
Keesokan harinya aku dan teman-teman kembali ke RSJ. Melaksanakan tugas kampus yang sempat tertunda karena kejadian kemarin mengamuknya Mama Tasya.
Bertemu lagi dokter Diandra, membuat urat maluku kembali muncul mengingat peristiwa kemarin di ruangannya. Haish! Baskom mana baskom? Untuk menutupi wajahku yang memerah.
Untungnya dia seolah tak ingat kejadian kemarin. Dan memperlakukanku biasa saja seperti tak pernah ada kejadian memalukan sebelumnya. Syukurlah! Dan hari ini aku memakai celana panjang hitam. Setidaknya, tidak akan mencolok mata jika kejadian kemarin terulang lagi. Haish!
Ketika yang lain sudah mendapatkan objek pasien ODGJ untuk diwawancara, aku justru bersikukuh ingin kembali menemui mama Tasya.
Aku ingin, beliaulah yang jadi objek observasi tugasku. Ada sisi hatiku yang menggelitik, yang sangat ingin aku tanyakan padanya. Apakah masih tidak ingatkah dia padaku.
Dokter Diandra sempat menolak keras.
Cukup berbahaya dan beresiko tinggi bagiku jika menetapkan mama Tasya sebagai target objek tugasku.
Dokter Diandra juga sempat marah, mengatakan kalau aku ini adalah mahasiswi yang keras kepala dan susah dinasehati dengan berbagai kata hingga...
Aku menceritakan jati diriku dan juga mama Tasya. Tentunya membuat dokter Diandra terkejut.
Sang Dokter justru kini berbalik sikap bahkan sangat tertarik dengan hasil observasiku.
"Tetapi saya tidak mau terjadi sesuatu juga sama kamu dan pasien saya! Kemungkinan ibu Tasya akan kembali berontak dan bertindak kasar padamu, bisa terjadi lagi. Untuk itu... Saya akan mendampingimu!"
Aku tak bisa melawan ucapan dokter Diandra kali ini. Itu adalah hak prioritasnya sebagai dokter jiwa mama Tasya.
Meski sejujurnya aku merasa kurang nyaman dam kurang percaya diri ketika ada orang yang turut serta menyimak dan memperhatikanku dalam mewawancara nanti.
"Tapi saya minta tolong,... dokter menutupi rahasia ini pada semua orang termasuk keempat teman saya itu! Saya tak ingin kehidupan pribadi saya jadi terusik banyak orang karena pasien dokter yang bernama Ibu Tasya Jessica adalah mantan mertua saya! Please..."
"Jangan khawatir. Saya akan menjamin kerahasiaan Nona Viona!"
Aku dan dokter Diandra pun mulai melakukan pengamatan pada mama Tasya, sebelum melakukan sesi tanya jawab.
.....
Kini, aku dan Mama Tasya kembali duduk berhadapan. Mata kami saling berpandangan. Dan...
"Viona!... Kamu, Viona kah?"
Dag dig dug dag dig dug
__ADS_1
Dag dig dug dag dig dug
Jantung ini berdebar kencang. Perlahan cairan ini menetes satu satu, jatuh di pipi.
Mama Tasya memelukku. Tangisnya pun pecah jua.
"Maafkan Mama, Viona! Mama..., telah banyak menyakitimu! Herdilan dan Papa sedang pergi ke Hongkong. Mereka baru akan pulang bulan depan dengan jet pribadi yang Papa beli dari Jerman. Nanti Viona ikut Mama pulang ya? Kita bersama lagi di rumah besar Mama! Mau ya?"
Aku... lagi-lagi hanya bisa mengusap dada.
Mama! Mama Tasya! Pikirannya benar-benar oleng. Dan ini sudah dua tahun lamanya mama seperti ini. Hhh...
"Mama...! Mama Tasya! Hik hik hiks..."
Aku lagi-lagi gagal melakukan pengamatan dan sesi tanya jawab guna mengetahui dasar-dasar kejiwaan Mama yang sebenarnya aku sudah mengetahui detil masalah hidup Mama.
Mama Tasya,... memiliki kisah hidup yang tak biasa.
Lahir dari keluarga broken home. Bercerai tapi tak memiliki tanggung jawab baik si istri maupun sang suami. Yang lalu pergi tanpa peduli si buah hati.
Kedua orangtua Mama Tasya pergi, dengan alasan bekerja dan mencari uang serta ketenangan untuk sementara.
Usia mama Tasya saat itu masih enam tahun. Usia bocah cilik yang belum bisa berfikir jauh ke depan soal masa depan.
