PEMBALASAN DENDAM ISTRI PERTAMA (I Don'T Love You Anymore)

PEMBALASAN DENDAM ISTRI PERTAMA (I Don'T Love You Anymore)
BAB 200 AKU, ROGER DAN DZAKKI (MUNGKINKAH)


__ADS_3

Mungkinkah (mungkinkah)


Kita 'kan slalu bersama


Walau terbentang jarak antara kita


Biarkan (biarkan)


Kupeluk erat bayangmu


'Tuk melepaskan semua kerinduanku


Kau kusayang


Selalu kujaga


Tak kan kulepas, selamanya


Hilangkanlah


Keraguanmu pada diriku


Disaat, kujauh darimu


Aku terbangun ketika alarm hape milik Roger mengalunkan lagu lama milik Stinky yang vokalisnya adalah Andre Taulany itu.


Aku dan dia terbangun pukul lima pagi. Sementara Dzakki masih terlelap diantara kami.


Pandangan kami saling bertumpu. Dan Roger bergumam, "Subuh berjama'ah, yuk?!"


Ajakan positifnya tentu saja kusetujui.


Kami sholat Subuh berdua. Disebuah kamar di cottage pantai kota Jakarta. Diiringi deburan ombak yang masih terdengar besar karena saat ini gelombang pasang dan angin sedikit kencang.


Tuhanku! Mengapa perasaan ini terasa lain? Adem sekali seluruh jiwa raga ini. Bahkan sholat Subuh terlamaku karena Roger membaca doa zikir dan juga doa untuk para orangtua kami yang telah tiada.


Dzakki terbangun sebelum aku dan Roger selesai sholat. Putra tampanku menatap kami dengan muka bantalnya yang unyu.


Aku tersadar kalau Dzakki sudah duduk ditepi ranjang memperhatikan kami sedari tadi tanpa suara.


"Selamat pagi, Sayang! Sudah bangun ya?" sapaku lembut membuat Roger menoleh ke belakang.


Dzakki turun ke pangkuanku setelah mencium punggung lenganku lalu menarik jemari Roger juga untuk salim.


"Dzakki gak diajak!" sungutnya lucu.


"Diajak kemana?" tanya Roger, sengaja menggoda.


"Diajak sholat!"


Cup.

__ADS_1


Kukecup kening Dzakki penuh kasih sayang.


Tenangnya hati ini melihat wajah sang buah hati. Terima kasih Tuhan! Telah kau berikan aku seorang anak laki-laki yang luar biasa.


Roger kemudian menarik Dzakki kedalam pangkuannya. Bibirnya komat-kamit, lalu meniupkan doa-doa keatas ubun-ubun putraku.


Membuatku merasa sangat bahagia. Dan ikut berdoa pula untuk kebahagiaan serta keselamatan putraku tercinta.


"Ayo, kita jogging!"


Aku tersenyum. Roger mengajak kami olahraga pagi dengan jalan sehat di pinggir pantai.



Ternyata di dalam mobil Roger ada banyak pakaian baru untuk Dzakki. Rupanya dia sering shopping jika teringat putra tunggalku itu.


"Ayah! Dzakki sayaaang banget sama Ayah!"


"Terima kasih, Dzakki! Ayah juga sayang banget sama kamu!"


Aku terhenyak. Pemandangan itu membuat hatiku menghangat. Betapa mereka saling tulus satu sama lain!


Andaikan itu Herdilan, ayah kandung Dzakki yang melakukan semuanya. Hhh...


Kutampar pipiku sendiri. Berusaha tersadar akan fikiran gila yang tiba-tiba ada di kepala.


Aku tidak ingin Herdilan hadir diantara aku dan Dzakki! Tidak! Tidak boleh ada Herdilan!!!


Hhh...


Kami berjalan bertiga. Seperti satu keluarga yang utuh saking kompaknya.


Aku dan Roger masih memakai pakaian yang kemarin.


"Hari ini kamu gak ada kegiatan khan?" tanya Roger padaku.


Aku mengangguk.


"Aku sudah berhenti kerja. Kuliahku juga sudah tuntas. Tinggal wisuda minggu depan."


"Hm...! Aku akan stay sampai kamu wisuda!" katanya membuat senang hatiku.


"Sungguh? Iya?"


"Memang gak boleh ya, aku hadir diacara istimewamu?" tanya Roger sinis.


"Bukan gak boleh, justru sangat kuharapkan. Dzakki pasti senang Ayahnya ikut hadir di acara wisuda Maminya!"


"Sekarang aku Ayahnya Dzakki nih? Kemarin-kemarin... aku bukan siapa-siapa,"


Grep.

__ADS_1


Kutekap mulut Roger, agar dia tak melanjutkan ledekannya padaku.


"Ish, Mami...! Mami sama Ayah sibuk sendiri! Berikan Dzakki adik biar Dzakki juga ada teman!"


Deg.


Jantungku berdebar. Bibirku menjadi kelu. Diam seribu bahasa.


"Please...Boy! Keep calm, nanti kamu akan punya adik kalau sudah Sekolah Dasar!" bisik Roger membuat merah wajahku, malu.


Adakah jodoh untukku lagi, Tuhan!


Aku hanya tersenyum kecil melihat Dzakki bersorak kegirangan. Entah apakah ia mengerti, kalau bikin adik itu butuh proses. Hm...


"Semoga Mami cepat bertemu jodoh!"


Aku terkejut mendengar Roger bergumam pelan. Seperti berbicara pada dirinya sendiri. Entah itu doa, ataukah harapan bagi dirinya. Viona takut berandai-andai dan memiliki angan-angan tinggi.


Orang Jawa bilang, witing tresno jalaran soko kulino. Cinta hadir karena terbiasa. Dan apakah ini rasa cintaku pada Roger karena nyaman dan terbiasa bersamanya.


Apakah benar ada benih-benih cinta diantara kita?


Cintakah Roger padaku?


Juga cintakah aku pada Roger?


Aku, Roger dan Dzakki... Mungkinkah kami bersama?


Bagaimana kalau aku saja yang ambon sorangan alias cinta bertepuk sebelah tangan sedangkan dia hanya menyayangi putraku saja?


Atau... ataukah Roger telah menutup hatinya untuk seorang wanita setelah trauma ditinggal nikah sang tunangan, lalu... dirinya jadi belok tak lagi suka wanita?


Untuk kalimat pertanyaanku yang terakhir, tubuhku langsung merinding.


No no no... Semoga saja tidak.


Tapi..., aku tidak pernah melihat Roger memiliki pacar atau teman dekat wanita.


Jangan-jangan... tebakanku...! Haish! Skip-skip.


(Tuk tuk). Kuketuk dahiku dua kali. Agar menghilang semua fikiran jahat dan buruk dikepala ini. Aku takut su'udzonku berubah jadi fitnah. Hingga...


"Roger!!!"


"Gigi?!? Elo, Gigi khan?"


"Iyaaa!!! Rogeeer... gila lo, apa kabar?"


Seorang wanita bertubuh indah dengan pakaian jogging yang menggugah selera langsung menubruk Roger dan mereka berdua langsung berpelukan.


Tinggallah aku dan Dzakki melongo melihat keakraban keduanya yang cukup mengagetkan.

__ADS_1


...❤❤❤BERSAMBUNG❤❤❤...


__ADS_2