PEMBALASAN DENDAM ISTRI PERTAMA (I Don'T Love You Anymore)

PEMBALASAN DENDAM ISTRI PERTAMA (I Don'T Love You Anymore)
SESSION 2 MASIH KHAWATIRKAN BU GURU KARTIKA


__ADS_3

Ck ck ck... Dzakki, Dzakki! Kenapa sih bicah sekecil kamu sudah memikirkan hidup dan mati seseorang? Memangnya kamu itu Superman? Avatar? Harus bertarung mati-matian membela yang benar melawan kejahatan? Sampai-sampai punya fikiran sebesar itu.


Roger hanya bisa tersenyum dalam hati. Matanya sesekali melirik wajah putranya yang polos dan tampan itu.


Viona! Anak ini ternyata juga memiliki sifat keras kepala seperti dirimu! Hehehe...


Ia berkata dalam hati.


Dzakki mandi sore setelah bermain air di gazebo bersama ayah sambungnya yang sibuk menyiram tanaman hiasnya.


Viona dan Tini baru pulang setelah hampir enam jam pergi shopping.


"Mami! Boleh ya,"


"Boy, jangan sekarang, Nak! Mamimu baru pulang. Kasihan masih capek. Ya?"


Roger langsung memotong ucapan Dzakki. Ia sejujurnya tak ingin Dzakki menelpon wali kelasnya untuk urusan yang tidak penting.


"Ada apa, Sayang?" tanya Viona. Namun Roger segera menangkap tubuh sang istri yang kini terlihat semakin padat.


"Tini,... kamu itu ya? Lihat nih kaki istriku sampai terlihat bengkak begini gara-gara kamu ajak jalan terus!" semprot Roger pada Tini dengan memasang wajah marah.


"Tini justru ngajak Viona pulang dari jam dua lho!" timpal Tini membela diri. Viona terkekeh seraya memeletkan lidahnya pada Tini. Mereka tertawa saling tuduh dengan candaan.


"Hayo, kamu sekarang nyalahin istriku di depan suamimu, Vi!" Ternyata Kenken masuk dan membela sang istri.


"Idih, kalian ya... bisa-bisanya mengintimidasi istriku yang sedang mengandung dan menyalahkannya!" Roger balik menyerang Kenken dan Tini.


Kini posisi dua lawan dua.


Tapi itu hanya gurauan saja.


Tak lama suara tawa keempatnya bergema. Kecuali Dzakki yang hanya senyum-senyum sendiri melihat tingkah polah orang-orang dewasa yang membingungkan hatinya.



Viona segera menangkap tubuh mungil putranya. Menciumi pipi Dzakki dengan gemas karena harum sabun chamomile menyeruak indera penciumannya. Rasa yang menyegarkan.


Tini dan Kenken tersenyum senang. Mereka berdua izin masuk kamar mereka. Untuk melanjutkan aktivitas berdagangnya via online di ruangan khusus kerja mereka di paviliun.


....


"Dzakki sudah mandi! Anak pintar!" puji Viona sembari mengeluarkan sebuah bungkusan dari rinjing belanjaannya.


"Ini Mami belikan corn dog sama kue cubit untuk Dzakki-nya Mami yang ganteng parah!"


"Ayah gak dibelikan oleh-oleh nih?" sela Roger menggoda sang istri.


"Ayah dapat kaos singlet sama celana renang. Celana renang Ayah sering ketinggalan di loker kolam renang umum!"


"Hehehe...! Makasih istriku yang tercinta! Muacht..."

__ADS_1


"Dzakki juga dapat kaos spiderman edisi keluaran terbaru. Ini!"


"Makasih banyak, Mami!"


Viona menangkap raut wajah Dzakki agak muram. Ia menatap sang suami, terlihat suaminya memberinya kode. Namun sayangnya Viona kurang mengerti.


"Dzakki kenapa? Tadi seperti mau bicara sesuatu sama Mami?"


"Mami, Mami... Boleh ya Dzakki telepon bu Guru Kartika?"


"Boleh dong, Sayang!"


Roger menarik nafas panjang. Membalikkan tubuhnya seraya menepuk dahi sendiri.


Amsyong dah! Dari tadi aku berusaha mengalihkan perhatian dan keinginan bocah ini! Malah Maminya langsung ACC. Hadeuuh!


Viona mengambil handphonenya. Mencari nama Bu Guru Kartika di kontak ponselnya. Lalu mencoba menekan panggilan suara untuk menyambung teleponnya pada bu Guru Dzakki itu.


Tuut tuut tuut


Tuut tuut tuut


"Tidak diangkat, Dzakki! Mungkin bu Guru sedang sibuk. Atau mungkin sedang dalam perjalanan, hapenya disilent mungkin."


Dzakki tersenyum tipis. Ada rona kecewa di wajah imutnya, namun tetap ia usahakan melempar senyum.


Syukur alhamdulillah! Gumam hati kecil Roger.


Aih??! Apa...anakku bisa dengar isi hatiku juga?...


Roger merasakan tengkuknya dingin dan bulu kuduknya merinding. Tapi ia sedikit lega, karena Dzakki tersenyum lebar seraya berkata, "Sepertinya Allah tak mengizinkan Dzakki mengobrol sama Bu Guru ya, Ayah?"


Roger tertawa kecil sambil mengangguk.