Kecuali menangis dan menangis dalam diam. Apalagi merasa diri minder serta tak bisa buka suara. Hanya diam dan diam. Bahkan airmatapun menetes perlahan tanpa ketahuan orang sekitar. Termasuk kak Tania dan kak Jonathan yang sedari kecil tumbuh bersama juga begitu menyayanginya dari dasar hati yang paling dalam.
Tasya kecil memiliki kepribadian ganda. Satu sisinya bahagia. Disayang sepenuh hati keluarga besar sang Mama yang entah pergi kemana.
Tapi sisi pribadinya yang lain terluka parah. Dan tumbuh bibit-bibit iri dengki pada orang lain yang hidup bahagia, memiliki keluarga lengkap. Termasuk iri diam-diam pada sepupu-sepupunya.
Tuhan juga ternyata memberinya cobaan lain. Untuk mengujinya, apakah kuat imannya dan kukuh pendiriannya.
Takdir membuat mama Tasya berjodoh dengan papa Bambang. Meskipun papa Bambang adalah suami dari kak Tania, sepupunya sendiri.
Sayangnya ternyata Mama perlahan lebih condong kepada kepribadiannya yang penuh luka yang menjadikan beliau insan penuh ambisi, haus kekuasaan, kasih sayang juga sanjungan.
Mama Tasya salah mengembangkan diri. Bukan belajar dari kesalahan orang tua yang gagal, tetapi justru mengambil langkah yang sama. Yang ia fikir, adalah langkah terbaik dalam hidupnya.
Berumah tangga dengan Bambang Suherman. Bergelimang harta, kekuasaan dan juga tepuk tangan banyak orang. Membuat Tasya jumawa dan lupa diri.
__ADS_1
Lupa caranya bersyukur, bahwa ini semua tak akan abadi.
Harta, kecantikan dan kekuasaan... semua bilang hilang jika Tuhan menginginkannya.
Seperti juga jodoh, rezeki dan umur, itu semua Tuhan yang atur.
Bukannya berbuat baik pada sang kakak sepupu yang telah ia rebut suaminya, justru malah memikirkan tindakan gila dengan perlahan mengirimi madunya 'racun' lewat ramuqn tradisional yang rutin ia kirimkan.
Padahal Kak Tania sudah sangat legowo. Menerima pernikahannya diam-diam. Bahkan menutupi aib Tasya dan Bambang dari sang adik serta putra-putrinya.
Andai saja Tasya bisasedikit lebih luwes dalam mengambil hati sepupunya itu, mungkin saja kisah hidupnya akan lain cerita. Dan kemungkinan mereka bertiga hidup damai, bahagia... meski ada poligami di antara mereka.
Hhh...
Mama Tasya lupa pada Kekuasaan Tuhan Yang Maha Esa. Hingga akhirnya, ketika semua itu Tuhan ambil kembali... jiwanya marah dan terluka.
Tak mau terima serta tak bisa legowo. Otak dan hatinya menolak pada semua Ketentuan Tuhan. Hingga pada akhirnya, goncangan dahsyat menghantam jiwa dan kewarasannya tak lagi seimbang.
"Mama...! Mama sayang Viona kah?"
"Tentu sayang! Mama sayang kamu lah! Mama yang memilih kamu menjadi tunangan putra kesayangan Mama! Eh, Viona... Ayo, belajar masak! Nanti setelah menikah, kamu bisa menyenangkan perut Delan hingga dia tak kan berpaling ke lain hati! Ingat itu! Istri yang baik, adalah istri yang sukses di dapur, di sumur dan di kasur! Hahaha... Hahaha... Hahaha!"
Suara tawa Mama Tasya menggema di ruangan dokter Diandra.
Dia terlihat senang sekali, tapi aku kebalikannya.
Air mata ini menetes tak bisa berhenti.
Hingga tiba-tiba...
Plak plak plak
"Viona, bangun!!!" Dokter Diandra segera menolongku dengan menarik tubuh ini dari serangan mama Tasya yang tiba-tiba frontal menamparku berkali-kali.
"Dasar wanita ******! Beraninya kau menghancurkan rumah tangga putraku dengan menantuku yang penurut itu! Kau... berani-beraninya menipuku, dan pura-pura sayang tulus mencintai anakku! Dasar, pelac*r!!! Pergi kau dari hadapanku!!!"
Aku menangis sesegukan melihat amarah Mama. Sepertinya kali ini ia melihatku sebagai JeLa alias Lady Navisha.
Dan aku tanpa sadar menangis terisak dipelukan dokter Diandra.
__ADS_1
...❤❤❤BERSAMBUNG❤❤❤...