PEMBALASAN DENDAM ISTRI PERTAMA (I Don'T Love You Anymore)

PEMBALASAN DENDAM ISTRI PERTAMA (I Don'T Love You Anymore)
BAB 21 Ada Gerakan Smackdown!!!


__ADS_3

"Tidurlah! Istirahat, biar besok bangun dengan segar!" ujar Mama Tasya membuatku bahagia, karena merasa dimanja sang mertua.


Nikmat mana lagi yang kau dustai!


Aku benar-benar Viona Yuliana si gadis yang beruntung.


Delan menuntunku menaiki anak tangga. Kami tersenyum kecil setelah pamit masuk kamar pada Papa dan Mama Delan.


Kudengar Papa akan pergi, kembali pulang ke rumah istri sahnya yang juga bukan orang sembarangan.


Masa bodohlah! Itu bukan urusanku juga kupikir. Yang penting saat ini aku tinggal di kediamannya Mama Tasya dan Delan. Bukan tinggal dengan Papa Bambang yang hanya suami sirinya Mama Tasya.


Rumitnya hidup ini! Aku hanya bisa memikirkannya dalam hati. Agak terhanyut bila kuikut memikirkan perasaan Delan. Pastilah hatinya yang paling sakit.


Tapi apa mau dikata. Takdir Tuhanlah Yang Maha Berkehendak. Kita manusia hanya bisa berusaha menjalaninya dengan sebaik mungkin, mengikuti alur kisah yang telah Tuhan gariskan. Begitu pendapatku.


Kini kami sudah berada di dalam kamar. Setelah sebelumnya kembali ke ruang wardrope berganti pakaian.


"Mau tidur dimana?" tanya Delan membuatku mendongak.


Kita ini suami istri kini, tapi... pertanyaan ambigunya membuatku menjadi salah terka.


"Kita... pisah ranjang maksudnya?" tanyaku minta penjelasan Delan.


"Bukan begitu maksudku, Vio!"


Kulihat wajah Delan menegang. Sepertinya ia tak mengira responku yang jadi marah karena ucapannya tadi.


"Aku... maksudnya, ya tentu saja... ingin kita tidur seranjang. Tapi..., apa kamu... mau?" katanya terbata-bata.


Aku malu. Menundukkan kepala tapi dalam hati juga bingung pada situasi ini.


"Maaf," ujarnya lagi.


Kini aku gelengkan kepalaku.


"Gak, kamu ga salah, Lan! Memang agak... gimana gitu!"


"Ya sudah, aku tidur di kamar sebelah saja ya!?" Delan memutuskannya dengan senyuman kecil.


Kamar memang bukanlah masalah besar di rumah ini. Rumah berlantai lima dengan banyak kamar seperti hotel, tak kan susah untuk Delan tidur di mana saja.


Tapi... Apa elok? Apa kata Mama Tasya nanti jika mengetahui malam pertama kami sebagai pengantin baru suami istri yang sah secara hukum juga agama tapi tidur pisah ranjang, pisah kamar?


Bukankah ini awalan hidup yang buruk?


Segera kupegang tangan Delan.


"Jangan! Jangan tidur di kamar yang lain!" pintaku segera setelah berfikir panjang.

__ADS_1


Delan menatap wajahku sendu.


"Kamu tidak apa-apa, jika kita tidur di ranjang yang sama?"


Hanya saliva yang mampu kutelan. Suaraku seolah terkubur dalam-dalam.


Delan lalu menarikku duduk di atas pembaringan.


"Dengar Viona! Aku memang suamimu! Tapi aku tidak akan memaksamu melakukan semua yang kurang berkenan dihatimu!"


Suara Delan membuatku malu pada diri sendiri.


Aku menunduk. Ingin sekali bertanya lagi perihal ciuman bibirnya yang tadi. Tapi malu rasanya jika aku menanyainya lebih dulu. Karena aku penganut faham wanita primitif. Yang tak baik mengungkapkan rasa lebih dulu mendahului langkah lelaki.


Hhh... Haish! Serasa mau pecah kepalaku.


Delan juga melangkahkan kakinya ke arah sisi ranjang yang lainnya.


Duduk perlahan lalu merebahkan tubuhnya.


"Tidurlah, Vio! Wajahmu terlihat kuyu dan lelah!"


Aku menuruti perkataannya. Mengekor Delan ikut rebahan juga seraya menarik selimut bulu halus yang ada di ujung kakiku.


Sebenarnya ranjang kami besar. Cukup nyaman untuk kami tempati berdua. Bahkan ukurannya lebih besar dari ukuran big ranjang pada umumnya. Sehingga untuk memutar badan berguling sekali ke kiri dan ke kanan kurasa tak kan mengganggu teman tidur.