"Segala sesuatu itu terjadi pastinya atas izin Allah Ta'ala!" tambah Roger sambil duduk mendekat pada sang buah hati. Istrinya ikut mendekat dan mereka kini mengapit buah hati yang pintar luar biasa itu.


Roger selalu yakin dan percaya diri, putranya tidak akan mengecewakannya. Dzakki ia yang rawat sedari bayi. Meskipun tidak selalu dalam pelukannya 24 jam, tetapi kedekatan dan juga kontak batin mereka selalu yang terbaik.


"Ayah mau corn dog-nya? Dzakki cuma mau kue cubit saja!"


"Corn dognya sudah dingin, ya? Jadi keju parmesannya sudah mengeras. Gak melting lagi!" kata Viona.


"Tapi Ayah selalu melting setiap di dekat Mami!"


"Hahaha...! Tapi Ayah bukan corn dog khan, Yah!?"


Dzakki tertawa mendengar gombalan Ayahnya pada sang Mami. Roger ikut tertawa. Celotehan Dzakki membuat Viona jadi gemas dan mencubit pelan kedua pipinya yang chubby.


"Ayah corn dog, Dzakki kue cubit dong!" godanya gemas.


"Mami apa ya?... Mmm Mami itu seperti harumanis!"

__ADS_1


"Hahaha... iya, Yah betul!"


"Waduh? Mami harumanis? Gulali warna warni itu?"


"Iya. Gulali itu lembut seperti kapas atau awan di langit. Warnanya indah, rasanya manis. Tapi kalau makan kebanyakan bisa bikin batuk dan gigi rusak. Hehehe..."


"Wow, anak Ayah bisa jadi tutor nih! Bisa jadi guru atau dosen juga. Karena pintar dalam menjabarkan sesuatu!" puji Roger sambil memangku tubuh sang putra. Ia sangat bangga melihat kecerdasan dan tumbuh kembang Dzakki. Terlebih setelah tahu kelebihan Dzakki yang lain dari sang Kakak.


Hm... Aku harus ketemu kak Christian segera! Sepertinya urusan Dzakki kemarin diganggu makhluk halus bukanlah urusan main-main. Selain sangat berbahaya bagi Dzakki sendiri, aku takut imbasnya pada Viona dan calon adiknya Dzakki juga!


Roger bertekad akan keluar rumah selepas sholat Maghrib nanti. Tujuannya adalah rumah Christian.


Viona sampai saat ini belum mengetahui inti permasalahan yang sempat membuat Roger ketar-ketir.


Selain Viona agak lemot, ia juga sedang mengandung. Membuat Roger masih berusaha menyembunyikan kisah yang terjadi beberapa hari ini pada Viona soal Dzakki.


Pukul 05.40 WIB.


"Sayang! Aku pamit keluar ya? Mau sholat berjamaah di masjid. Setelah itu aku juga akan ke rumah kak Christian. Ada sedikit urusan pekerjaan yang harus aku diskusikan sama dia!"


Viona mengangguk sambil tersenyum.


"Ganti dulu jaketnya, Yang! Itu sudah dua hari deh kayaknya kamu pakai!" kata Viona membuat mengibas-ibaskan debu yang menempel di bahu sang suami.


"Ga papa lah. Yang penting kemejaku ini baru ganti tadi. Kalau sudah masuk sholat jaket aku buka. Biar besok saja gantinya, sekalian sama celananya. Hehehe...!"


"Ampun deh, dulu perasaan waktu masih bujang stylenya selalu gonta-ganti tiap hari. Kenapa setelah menikah, koq seperti kurang memperhatikan penampilan!"


"Laki-laki itu rata-rata ya begitu, Sayang! Waktu bujangan khan adalah masa-masa tebar pesona. Kalo dah nikah ya lain lagi cerita. Waktunya cari cuan untuk membahagiakan orang tersayang sampai lupa penampilan. Makanya disitulah peran para istri. Bisa gak dia dandanin suaminya lebih cetar! Hehehe..."


"Waduh!? Salah ngomong berarti aku, ya Mas? Berarti aku ini istri yang tidak bisa mengurus suami ya?" Viona merasa tak enak hati.


"Engga' koq, Yang! Malah banyak yang bilang, aku makin ganteng dan keren maksimal setelah menikah. Percaya ga, Yang? Kata para cewek, pesona pria beristri itu auranya luar biasa. Apalagi aku kini dapat julukan hot daddy lho di kampus!"


Viona menjewer telinga sang suami dengan sangat lembut.


"Bagus ya..., bagus! Ternyata diluaran sana suamiku ini masih jadi incaran para gadis ya! Ga liat nih bininya makin bulat, gendut dan jelek?!"


"Wahha ha ha..., Sayang maaf! Itu pertanda istriku ini adalah istri yang sukses dan berhasil membuat suaminya makin keren. Itu maksudku! Hehehe..."


Allahu Akbar Allaahu Akbar


Suara azan Maghrib berkumandang.


"Tuh khan,... becanda sama kamu itu sampai aku lupa waktu! Maghrib sudah tiba! Aku berangkat ya, ke masjid! Muacht! Assalamualaikum!"


"Waalaikumsalam. Yang, salam ya sama kak Mutia juga si kembar Verrel dan Velli!"


"Iya, Sayang! Bye-bye, berangkat ya!?"


Viona tersenyum manis. Menjawab lambaian tangan sang suami yang perlahan hilang dibalik pintu rumah mereka.

__ADS_1


...❤❤❤BERSAMBUNG❤❤❤...


__ADS_2