Aku janji, Sayangku Mutia Permata Melody!"
"Hik hik hiks... Maafkan aku, Mas! Aku pernah menjadi istri yang sangat buruk bagimu. Aku berjanji, aku akan selalu ada disampingmu...baik ketika kau jaya, maupun kau sedang terpuruk. Aku janji akan jadi istri yang baik bagimu, Mas! Hik hiks... jangan pernah duakan cintaku ya, Mas!?!"
Tangisan keduanya menjadi sebuah janji yang manis. Janji kesetiaan menjaga cinta satu sama lain. Meskipun cobaan dan ujian datang menerjang.
Mereka akan kuatkan pijakan. Satukan kekuatan, dan makin erat pegangan tangan. Demi sebuah keyakinan... cinta tulus tak kan bisa tergantikan. Rumah tangga mereka bahagia sepanjang masa.
Aamiin...
...❤❤❤BERSAMBUNG❤❤❤...
__ADS_1