
Dzakki Boy Julian. Akhirnya bocah imut itu kini sudah masuk Sekolah Dasar.
Seiring usia yang semakin bertambah, kepekaan Dzakki dalam melihat sesuatu semakin kuat.
Dia memang memiliki indera keenam sedari bayi. Christian sendiri telah mengetahui kelebihan sang ponakan yang nyaris sama dengannya.
Bedanya Dzakki ternyata memiliki cara penglihatan lebih dengan mata batinnya. Tidak seperti Chris yang mampu melihat warna-warna aura. Tapi Dzakki memiliki penglihatan lain yang berbeda.
Dihari seminggu ia sekolah, Dzakki mendapati guru wanita sekolahnya berbeda dengan guru-guru lainnya.
Dimata Dzakki, bu Kartika terlihat sangat pucat dan putih seolah tak memiliki aliran darah sama sekali dalam tubuhnya.
Kartika Sari, usia 30 tahun. Status masih single alias masih gadis dan belum pernah menikah.
Rumor merebak kalau Kartika Sari sudah beberapa kali nyaris menikah namun gagal. Entah apa sebabnya. Padahal Bu Kartika Sari adalah perempuan yang manis cantik. Ia juga berhijab. Kulitnya putih susu dan kepribadiannya juga baik serta ramah pula orangnya.
Dan Dzakki sangat ingin sekali menjadi teman bagi guru sekaligus wali kelasnya itu.
Ada sesuatu yang membuat Dzakki begitu tertarik hingga ingin sekali membantu sang Guru agar terbebas dari sesuatu yang membuatnya seperti ditempeli sesuatu.
Banyak pria tertarik padanya. Bahkan berlomba-lomba mengejar cintanya. Tapi setelah gayung bersambut, justru hubungan itu tidak sampai bertahan lama. Apalagi sampai pada pelaminan.
Kartika Sari sudah lima kali mencoba. Dan kelimanya kandas, gugur ditengah jalan tanpa kepastian seolah itu adalah hal yang biasa. Bahkan tragisnya, para pria yang pernah berstatus sebagai pacar itu pergi melenggang tanpa punya perasaan. Meski Kartika tidak melakukan kesalahan sama sekali. Mereka merasa, hubungan itu tidak cocok dan tidak bisa dilanjutkan.
Hingga kadang Kartika berfikir, apakah dirinya terlalu menjaga diri hingga tak pernah mau jika hubungan mereka sampai bablas ke atas ranjang sedangkan status masih pacaran alias belum sah suami istri.
Tapi di saat fikiran jernihnya justru ia bersyukur. Entah bagaimana jadinya jika ia melakukan hubungan sebelum nikah, sedangkan sang pria hanya sanggup memacarinya dalam kurun waktu 5-6 bulan saja.
Tak ada yang bertahan sampai lebih dari 6 bulan.
Seolah dirinya yang cantik itu hanya mainan para pria saja.
"Ibu, Ibu Guru!"
"Ya Dzakki! Ada apa?" tanya bu Kartika dengan lemah lembut mendapati salah seorang muridnya memanggil-manggil.
"Ini, cat air Dzakki kering. Susah ditekannya."
"Oh, sini... Ibu bantu! Mungkin cat airnya sudah kedaluarsa ya?!"
"Apa itu kadaluarsa?"
"Sudah terlalu lama jangka waktu dari masa pakainya, Dzakki! Hehehe..."
"Oh, gitu ya Bu!?!"
"Dzakki boleh pakai cat air punya Ibu Guru! Untuk yang lain juga, kalau cat air kalian bermasalah... bisa pakai cat air milik bu Guru bersama Dzakki ya!?"
"Terima kasih Bu!"
Dzakki senang, bu Guru Kartika memang orang baik. Responnya pun padanya tak berlebihan. Pertanda kalau beliau adalah orang yang bisa menempatkan diri pada murid-muridnya tanpa ada sisi berat sebelah.
....
"Ibu Guru!"
"Dzakki? Tidak istirahat bersama teman-teman?" tanya bu Kartika kaget karena ternyata masih ada satu muridnya yang duduk manis dalam kelas sementara ia masih sibuk memeriksa jawaban soal para murid pada tugas sebelum jam istirahat.
Dzakki tersenyum sambil menggeleng.
__ADS_1
"Dzakki bawa bekal?" tanyanya ramah.
"Iya. Mami Dzakki membuatkan nasi bento setiap hari."
"Kerennya Mami Dzakki!" puji bu Kartika dengan senyuman.
"Iya. Hehehe...! Ibu mau coba?"
"Hm... ibu sebenarnya sangat tergiur lihatnya. Tapi, buat Dzakki saja. Ibu juga bawa bekal, tapi masih di kantor guru bekalnya."
"Mau Dzakki ambilkan bekal bu Guru?"
"Eh? Tidak usah, Dzakki! Hehehe... Sebentar lagi Ibu juga selesai menilai ini! Ibu akan ke kantor dan makan bekal Ibu di sana! Silakan Dzakki makan duluan, jangan lupa doa makannya ya!?"
"Ibu... tidak suka makan bersama Dzakku?"
"Bukan begitu. Oala... hehehe, penolakan Ibu rupanya buat Dzakki sedih ya? Hmm... Oke, baiklah... kita makan bersama!"
"Dzakki ambilkan bekal ibu ya?"
"Dzakki bisa? Tidak keberatan?"
"Tidak. Khan bekal Ibu tidak mungkin seberat beras satu karung. Dzakki bisa bawakan!"