Mungkin ini ranjang pesanan. Jadi beda dari yang lain. Horang kaya mah bebas! kata hati kecilku.


Entah bagaimana ceritanya hingga kami bisa tiduran saling bertumpuk.


Delan ada di bawah tubuhku sedangkan aku telungkup di atas dadanya.


"Auuww!!!"


Tangannya kram kebas seperti mati rasa. Aku yang merasa berdosa hanya bisa membungkuk-bungkuk meminta maafnya.


"Beneran ga tau! Sumpah, aku ga tau bisa tiba-tiba menindih tubuhmu!" kataku berusaha menjelaskan.


Aku bingung. Biasanya aku tidur tak sefrontal itu juga. Tak pernah seperti orang main smackdown. Kenapa...???


Kuketuk jidatku berkali-kali. Mandi membuatku berusaha menetralisir rasa malu yang ada di diri ini. Tapi... rasa itu tetap tak mau pergi.


...⚘⚘⚘⚘⚘...


POV Herdilan Firlando


Flash back on...


Aku melihat Viona tidur lelap sekali. Terdengar perlahan dengkurannya yang sangat halus pertanda ia sangat lelah.

__ADS_1


Aku membalikkan tubuhku ke arahnya. Tersenyum puas dan bangga memandangi wajah Viona yang begitu polos dan suci bak bidadari surga.


Perlahan kuulurkan jemariku menyentuh pipinya. Halus. Meski tanpa banyak dempulan, tapi kulitnya begitu lembut terawat.


Perlahan jemariku turun ke bibir mungilnya yang padat.


Hhh... Indahnya ciptaan Tuhan yang satu ini. Membuatku mabuk kepayang dan candu sekali.


Kutekan-tekan pelan sekali. Kekenyalannya membuat sesuatu di balik celanaku menegang.


Auw ****! Aku tidak boleh berfikir kotor dan berbuat mesum. Jangan sampai membuat Viona jadi membenciku!


Kutarik kembali jemariku dari area wajahnya.


Mata ini tetap lekat ke arahnya yang tidur benar-benar nyenyak. Begitu tenangnya sampai tak tahu dan tak merasakan gerakan tanganku yang merayapi wajahnya.


Aku tersenyum nakal.


Dadanya... turun naik. Membuat jakunku ikut turun naik.


Ah Vio! Mengapa kita tidak bercinta di malam pertama pernikahan kita ini, girl! O common... Aku... aku merasa juniorku menggeliat berubah menjadi 'hulk' tapi tidak hijau pastinya.


Bibirku menyeringai. Kini jemari ini kembali nakal. Kutaruh di atas satu gunungnya. Dan...


Ugh! Ya Tuhan... Dosakah jikalau aku berbuat begini pada istriku sendiri?


Viona masing tetap tenang. Hingga dadaku bergemuruh rasanya seperti ada longsoran di dalam.


Ya Tuhan!! Perempuan ini membuatku gila!


Aku bangkit duduk. Memandangi Viona yang masih sangat tenang meski jemari kiriku ada di atas satu benda padat berharganya.


Tangan kananku iri juga pada akhirnya. Dan...


Pluk.


Hampir aku berteriak kaget. Jemari Viona ke arah dadaku. Gerakannya seolah menarik guling. Dan aku terjelembab masuk pelukannya.


Aku disangka guling olehnya!


Jantungku berdegub kencang. Bibir ini tepat di atas belahan dadanya.


Ya Tuhan, Vio!!! Tolong jangan beri aku cobaan se dahsyat ini! Tolong kondisikan situasi ini! Dan... juniorku yang terus menegang hingga bisa kurasakan agak basah di dalamnya. Haish!


Demi nama baik, kutarik tubuhku perlahan dari rangkulannya. Namun... Rengkuhannya semakin kuat hingga terpaksa kuputuskan untuk mengangkat tubuh Vio ke atas tubuhku.


Kini posisinya telungkup di atas badanku. Hingga kurasakan dua buah gunung kembarnya menempel di atas dada ini.


O my God! Ya Tuhanku!... Istriku tidurnya pulas sekali. Ya sudahlah ya... Posisi ini yang teraman. Dan cukup menguntungkan bagiku. Jadi jika dia bangun nanti, tak kan berani memakiku karena dialah yang menindih dan merangkul tubuhku. Bukan aku. Hehehe...

__ADS_1


Flash back off.


...❤❤❤BERSAMBUNG❤❤❤...


__ADS_2