
"Aaaargh! Lepas! Aku ga sepenuhnya bersalah! Aku ga mau masuk penjara!!! Ruhut, Hotman... tolong keluarkan aku secepatnya dari sel tahanan! Tolong!!! Mas Bambaaaang, Maaaas!!!"
Aku terkejut dengan wajah pias. Mamaku diciduk pihak kepolisian di kantor pusat kami di gedung perusahaan berlantai dua belas itu.
Mama benar-benar jadi pesakitan. Beliau kini jadi tersangka yang siap didakwa di meja hijau.
Aku gerak cepat, langsung menelpon nomor pribadi Papa. Memberitahukan kalau mama kini ada dalam pengawasan pihak kepolisian. Kuharap Papa secepatnya menolong Mama. Karena ini murni masalah keluarga sebenarnya.
"Papa! Mama dibawa polisi wilayah kebun sirih! Pa!"
...[Jangan dulu hubungi, Papa! Papa juga sedang ada masalah!]...
Klik.
Aku terkejut. Papaku langsung mematikan panggilan telepon dariku.
Ada apa ini? Kenapa semua jadi seperti serba berantakan???
Mama ditangkap polisi, Papa sibuk seolah tak peduli dan hanya mementingkan diri sendiri.
Apa... ia saat ini sedang mendahulukan istri pertamanya daripada istri keduanya? Lalu... mengapa kesannya Papa seperti berat sebelah? Lantas bagaimana nasib Papa selanjutnya? Apa ia akan lebih membela istri pertama ketimbang istri kedua?
"Hiyaaa!!! Aaaaaarrrrgggh..."
Pusing kepalaku. Kedua orang tuaku benar-benar terlihat aslinya kini.
Keduanya adalah orang penuh masalah. Hhh...
Prang!
Kaca cermin hancur berantakan setelah kulempar gelas cangkir gerabah.
__ADS_1
"Ada apa lagi sih? Lama-lama rumah ini berubah jadi tumpukan sampah!"
"Diam lo! Jangan ngebacot terus!!! Pusing kepala gue!!!"
Aku menunjuk ke arah Lady yang tiba-tiba muncul dari balik pintu kamar.
Ia akhirnya memilih mundur tanpa berkata lagi. Hanya mata judesnya yang melirikku tak berkedip.
"Haish! Perempuan gak guna!!!"
Aku keluar dari kamar setelah mengganti pakaian. Mumet otak bila terus-terusan berdiam diri di kamar.
Fikiranku kini hanya tertuju pada Viona.
Setelah seminggu lalu aku menyambangi rumah orangtuanya dalam keadaan mabuk ketika seminggu ditinggal Lady Navisha. Dan terpaksa diusir oleh hansip setempat. Membuatku malu hati dan ingin meminta maaf pada Viona.
...♧♧♧♧♧♧♧...
Ketika kutanya pindah kemana, ternyata tak ada yang tahu. Atau mungkin sengaja ditutupi kepindahannya agar aku tiada lagi mengganggu.
Hhh...
Kucoba mendatangi rumah tante Widya, tantenya Viona. Ternyata rumahnya pun sepi. Penghuninya sedang keluar semua, kata pembantu rumah tangganya.
Tentu saja kondisi ini membuatku frustasi.
Lagi-lagi, aku kembali terperosok kedalam kubangan lumpur kotor yang dalam. Kembali salah jalan, melarikan diri ke botol minuman. Dan mengalihkan masalah dengan mabuk-mabukan.
Pulang ke rumah mama Tasya yang besar, ternyata... seperti ada sesuatu yang berubah.
Lemari jati Belanda asli di ruang tengah milik Mama telah kosong melompong isinya.
__ADS_1
Tas-tas branded bermerek Hermes, Gucci, Dior, Charles and Keith, Chanel sampai Prada raib entah kemana.
Aku kaget meski dalam keadaan mabuk juga.
"Faridaaa... Liliii!!!" Kupanggil satu persatu nama ART-ku.
"I iya, Tuan Muda!"
Ini pertama kalinya aku memanggil secara personal mereka yang biasanya hanya boleh menampakkan diri di kala aku dan Mama keluar rumah.
"Ini! Ini semua kemana? Barang-barang Mamaku! Tas-tas yang biasanya berjejer rapi di lemari ini, kemana?"
"Nona Muda JeLo bilang, Nyonya Besar suruh dilaundry semua, Tuan Muda!"
"Laundry kemana?"
"Kurang tahu, Tuan Muda!"
"Anj*iirrr!!! Shiit!!! Ladyyy...!!!"
Perempuan itu benar-benar jago memanfaatkan momen.
Dasar wanita sialan! Umpatku kasar.
Setelah pakaian-pakaian Mama dia rampok secara nyata ketika masih ada pemiliknya, kini tas-tas Mama pun digondongnya dengan alasan di laundry. Ck ck ck...
Aku yang terhuyung-huyung memasuki kamar tidurku dengan Lady. Langsung merebah di atas ranjang mewahku.
Ternyata perempuan itu tidak ada di rumah. Entah kemana dia! Dasar sundal! Benar sepertinya makian Vio padanya tempo hari!
...❤❤❤BERSAMBUNG❤❤❤...
__ADS_1