
Setelah libur hari minggu dan pergi bersama Roger, Dzakki memulai hari senin dengan wajah cerah ceria.
Viona yang kebetulan hari itu masuk kerja pukul sembilan pun mempunyai kesempatan mengantar sang buah hati.
"Senangnya Dzakki hari ini!" godaku melihat wajahnya tampak sumringah.
"Iya. Dzakki mau cerita sama teman-teman kalau Dzakki jalan-jalan sama Ayah ke Jungle Land!" jawabnya dengan mata berbinar indah.
Cup.
Saking gemasnya, kuhadiahi putraku satu kec*pan dipipi.
"Mami, no! Don't k*ss me, please...!"
"Hahaha... why?"
"Nanti bibir merah Mami nempel di pipi Dzakki!"
"Hahaha... ish, anak Mami nih! Kritis banget deh! Lipstik Mami matte, sayang. Tak kan bikin Dzakki malu karena ada noda merah yang nempel dari bib*r Mami!"
"Viona, sudah siap?" Kenken telah menunggu mereka di depan kemudinya. Siap mengantar aku dan Dzakki ke sekolah juga ke RSJ.
"Dzakki bawa apa itu?" tanya Viona melihat sang putra membawa satu totebag kecil tapi penuh isi.
"Ini makanan ringan yang kemarin Ayah beli di Jungle Land, Mih!"
"Mau Dzakki bawa semua?"
"Iya."
"Ck ck ck... Nanti Miss Gerald tegur Dzakki kalau bawa makanan ringan banyak sekali, Nak!"
"Ini untuk teman baru Dzakki, Mih! Kasihan, dia tak punya makanan!"
"Oh begitu. Ya sudah kalau Dzakki mau berbagi," ujar Viona sambil menarik jemari Dzakki dan menggenggamnya lembut. Mereka masuk mobil dan siap beraktifitas diluar rumah.
Suasana gerbang sekolah Dzakki ramai murid-murid. Mereka berlarian kesana-kemari bersama para orangtua yang sibuk menjaga sang buah hati.
Viona turun sambil menuntun putranya tercinta. Mereka masuk ke dalam gerbang dan teras sekolah. Saling menyapa satu sama lain sesama orangtua murid.
"Selamat pagi Dzakki Boy Julian!"
"Selamat pagi, Miss Gerald dan Miss Anya!"
"Pagi Bu Viona. Apa kabar? Cukup lama saya tak melihat Bu Vio mengantar Dzakki akhir-akhir ini!"
"Pagi juga Miss! Iya. Saya sekarang nyambi bekerja di RS juga. Jadi agak sibuk dan hanya bisa meminta tolong pada kakak saya untuk menjemput Dzakki kalau sudah selesai sekolah!"
"Oh begitu."
"Miss... bagaimana perkembangan sekolahnya Dzakki?"
"Waah... sangat pesat. Dzakki pintar, meski akhir-akhir ini agak pendiam!"
"Pendiam? Maksudnya... apa Dzakki ada masalah dalam pergaulan, Miss?"
"Tidak, Bu! Saya perhatikan Dzakki agak murung minggu-minggu ini. Sering melamun dan kurang interaksi dengan teman-teman. Tapi hari ini saya lihat senyum cerah ceria dan semangatnya kembali menyala!"
"Syukurlah. Soalnya kemarin Dzakki habis liburan bersama Ayahnya." Cerita Viona antusias. Lupa kalau statusnya adalah janda dan tutor sekolah Dzakki itu mengetahuinya.
"Mmm... maksud saya liburan bersama Omnya!" ralat Viona tersadar akan ucapannya tadi.
__ADS_1
Guru Dzakki tersenyum mengangguk.
Viona pun segera pamit undur diri, melanjutkan aktivitasnya bekerja di rumah sakit jiwa.
Ia juga hari ini tak kalah bahagia dari Dzakki.
Mama Tasya perlahan berangsur-angsur berkurang kemunduran mentalnya. Beliau semakin baik dan mulai bisa berkomunikasi lancar dengan Viona.
Dengan metode jalan spiritual yang kini Viona terapkan dan tetap konsumsi obat rutin, Tasya mulai pulih. Meski kadang sewaktu-waktu ada juga masa dimana ia mengingat kehancuran sekaligus kejayaan dulu, membuat Tasya kembali oleng.
Tapi dengan kesabaran yang tinggi dan yakin pada Tuhan Yang Esa, Viona mencoba menenangkan Tasya melalui pendekatan keagamaan.
Lewat ayat-ayat suci yang ia perdengarkan serta solawat Nabi, membuat Tasya menjadi lebih tenang.
Bahkan kini Tasya sudah bisa menghabiskan sepiring makan siangnya tanpa sisa dan tanpa ocehan-ocehan tak jelas.
Tasya juga duduk tenang dan makan dengan sopan sampai makanannya tandas.
Bahkan Tasya kini mulai mengucapkan kata terima kasih setiap mendapat atau menerima apapun dengan kesadaran yang mulai pulih.