"Oh, Oke hahaha...! Maaf ya, bekal ibu ada dalam paperbag yang di atas tempat duduk Ibu. Yang warnanya biru langit! Terima kasih ya Dzakki!"
Kartika sangat kagum pada bocah tampan yang berusia belum genap tujuh tahun itu.
Sangat humble dan dewasa sekali. Berbeda dari anak-anak usia tujuh tahun pada umumnya.
Dzakki juga peka dan memiliki intuisi yang tinggi.
"Terima kasih, Dzakki!" ucap Kartika pada Dzakki setelah bocah imut itu kembali masuk kelas dengan menenteng paperbag miliknya.
"Sama-sama!"
Tiba-tiba,
"Ibu! Jangan makan bekalnya!!!"
Dzakki berteriak. Menarik kotak nasi bekal milik Kartika dan melemparnya refleks.
Tentu saja Guru cantik itu terkejut setengah mati. Tak menyangka kalau sang murid yang dipujinya sedari tadi bertingkah aneh tanpa ia duga.
"Dza Dzaki?!?"
"Maaf, Ibu! Maaf... Bekalnya..., menyeramkan!"
Mata Dzakki merah dan berair. Antara shock dan tersadar kalau perbuatannya membuat gurunya itu jadi salah faham.
"Bekal Ibu itu pesanan dari Ibunya sahabat Bu Guru. Mungkin Dzakki salah lihat ya? Isinya hanya tumis kangkung, balado kentang dan ikan tuna. Lihat!"
Kartika berusaha memberi penjelasan pada Dzakki yang terlihat seperti menahan tangis.
"Ibu boleh makan bekal Dzakki! Ini, Bu! Biar Dzakki sapu lantai yang jadi kotor karena bekal Ibu berserakan."
"Tidak apa-apa! Ibu bisa membersihkannya. Dzakki lanjutkan makan ya!?"
Dzakki berdiri lebih cepat. Tangannya langsung mengambil sapu dan juga serokan sampah.
"Sini, sini! Biar Ibu yang bersihkan ya?!"
Dzakki menggeleng. Ia kembali pada kekeras-kepalaannya. Membuat Kartika sedikit kewalahan menghadapi bocah imut itu.
__ADS_1
"Dzakki! Sini, Nak!"
"Ibu...! Ibu... mmmh, Ibu sering makan masakan yang seperti ini?" tanya Dzakki dengan bibir agak bergetar.
"Maksudnya? Mmm... Masakan ini adalah masakan Ibunya sahabat Bu Kartika. Beliau memang membuka jasa katering. Dan Bu Kartika memang pelanggan setianya sejak masih SMA. Kenapa, Dzakki?"
"Makanannya..., makanannya dicampuri makanan setan!" jawab Dzakki dengan suara bergetar.
"Astaghfirullah! Dzakki? Dzakki tidak boleh bicara seperti itu! Tidak baik, Nak!"
Kartika sangat kaget. Ucapan Dzakki membuat lututnya lemas dan tubuhnya tiba-tiba terasa berat.
Bahkan sampai membuat Kartika menarik kursi kayu sebagai penyangga tubuh supaya tidak jatuh ke lantai.
"Apa... sahabat Ibu itu sudah tiada?"
"I-Iya!?"
Kartika semakin terkejut. Tebakan Dzakki benar.
Sahabatnya itu sudah almarhumah. Chintia namanya. Dan mereka adalah tetangga dan teman sedari lahir. Bahkan nyaris seperti keluarga.
Sekolah selalu bersama sedari TK hingga SMP. Namun..., kejadian tragis merenggut nyawanya di akhir masa sekolah SMP-nya.
Chintia meninggal dunia tertabrak bis di halte bis ketika berangkat sekolah.
Saat itu setelah selesai ujian negara. Kartika tidak masuk sekolah karena sakit sehingga Chintia terpaksa berangkat sendiri, bahkan dengan alasan ingin memberikan surat sakit milik Kartika kepada Wali Kelas mereka yang memang kebetulan selain satu sekolah juga satu kelas.
Tiba-tiba Kartika merasa sangat mual ketika Dzakki memegang jemari kelingkingnya.
Mata Kartika membelalak. Tak percaya pada penglihatannya, telapak tangan mungil milik Dzakki yang hanya memegang lembut jemari kelingkingnya seperti dipenuhi kekuatan magis.
"Dzakki! Hoek! Hoek!!!"
Kartika berlari dengan menahan rasa ingin muntah ke arah toilet guru.
Dan...
Ia mengeluarkan seluruh isi dalam perutnya dengan perasaan yang aneh luar biasa.
Sakit kepala, sakit perut,... semua campur aduk.
Kunang-kunang hingga membuat tubuhnya bergetar.
Kartika memegangi tembok dengan dua tangannya erat-erat. Khawatir jatuh pingsan dan berusaha memohon pada Tuhan agar diberi kekuatan. Hingga tiba-tiba...
Tok tok tok
"Bu Kartika? Bu Kartika?"
Suara seorang perempuan memanggil-manggil namanya. Seperti suara Guru perempuan yang ia kenal.
"Iya!" jawabnya dengan suara pelan.
Kartika membuka slot kunci toilet perlahan.
Bu Guru Irma tentu saja kaget melihat wajah pias Kartika.
"Ibu baik-baik saja khan?" tanyanya cemas.
"Saya tidak baik-baik saja! Tolong...,"
Gubrak.
__ADS_1
Seketika Kartika roboh tak sadarkan diri.
...❤❤❤BERSAMBUNG❤❤❤...