PEMBALASAN DENDAM ISTRI PERTAMA (I Don'T Love You Anymore)

PEMBALASAN DENDAM ISTRI PERTAMA (I Don'T Love You Anymore)
BAB 115 IN FRAME "Seperti Sepasang Suami Istri"


__ADS_3

Kandungan Viona telah memasuki usia enam bulan atau sekitar 27 minggu kini.


Sebulan menjadi pengangguran di rumah kontrakan, membuat Viona jenuh juga.


Akhirnya ia memutuskan untuk membuka dagangan di teras rumah kontrakannya setelah mendapat izin dari sang pemilik rumah untuk Viona menaruh gerobak booth dagangan.



Gerobak kekinian itu diharapkan bisa menunjang Viona dalam kegiatan sehari-hari menambah pundi uang untuk biaya makan sehari-hari kedepannya.


Ia hanyalah seorang janda. Tengah hamil pula. Dan tak ada lagi yang menafkahi dirinya.


Meski Viona memiliki tabungan yang cukup banyak dari hasil penjualan mobil, rumah serta butik, tapi ia harus pandai menginvestasikan uang agar tidak cepat habis juga.


Untuk melamar pekerjaan dalam keadaan hamil yang mulai besar, rasanya tidak mungkin.


Jadi ia memutuskan untuk banting setir buka usaha sendiri di rumah kontrakannya dengan berdagang minuman dan makanan ringan camilan anak-anak.


Hasilnya lumayan cukup untuk tambahan biaya makan.


Apalagi setelah lima hari berdagang, para bocil yang mulai hafal dan melihat jajanan baru di teras rumahnya banyak yang mampir membeli.


Omset penjualannya meningkat lumayan baik di hari kelima.


"Ada om-om ganteng datang, Mbak! Ganteng banget, pasti suaminya Mbak Vio ya?" ujar salah seorang bocah anak tetangga sebelah Viona. Ia bersama beberapa temannya tengah asyik main bola di lapangan kecil sisa bongkaran gusuran pemerintah.



Kak Jo! gumamnya dalam hati.


Jantung Viona berdebar melihat senyumannya yang khas.


"Apa kabar, Viona?" tanyanya singkat.


"Baik, Kak! Selamat datang di kontrakan Viona!" jawab Viona agak gugup. Malu karena pindah tak mengajaknya ikut mengantar serta.


"Lumayan susah cari alamatnya!" protes Jonathan Lordess pada perempuan yang diam-diam dipujanya itu.


"Iya. Maklum, pemukiman padat penduduk. Tapi Vio senang, identitas Vi disini bisa tersamarkan dari orang-orang yang sedang mencari-cari Viona, Kak!"


"Iya juga sih!"


Keduanya tersenyum saling memandang. Dua bulan tak bersua membuat riak-riak bahagia terpancar jelas di bola mata keduanya.


"Kamu ga capek apa Vi, dagang seperti ini?"


"Ga kak! Semua barang dikirim dari ownernya. Aku hanya duduk manis, meracik kalau ada yang beli. Itu saja, Kak!"


"Hm... gitu ya!?"


"Kakak sendirian kesininya?"


"Sama Kenken. Dia menunggu di parkiran depan jalan raya. Niatku kemari mau membawamu ke dokter Lena, periksa kandunganmu!"


Viona mengusap perutnya yang semakin membesar. Hatinya sedih, kepalanya menunduk.


Ini adalah pengalaman pertama baginya mengandung. Tapi kehidupan yang pahit dan rumah tangga yang hancur membuatnya kurang memperhatikan kesehatan dirinta juga janin yang dikandungnya.


"Ayo! Ganti pakaianmu, Viona!"

__ADS_1


Viona tersentak. Matanya menatap tepat kedua bola netra Jonathan Lordess. Om dari mantan suaminya yang baik hati itu.


Ia mengangguk lalu masuk ke dalam rumahnya yang mungil. Masuk kamar, bergegas mencari baju ganti.


"Cantik!" puji Jonathan spontanitas melihat Viona keluar rumahnya.


"Terima kasih! Hehehe..." jawab Viona malu-malu kucing seraya membuat simbol finger love dengan dua jari jempol dan telunjuknya.



Mereka pergi ke daerah Mangga Besar untuk ke klinik Spesialis Kandungan dokter Lena.


Setelah mengikuti prosedur umum dengan mengambil nomor antrian bersama para pasien bumil lainnya, Viona duduk di kursi ruang tunggu. Jonathan ikut duduk di sampingnya.


Nomor 13, kartu antrian yang dipegang Viona. Nomor keramat dan cukup lama juga untuk tiba di waktu pemeriksaan dokter.


Viona menarik nafas pendek. Menatap ke sekeliling ruang tunggu yang dipenuhi para ibu hamil dan para suami mereka.


Terlihat kontras dengan dirinya yang berbeda, tidak di dampingi suami. Binar matanya meredup seketika sembari menatap sedih nomor antrian.


Jonathan seperti bisa melihat isi hati Viona. Ia membuka semi jasnya, lalu memakaikannya ke bahu Viona dengan penuh perhatian.


"AC nya dingin, nanti masuk angin!" ucapnya lembut sekali.


Beberapa pasangan yang duduk tak jauh dari mereka tersipu melihat kemesraan yang indah itu.


"Pasangan yang sangat serasi ya? Meski sepertinya si pria lebih dewasa dan si wanitanya masih sangat muda!" bisik seorang ibu pada perempuan yang lebih muda di sampingnya.


Rupanya ada juga pasien hamil yang tidak di antar suaminya! Dan sepertinya itu ibunya yang mengantar! gumam hati Viona sedikit lega.