Meski kadang sesekali ia tampak senyam-senyum berlebihan dan berlenggak-lenggok layaknya artis yang sedang tampil mentas.
Tasya juga semakin rajin ibadah sholat lima waktunya semenjak Viona membelikannya mukena berwarna dasar hitam dengan motif bunga-bunga kecil.
...♧♧♧♧♧♧...
Dzakki kembali ceria. Bercerita tentang hari indahnya kemarin pergi ke Jungle Land bersama sang Ayah.
Bahkan Dzakki menceritakan teman barunya juga yang kurang baik bicaranya.
"Tapi sebesar kamu?" tanya teman sebangkunya ketika Dzakki menceritakan soal Dirga.
"Lebih besar. Tapi kasihan, bicaranya agak susah dimengerti."
"Itu bukan bahasa alien. Tapi Dzakki mengerti setiap abang Dirga berkata sesuatu!"
"Kamu bisa bahasa alien?"
"Ish Rizal, itu bukan bahasa alien! Kata Ayah, abang Dirga berkebutuhan khusus!"
"Iya. Khusus bicara bahasa alien! Hahaha..."
"Jangan tertawa, tidak boleh! Itu namanya jahat!"
Dzakki marah dan ngambek karena Rizal temannya meledek kawan barunya. Sehingga bocah berusia empat tahun lebih itu cemberut dan duduk diam tak lagi mau bicara.
Miss Geraldine dan miss Anya serta kak Zee juga kak Senja masuk kelas. Pelajaran dimulai dan semua murid mulai terlihat asyik dengan tema yang para tutor ajarkan.
Hingga satu jam dan waktunya istirahat pun tiba.
Dzakki yang memiliki misi khusus memperhatikan para teman. Ada yang sibuk membuka bekal, ada yang berlarian dan bermain sesama teman.
Dzakki perlahan berjalan keluar kelas. Menengok kanan kiri serta menyusuri lorong sekolah menuju ruang belakang. Dipegangnya erat-erat totebag yang dibawa dari rumah tadi.
Ia ingin menemui pria misterius yang beberapa hari lalu menolongnya dari ceburan kolam kecil.
"Hallo, pak! Pak Misteri! Ini Dzakki datang!"
Rumah kayu itu tampak kosong. Suasana sekitar yang rimbun pepohonan tinggi dan juga rumput ilalang dikiri kanannya membuat Dzakki mundur perlahan.
Suara kicauan burung gereja dan juga jangkrik memekakkan telinganya.
__ADS_1
"Kemana pak Misteri itu ya?"
Bocah kecil imut itu berjalan mengelilingi rumah kayu yang kusam. Ia mengintip ke dalam rumah lewat kaca jendelanya yang kotor berdebu tebal.
Tiba-tiba matanya menangkap sesosok tubuh tergolek di atas dipan kayu di dalam rumah tersebut.
"Pak Misteri?!?'
Dzakki mendorong pintunya. Ternyata tak terkunci.
Krieeeet...
Suara engsel besi yang karatan dan derit pintu kayunya terdengar menakutkan.
"Pak Misteri!"
Dzakki berjongkok. Mencoba mengamati lebih dekat pria yang tengah tertidur di atas dipan kayu pendek itu.
"Hm..."
Bocah pintar itu memegang tangan pria misterius dan bergumam,
"Bapak panas badannya!"
"Kamu? Benar-benar datang lagi kesini?"
"Iya. Ini, Dzakki bawa banyak makanan buat bapak!"
"Hm...! Jangan kesini lagi, nanti ada orang yang melihatmu!"
"Pak Misteri khan teman baru Dzakki. Juga sudah janji kalau Dzakki boleh main kesini!"
"Ya sudah. Terserah kamu sajalah!"
Pria itu bangun dari rebahnya. Duduk menghadap Dzakki sambil mengambil tas bungkusan yang Dzakki berikan.
Ada beberapa buah sariroti juga susu kotak, beberapa bungkus makanan ringan dan camilan anak-anak.
Pria misterius itu makan semua yang dibawa Dzakki dengan sangat rakus. Sepertinya, sudah berhari-hari dirinya tak makan.
Dzakki senang, bungkusan makanan yang dibawanya ludes dalam sekejap. Matanya membulat dan senyumnya mengembang.
"Horeee... habis!"
Pria itu menatap wajah Dzakki dengan haru. Dipegangnya dagu bocah mungil itu sambil bertanya, "Siapa namamu?"
"Dzakki!"
"Hm... berapa umurmu?"
"Empat tahun lebih tiga bulan!"
Pria itu menatap Dzakki dalam-dalam.
"Kalau saja anakku ada di sini, dia pasti sebesar kamu. Kalian seumuran!"
"Iya? Di mana sekarang anak pak misteri?"
"Mana kutahu dimana dia! Lelaki atau perempuan, aku juga tak tahu!"
Dzakki bingung mendengar ucapan pria misterius. Namun jemarinya kembali menempel di dahi pria itu. Membuat berkaca-kaca mata pria misterius.
...❤❤❤BERSAMBUNG❤❤❤...
__ADS_1