"Aku beli minuman dulu ya?" bisik Jonathan di telinga kiri Viona.


"Tuh, contoh Mas yang itu, Mas! Perhatian sama istrinya!" bisik seorang bumil lain pada pria yang disinyalir adalah suaminya itu. Sang suami terlihat cuek mendapati protes istrinya.


Tak lama Jonathan datang dengan kantung tote bag berukuran kecil. Matanya bersinar seraya menunjukkan isinya pada Viona.


"Aku beli minuman dan camilan! Ini, roti sari rasa coklat kesukaanmu! Ini minumnya!" kata Jonathan.


Jemarinya yang cekatan membuka wadah plastik setangkup roti isi coklat yang menggoda.


"Mas! Istrinya jangan di kasih minuman isotonik!" tegur seorang bumil lain yang terlihat lebih senior. Mungkin kehamilan kedua atau ketiga.


"Oh? Iyakah?"


"Iya. Sebaiknya air mineral biasa saja minumnya, Mas! Nanti debaynya jadi sangat kuat kalau dikasih minuman berenergi merk itu!" timpal ibu hamil yang lainnya membuat Jo terlihat kebingungan sambil mengangguk-angguk kecil.


"Sebentar ya, Vi? Aku beli air mineral biasa dulu deh. Tadi lupa ga beli sekalian!" kata Jo membuat Viona tersenyum geli.


Jo jalan lagi keluar dengan tergesa-gesa.


"Jangan di minum ya, itu mizone-nya!" ancam Jo seraya menoleh pada Viona dengan telunjuk yang di goyang-goyang karena teringat pada botol minuman isotonik yang dipegang perempuan muda itu.


"Hihihi...! Suaminya lucu! Mbak baru hamil anak pertama ya?" kata bumil yang tadi memberitahukan ilmu baru pada Vio dan Jo.


"Hehehe... iya, Mbak!"


"Memang begitu kalau anak pertama! Suami saya waktu awal juga begitu. Perhatiannya, aduuuh... so sweet! Tapi yang kedua ini... ish, lebih slowly dia!" tuturnya sambil menepuk paha sang suami yang tengah asyik menatap layar handphonenya.


"Hehehe...! Berarti sudah lebih santai karena sudah pernah melalui proses itu ya?!"

__ADS_1


"Iya. Tapi tetep aja nervous, Mbak! Kata orang lahiran beda-beda meski sudah pengalaman. Intinya sih, ya pasrah saja deh sama takdir Tuhan. Makan makanan bergizi, minum vitamin, rutin periksakan kandungan, dan jangan stres! Itu saja, koq! Hehehe..."


"Wah, terima kasih, Mbak! Ilmunya berguna banget untuk saya!"


Viona senang, ada teman mengobrol sesama ibu hamil.


Tak lama kemudian terlihat Jonathan datang tapi tanpa membawa apapun.


Lho?!? Mana minumnya?


Tapi ternyata di belakangnya ada dua orang pemuda membawa satu dus minuman dan satu dus roti sari isi.


"Tolong dibagikan ya, Mas... Untuk semua yang ada di sini! Semoga semuanya sehat wal'afiat, semangat dan lancar proses melahirkannya nanti!"


Viona terkejut namun tak berkata apa-apa. Hanya matanya tak berkedip menatap Jonathan Lordess dengan senyuman tak henti-henti.


Pria itu mentraktir para pasien dan pengantar mereka masing-masing roti isi sari roti dan sebotol air mineral paling mahal.


Tentu saja semua yang ada di situ sontak bersorak senang sambil memuji kebaikan Jonathan.


"Makasih ya, Mas, Mbak! Moga amal ibadahnya dibalas Tuhan Yang Maha Kuasa. Juga proses lahiran Mbaknya nanti lancar!"


"Iya. Anak dan ibunya sehat!"


"Langgeng terus rumah tangganya juga!"


"Aamiin...!"


Viona dan Jo hanya tersipu malu dengan wajah yang bersemu. Mereka melihat Viona dan Jo seperti pasangan suami istri yang saling mencintai.


Hingga dokter Lena tiba-tiba muncul dari balik pintu sambil berkata, "Ada apa ini rame-rame?"


"Hai Dok!" sapa Jonathan pada dokter Lena.


"Ck ck ck... Pantas saja! Ternyata pasangan ini ya! Nomor berapa antriannya?" tanya dokter Lena sambil geleng-geleng kepala dan tersenyum lebar.


"Nomor 13!"


"Sabar ya?! Sekarang antriannya baru nomor 5!"


"Okay!"


Viona hanya bisa menutupi bibirnya yang terus terusan menyunggingkan melihat tingkah konyol kak Jo yang baru kali ini Viona lihat.


"Kenapa?"


"Engga'. Hehehe..."


"Koq senyum-senyum terus?" tanya Jonathan lagi.


"Kak Jo lucu sekali hari ini! Pffhh... Sungguh Vio baru tahu kalau kakak bisa terlihat kocak juga! Hihihi..."


"Ssstt... Jangan buat pasutri lain jadi merhatiin kita terus, Vi! Malu aku nih... umurku sudah di atas rata-rata, tapi seperti pria yang tidak tahu apa-apa dalam mengurus istri yang hamil!" bisik kak Jo membuat Viona semakin terkikik gemas.


Jonathan mendekap mulut Viona dengan cepat tapi pelan.


"Kakak, ish... hihihi!"


Keduanya berusaha menahan tawa seolah berada di dunia lain yang begitu indah. Tak sadar ada sepasang mata memperhatikan dari kejauhan.

__ADS_1


...❤❤❤BERSAMBUNG❤❤❤...


__ADS_2